QS 013 · Ar-Ra'd 13:1-43 · Makkiyah · 12 menit
Ar-Ra'd: Ayat yang Berbalik Arah Waktu Dipotong
Satu ayat dari surat ini tertempel di dinding sekolah, jadi penutup pidato, dan muncul di poster motivasi: Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dipakai begitu, kalimatnya membangkitkan semangat. Dibaca utuh dengan kalimat sebelum dan sesudahnya, arahnya justru terbalik.
Ayat yang dipakai terbalik
memang memuat kalimat itu: sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Dipakai sendirian, isinya dorongan bekerja keras. Nasib tidak akan berubah kalau orangnya diam saja. Tidak ada yang salah dari nasihat itu, dan itu sebabnya kalimatnya laku.
Lanjutan ayatnya di kalimat berikutnya jarang ikut dibawa: dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Digabung, arah kalimatnya berubah. Ayat itu tidak menjanjikan usaha akan berbuah. Isinya keterangan tentang bagaimana nikmat dicabut: kaum yang tadinya baik keadaannya berubah lebih dulu, sesudah itu pencabutannya datang. Ini kalimat peringatan, dan dipakai sebagai kalimat penyemangat.
Yang berubah duluan, dan yang tidak pernah berubah
Ada beban lain yang muncul kalau ayat itu dipakai sebagai penjelasan nasib. Kaum yang keadaannya buruk berarti belum mengubah dirinya sendiri.
Dipakai ke bawah, kesimpulan itu kejam. Orang miskin di kampung yang tanahnya sudah dijual, yang sekolahnya jauh, dan yang harga panennya ditentukan orang lain, tidak sedang menunggu diberi nasihat supaya lebih rajin.
Kalimat semacam ini paling sering diucapkan dari atas ke bawah, dan hampir tidak pernah dari bawah ke atas. Yang diminta berubah selalu orang yang paling sedikit punya alat untuk mengubah apa pun.
Petir yang punya sasaran
menyebut guruh bertasbih memuji-Nya, begitu juga malaikat karena takut kepada-Nya, lalu Dia melepaskan halilintar dan menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki.
Untuk orang yang belum tahu apa itu beda muatan listrik di awan, ini keterangan yang lengkap dan menakutkan sekaligus. Petir jadi tangan yang memilih.
Yang tersisa dari gambaran itu masih terasa. Sampai sekarang, orang yang tersambar petir atau rumahnya terbakar sesekali masih dibicarakan tetangganya dengan nada mencari sebab moral, seolah kejadiannya punya alamat. Kebiasaan itu tidak lahir dari ayat ini sendirian, tapi ayat ini termasuk yang menghidupinya.
Tanda yang selalu bisa ditunda
merekam permintaannya: mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu tanda dari Tuhannya? Jawabannya bukan tanda, melainkan keterangan bahwa tugas nabinya cuma memberi peringatan.
melangkah lebih jauh dan menyebutkan sendiri tanda-tanda yang tidak diberikan: seandainya ada bacaan yang bisa menggerakkan gunung, membelah bumi, atau membuat orang mati berbicara, tetap saja urusannya milik Allah.
Susunan ini bikin permintaan bukti tidak pernah bisa dijawab, dan sekaligus tidak pernah bisa dianggap sah. Yang meminta ditempatkan sebagai orang yang tidak paham bahwa tanda bukan urusannya, padahal yang lebih dulu menawarkan tanda-tanda alam sebagai bukti justru suratnya sendiri di ayat-ayat pembuka.
Yang dihapus dan yang ditetapkan
memuat kalimat pendek yang akibatnya panjang: Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya ada Ummul Kitab.
Bagi tafsir, kalimat itu jadi salah satu pintu masuk untuk menerangkan , doa yang mengubah takdir, dan catatan yang bisa direvisi.
Bagi pembaca yang ingin memeriksa, tidak ada yang bisa dipegang. Kalau isi catatannya bisa diganti dan yang bisa membacanya cuma satu pihak, tidak ada keadaan di dunia yang bisa dipakai untuk menguji apakah keterangan itu benar. Yang tersisa cuma keyakinan, dan keyakinan bukan hal yang sama dengan bukti.
Kalimat yang jalan sendiri
Ar-Ra'd tidak setebal surat-surat sebelumnya dan jarang jadi bahan perdebatan. Yang membuatnya penting justru satu kalimat di ayat kesebelas, yang sudah lama berjalan sendiri, lepas dari surat tempat asalnya.
Kalimat itu sekarang lebih sering muncul di tempat yang tidak ada hubungannya dengan hukuman kaum. Sudah jadi milik orang banyak, dipakai untuk menyemangati orang yang mau ujian dan orang yang mau buka usaha, dan susah sekali dikembalikan ke tempat asalnya. Yang begini tidak bisa diperbaiki oleh penafsir mana pun, karena sumbernya bukan tafsir, melainkan kalimatnya sendiri.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.