← Bedah Surat

QS 082  ·  Al-Infitar 82:1-19  ·  Makkiyah  ·  9 menit

Al-Infitar: Dua Pencatat di Bahu Tiap Orang

Anak sekolah di sini menghafal daftar sepuluh malaikat beserta tugasnya, dan dua nama di daftar itu paling gampang diingat karena berpasangan: Raqib dan Atid, pencatat amal baik dan amal buruk. Surat ini yang memasang dua pencatat itu di bahu tiap orang. Namanya sendiri datang dari tempat lain.

Dua pencatat di bahu

menyebut tugas mereka: padahal sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi pekerjaan kalian, yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Yang tidak ada di ayat ini nama mereka. Nama Raqib dan Atid datang dari , dan di sana pun keduanya bukan nama melainkan sifat, yaitu pengawas yang selalu siap. Yang mengubahnya jadi nama diri kebiasaan mengajar belakangan, dan di sini kebiasaan itu masuk ke buku pelajaran agama sekolah dasar tanpa catatan apa pun.

Susunannya menghasilkan bentuk pengawasan yang tidak bisa dihindari. Tidak ada tempat yang luput, tidak ada waktu yang kosong, dan tidak ada perbuatan yang terlalu kecil untuk masuk catatan.

Sebagai penjaga perilaku, bentuk ini mempan, dan paling mempan pada anak. Yang lebih pantas ditanyakan akibatnya pada perbuatan baik. Perbuatan yang dikerjakan karena selalu ada yang mencatat dan perbuatan yang dikerjakan karena orang lain memerlukannya menghasilkan hal yang sama di luar dan hal yang berbeda di dalam.

Perbedaan itu bukan urusan yang mengambang. Orang yang menolong karena dicatat akan berhenti menolong di tempat yang dia yakin catatannya sudah cukup, dan orang yang menolong karena ada yang memerlukan tidak punya titik berhenti semacam itu. sebetulnya menyebut bentuk yang kedua, yaitu memberi tanpa mengharap balasan, dan dua bentuk itu tidak pernah dipertemukan di satu tempat.

Apa yang memperdayakan

mengajukan pertanyaan langsung: hai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang.

Bentuk pertanyaannya jarang dipakai di bagian lain. Pertanyaannya apa yang membuatmu berani, bukan kenapa kamu ingkar, dan sebutan yang dipakai untuk yang diingkari justru Yang Maha Pemurah.

Sebagian penafsir lama membaca sebutan itu sebagai bagian dari pertanyaannya sendiri, yaitu kemurahan yang justru membuat orang merasa aman. Bacaan itu bagus dan bisa diperiksa siapa saja: hukuman yang selalu ditunda memang cenderung berhenti dianggap ada.

Yang tidak dilanjutkan pertanyaannya. Sesudah bertanya apa yang memperdayakan, ayat berikutnya tidak menerima satu pun jawaban dan langsung berpindah ke keterangan tentang pencatat dan hari pembalasan. Pertanyaan yang bagus dipakai sebagai pembuka, bukan sebagai pintu.

Dalam bentuk apa Dia kehendaki

menutup rangkaian itu: dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.

Dibaca sebagai penghiburan, kalimat ini menerima semua bentuk tubuh sebagai yang memang dikehendaki, dan itu bacaan yang bisa menolong orang.

Dibaca sebagai keterangan sebab, kalimat ini menyulitkan. Tubuh yang lahir tanpa sebagian anggotanya, atau dengan penyakit yang menyakitkan sejak hari pertama, ikut masuk ke dalam kalimat yang sama, dan yang tersisa buat orangnya keterangan bahwa keadaan itu memang dikehendaki. Susunan itu menutup pertanyaan tanpa menjawabnya, dan bedanya baru terasa oleh orang yang benar-benar menanggungnya.

Tidak ada yang bisa menolong siapa pun

menutup surat: pada hari ketika seorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain, dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.

Kalimat itu berdiri berlawanan dengan sebagian besar praktik yang berjalan di sini. Tahlilan untuk orang yang sudah meninggal, kiriman pahala bacaan, haji badal, dan doa anak saleh semuanya bertumpu pada anggapan bahwa satu orang bisa menolong yang lain sesudah mati.

Ayatnya tidak menutup jarak itu. Riwayat dan penafsiran yang menutupnya. Sebagian ulama membatasi ayat ini pada pertolongan tanpa izin, dan sebagian lagi menolak seluruh praktik kiriman pahala justru dengan bersandar pada ayat semacam ini. Perselisihannya masih hidup di sini dan bisa didengar tiap kali tahlilan tujuh hari jadi bahan perdebatan antar kelompok.

Kubur yang dibongkar

menyebut satu tanda dengan kata kerja yang keras: dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.

Gambaran kubur yang isinya dikeluarkan menuntut satu hal yang tidak selalu disadari pembacanya, yaitu jasad yang masih ada di dalamnya. Untuk orang yang mati terbakar, tenggelam, atau hilang di laut, gambarannya tidak berlaku begitu saja, dan penafsir sejak lama mengisi kekosongan itu dengan keterangan bahwa penyusunan kembali tidak memerlukan sisa jasad. Keterangan itu memperbaiki masalahnya dan sekaligus meninggalkan kata dibongkar tanpa pekerjaan.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria