← Bedah Surat

QS 101  ·  Al-Qari'ah 101:1-11  ·  Makkiyah  ·  8 menit

Al-Qari'ah: Bertanya Dua Kali, Dijawab dengan Gambaran

Surat ini bertanya dua kali apa itu al-qariah, dan dua kali menjawabnya bukan dengan keterangan melainkan dengan gambaran. Manusia seperti anai-anai yang bertebaran, gunung seperti bulu yang dihambur. Sebelas ayat, dan tidak ada satu pun kalimat yang menerangkan apa yang sedang dibicarakan.

Bertanya dua kali, dijawab dengan gambaran

membuka dengan pertanyaan berlapis: hari kiamat, apakah hari kiamat itu, dan tahukah engkau apakah hari kiamat itu.

menjawabnya: pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.

mengulang pertanyaannya untuk hal lain: dan tahukah engkau apakah hawiyah itu, yaitu api yang sangat panas.

Dua kali pertanyaan diajukan, dan dua kali jawabannya berupa perbandingan atau nama lain. Tidak ada satu kalimat pun yang menerangkan apa yang terjadi, kapan, atau bagaimana.

Cara menjawab semacam ini punya kekuatan yang tidak dimiliki keterangan. Gambaran anai-anai yang bertebaran menempel di ingatan orang yang mendengarnya sekali, sedangkan keterangan tentang urutan kejadian tidak. Ongkosnya, yang tersisa di kepala pendengar gambaran, dan gambaran tidak bisa diperiksa benar atau salahnya. Bagian ini termasuk yang paling gampang dihafal anak di sini dan paling jarang jadi bahan pembicaraan tentang isinya.

Timbangan yang berat dan yang ringan

memakai gambaran pasar: adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan, dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya hawiyah.

Kata yang dipakai mawazin, yaitu timbangan, dan dari kata ini lahir seluruh gambaran tentang mizan yang diajarkan di pelajaran akidah madrasah sebagai bagian dari beriman kepada hari akhir.

Yang tidak disebutkan bagaimana perbuatan ditimbang. Tidak ada satuan, tidak ada cara mengubah perbuatan jadi bobot, dan tidak ada keterangan apakah satu perbuatan berat bisa mengimbangi banyak yang ringan.

Kekosongan itu diisi riwayat dan kitab belakangan dengan sangat rinci, termasuk keterangan tentang lembaran amal yang ditaruh di satu sisi dan satu kartu bertulisan syahadat yang mengalahkan seluruhnya. Rincian semacam itu tidak ada di surat ini, dan tetap diajarkan seolah bagian darinya.

Ibunya hawiyah

memuat kalimat yang bunyi harfiahnya aneh: maka ibunya adalah hawiyah.

Penafsir menempuh dua jalan. Yang pertama membaca ibu di situ sebagai tempat kembali atau tempat berlindung, sebab kata ummu dipakai juga untuk pangkal sesuatu. Yang kedua membacanya sebagai bentuk kutukan Arab lama, yaitu doa supaya ibunya kehilangan anaknya.

Terjemahan yang beredar di sini memilih jalan pertama dan menuliskannya sebagai tempat kembalinya. Pilihan itu menghaluskan bunyinya, dan pembaca terjemahan tidak pernah tahu bahwa yang tertulis di bahasa aslinya kata ibu.

Seperti anai-anai yang bertebaran

memakai satu perbandingan: pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran.

Kata farasy dipakai untuk serangga bersayap yang berkerumun di sekitar api, dan terjemahan di sini memilih anai-anai, yaitu rayap bersayap yang keluar berbondong-bondong sesudah hujan lalu mati di lantai. Pilihan kata itu memindahkan gambarannya ke sesuatu yang benar-benar dilihat orang di kampung tiap musim hujan, dan perpindahan semacam itu lebih kena daripada terjemahan yang lebih harfiah.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria