← Bedah Surat

QS 031  ·  Luqman 31:1-34  ·  Makkiyah  ·  11 menit

Luqman: Nasihat Tanpa Ancaman

Satu-satunya surat yang dinamai dari orang yang bukan nabi, bukan raja, dan bukan malaikat. Luqman cuma disebut diberi hikmah, dan yang dikerjakannya di surat ini menasihati anaknya. Nama itu sekarang menempel di ratusan sekolah dan pesantren di sini, dan nasihatnya jadi bahan pokok ceramah tentang mendidik anak.

Orang bijak yang sudah punya nama

memperkenalkannya dengan hemat: Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukurlah kepada Allah.

Tidak ada keterangan dia nabi, tidak ada kaum yang diutus kepadanya, dan tidak ada mukjizat. Yang disebut cuma hikmah.

Untuk kitab yang isinya sebagian besar utusan dan kaumnya, satu surat yang dinamai orang biasa itu pengecualian yang mencolok.

Namanya sendiri sudah beredar di Arab sebelum surat ini turun. Luqman muncul dalam syair pra-Islam sebagai tokoh bijak berumur panjang, dan sebagian ucapannya sudah jadi peribahasa yang dikenal orang. Asal-usul tokoh itu ditelusuri di Luqman Sebelum Al-Qur'an.

Surat ini tidak memperkenalkan orang baru. Tokoh yang sudah dikenal diambil, lalu diberi isi yang baru. Cara begitu bukan hal aneh; hampir semua tradisi mengerjakannya. Tapi tokohnya datang dari luar, dan yang berasal dari dalam isi nasihatnya.

Nasihat yang hampir semuanya berlaku umum

memuat daftar yang pendek: dirikan salat, suruh yang benar dan cegah yang mungkar, bersabar atas apa yang menimpamu, jangan memalingkan muka dari orang karena sombong, jangan berjalan di bumi dengan angkuh, sederhanakan caramu berjalan, dan lunakkan suaramu.

Kalimat penutupnya jadi peribahasa sampai sekarang: sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Dari tujuh butir itu, cuma dua yang butuh agama untuk dipahami. Sisanya bisa disetujui orang mana pun: jangan sombong, jangan berisik, jangan memandang rendah orang, dan tahan diri waktu ditimpa susah.

Bagian ini yang paling banyak dipakai di sini, dan biasanya diberi judul yang diambil dari sapaan Luqman kepada anaknya. Sapaan itu sendiri punya riwayat tersendiri, dibahas di Ya Bunayya.

Hormat yang berhenti di satu titik

memberi perintah yang berat kepada anak: bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, dan menyebut ibunya mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.

langsung memberi batasnya: kalau keduanya memaksamu mempersekutukan Aku, jangan patuhi keduanya, tapi tetap pergauli keduanya di dunia dengan baik.

Susunannya seimbang dan sebenarnya lebih halus daripada yang biasa dikutip. Yang ditolak isi perintahnya, sedangkan hubungannya tetap dijaga.

Di keluarga yang tidak seagama, kalimat itu justru sering dipakai ke arah sebaliknya, yaitu untuk membenarkan memutus hubungan. Yang diambil bagian jangan patuhi, dan bagian tetap pergauli dengan baik ditinggal.

Suara yang melalaikan

menyebut orang yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

Kalimat itu tidak menyebut musik sama sekali. Yang disebut lahwal hadits, dan artinya di kamus perkataan yang melalaikan, tanpa keterangan lebih lanjut.

Dari satu kalimat kabur itu lahir seluruh perdebatan tentang musik yang belum selesai sampai sekarang, termasuk di sini: rebana boleh, gitar diperdebatkan, dan konser jadi bahan fatwa berkali-kali.

Yang tidak bisa diselesaikan siapa pun, ayatnya tidak menyediakan daftar. Yang mengisi daftarnya selalu penafsir, dan isinya berbeda-beda menurut zaman dan tempat.

Lima hal yang ditutup di ayat terakhir

menutup surat dengan daftar: sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok, dan di bumi mana dia akan mati.

Tiga dari lima perkara itu sekarang bukan lagi hal yang tidak diketahui siapa pun. Turunnya hujan diramalkan tiap hari dan hasilnya cukup bisa dipegang, dan isi rahim bisa dilihat lewat layar sejak usia belasan minggu, termasuk jenis kelaminnya.

Penafsir menyelesaikan ini dengan membedakan mengetahui secara pasti dan menduga berdasarkan tanda, dan pembedaan itu masuk akal. Ramalan cuaca memang bukan kepastian, dan hasil pemeriksaan pun bisa keliru.

Jarak antara dua bacaan itu tetap tidak kecil. Selama berabad-abad ayat ini dipakai untuk menyatakan bahwa isi rahim mustahil diketahui manusia, dan pembedaannya baru dibutuhkan sesudah alatnya ada.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria