← Bedah Surat

QS 044  ·  Ad-Dukhan 44:1-59  ·  Makkiyah  ·  12 menit

Ad-Dukhan: Malam Terpenting yang Tidak Diberi Tanggal

Surat ini menyebut seluruh kitabnya diturunkan pada satu malam yang diberkahi. Sepuluh hari terakhir Ramadan di sini dipakai untuk mengejar malam itu: masjid penuh orang beritikaf, lampu menyala sampai subuh, dan orang saling bertanya jatuhnya malam ke berapa. Yang tidak pernah bisa dijawab siapa pun, malamnya yang mana.

Malam yang tidak diberi tanggal

menyatakannya: sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami adalah pemberi peringatan.

melanjutkan: pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.

Yang tidak disebut di mana pun, malam yang mana. Al-Qadr menyebutnya lailatul qadar dan menyatakan nilainya lebih baik dari seribu bulan, tapi juga tidak menyebut tanggalnya.

Riwayat menyempitkannya ke sepuluh malam terakhir Ramadan, lalu ke malam-malam ganjil, lalu sebagian menyebut malam kedua puluh tujuh.

Penyempitan itu bertingkat-tingkat, dan tiap tingkatnya datang dari luar Al-Qur'an.

Mengejar sesuatu yang sengaja disembunyikan

Cara orang menanggapi ketidakpastian itu justru menarik. Karena malamnya tidak diketahui, yang dikerjakan menghidupkan semua malam yang mungkin.

Di sini bentuknya kelihatan tiap tahun. Masjid ramai sesudah tanggal dua puluh, orang beritikaf menginap, anak-anak ikut tidur di karpet, dan tarawih yang tadinya menyusut kembali penuh.

Kalau tanggalnya disebutkan, hampir pasti yang terjadi sebaliknya: satu malam padat, sisanya kosong.

Jadi ketidakjelasan di sini berfungsi seperti rancangan, dan itu diakui terbuka oleh penafsir sejak dulu. Alasan itu sendiri tidak ada di ayatnya. Yang ada di ayatnya sebuah malam penting tanpa tanggal, dan yang menerangkan gunanya orang-orang sesudahnya.

Asap yang dijanjikan

memberi nama surat ini: maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi manusia, inilah azab yang pedih.

Penafsir terbelah sejak awal soal ini. Sebagian menganggapnya sudah terjadi, yaitu paceklik hebat yang menimpa Mekah sampai orang melihat kabut karena lapar. Sebagian lain menganggapnya tanda kiamat yang belum datang.

Dua bacaan itu punya akibat yang jauh berbeda. Kalau sudah terjadi, ini catatan sejarah. Kalau belum, ini ramalan yang masih menunggu.

Dan selama dua bacaan itu sama-sama tersedia, tidak ada keadaan yang bisa membatalkannya. Kalau tidak terjadi apa-apa, berarti belum waktunya. Kalau terjadi kabut besar di mana pun, bisa disebut penggenapannya.

Diangkat, lalu dijanjikan kembali

merekam permintaan orang yang sedang tertimpa: ya Tuhan kami, lenyapkanlah azab ini dari kami, sesungguhnya kami akan beriman.

menjawabnya: sesungguhnya Kami akan melenyapkan azab itu sedikit saja, karena sesungguhnya kalian akan kembali kepada kekafiran.

Jadi permintaannya dikabulkan sebagian, dan sekaligus dinyatakan bahwa janji mereka tidak akan ditepati.

Susunan ini muncul juga di surat lain, dan bentuknya selalu sama: tobat yang lahir dari kesusahan dinilai lebih dulu sebagai tidak sungguh-sungguh. Yang tersisa buat orang yang memang berubah karena tertimpa musibah cuma satu, tidak ada cara membuktikan bahwa perubahannya bukan yang sementara.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria