QS 037 · As-Saffat 37:1-182 · Makkiyah · 13 menit
As-Saffat: Anak yang Tidak Disebut Namanya
Peristiwa yang diperingati jutaan orang tiap tahun dengan menyembelih sapi dan kambing diceritakan di surat ini, dan anak yang hampir disembelih itu tidak disebut namanya. Bukan sekali pun. Yang tertulis cuma seorang anak yang sabar, dan sesudah adegannya selesai barulah muncul kabar gembira tentang Ishak.
Anak tanpa nama
menyebut kabar gembira tentang seorang anak yang sabar. melanjutkan: waktu anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, hai anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, bagaimana pendapatmu?
Anak itu menjawab, kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.
Sesudah adegannya selesai, tebusannya turun, dan Ibrahim dipuji, barulah menyebut: dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh.
Urutan itu yang jadi seluruh perdebatannya. Kalau kabar tentang Ishak baru datang sesudahnya, anak yang tadi kemungkinan besar bukan Ishak. Kalau begitu, siapa? Tafsir paling awal justru terbelah, dan sebagian sahabat serta tabiin menyebut Ishak. Riwayat lengkapnya dibongkar di Siapa yang Hampir Disembelih Ibrahim?.
Perintah yang datang lewat mimpi
Yang jadi dasar tindakan di cerita ini mimpi, dan itu disebut terang-terangan oleh Ibrahim sendiri.
Untuk cerita tentang kepatuhan, ini justru pilihan yang berani. Mimpi bukan bukti, tidak bisa diperiksa orang lain, dan tidak ada saksinya.
Dan di situ letak persoalan yang tidak pernah selesai. Kalau perintah menyembelih anak sendiri bisa datang lewat mimpi dan yang benar adalah menjalankannya, tidak ada cara membedakan Ibrahim dari orang yang bermimpi hal serupa hari ini.
Ceritanya sendiri menyediakan satu pembeda: tangannya dihentikan. Tapi pembeda itu baru muncul sesudah pisaunya diangkat, dan tidak menolong siapa pun yang harus memutuskan sebelum sampai ke situ.
Yang ditambahkan orang sesudahnya
Kalau seluruh ayatnya dihitung, yang disebut cuma ini: mimpi, percakapan bapak dan anak, keduanya berserah, anaknya dibaringkan, lalu dipanggil dan diberi tebusan berupa sembelihan yang besar.
Yang tidak ada di ayatnya banyak sekali: lokasi kejadiannya, umur anaknya, pisau yang tumpul, setan yang mengganggu di tiga tempat, dan lemparan batu yang jadi rangkaian ibadah haji.
Semua tambahan itu datang dari riwayat dan dari kebiasaan yang lebih tua. Tambahannya tidak lantas dituduh karangan, sebab riwayat memang punya kedudukannya sendiri. Yang layak dipisahkan cuma dua lapisnya: mana yang tertulis, dan mana yang menempel kemudian.
Dan yang menempel itu yang paling terasa di sini. Menjelang hari raya, yang diurus panitia masjid bukan tafsir ayatnya, melainkan harga sapi, jadwal penyembelihan, dan pembagian kantong daging ke rumah-rumah.
Bintang yang jadi peluru
kembali ke gambaran langit yang sudah muncul di Al-Hijr: langit terdekat dihias dengan bintang-bintang, dan dijaga dari setiap setan yang durhaka. Setan tidak bisa mendengarkan pembicaraan para malaikat, dan yang mencuri dengar dikejar suluh api yang cemerlang.
Gambaran ini muncul berulang di beberapa surat, dan tiap kali bentuknya sama. Bukan kiasan sekali lewat, melainkan keterangan tetap tentang bagaimana langit disusun dan dijaga.
Untuk orang abad ketujuh yang melihat bintang jatuh hampir tiap malam cerah, keterangan itu masuk akal dan lengkap. Yang tidak tersedia buat mereka cuma satu: cara mengetahui bahwa benda yang jatuh itu batu.
Surga yang mengintip ke bawah
memuat adegan yang jarang dibicarakan. Penghuni surga saling bertanya, lalu salah satunya bercerita bahwa dia dulu punya teman yang menertawakan gagasan kebangkitan.
Lalu dia melihat ke bawah, dan menemukan temannya di tengah neraka. Dia berkata: demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku.
Susunan ini menerangkan sesuatu tentang bentuk surga yang ditawarkan. Kenikmatannya tidak berdiri sendiri; sebagiannya datang dari mengetahui nasib orang lain, dan dari kelegaan bahwa dirinya tidak ikut ke sana.
Buat pembaca yang temannya, bapaknya, atau anaknya berbeda keyakinan, adegan itu tidak menghibur sama sekali. Tidak ada yang dipertemukan kembali di situ. Gambarannya tempat menonton dari jauh.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.