← Bedah Surat

QS 085  ·  Al-Buruj 85:1-22  ·  Makkiyah  ·  10 menit

Al-Buruj: Allah yang Menyaksikan Pembantaian Tanpa Mencegah dan Dilema Euthyphro

Al-Buruj mengutuk orang-orang yang membakar orang beriman dalam parit api, kisah yang dikaitkan secara spekulatif dengan peristiwa di Najran, Yaman, tanpa bukti historis yang kuat. Surat ini kemudian menyatakan bahwa Allah menyaksikan semua itu. Allah yang menyaksikan pembantaian tapi tidak mencegahnya, kemudian menjanjikan azab bagi pelakunya di akhirat, mengangkat pertanyaan tentang relevansi pengawasan ilahi jika tidak disertai intervensi.

Peta Masalah

Surat ini memuat kisah parit yang dikontekstualisasikan secara spekulatif tanpa bukti historis memadai, problem teologis tentang Allah yang menyaksikan tapi tidak mencegah pembantaian, kontradiksi antara sifat Allah yang mahakeras dan mahapengampun dalam teks yang sama, klaim 'mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki' yang menimbulkan masalah etis tentang kesewenang-wenangan, generalisasi bahwa kafir selalu mendustakan, dan klaim Lauh Mahfuzh yang tidak bisa diverifikasi.

Kisah parit yang historisnya tidak jelas

mengutuk orang-orang yang membuat parit berisi api dan membakar orang-orang beriman di dalamnya sambil duduk menyaksikan. Catatan kaki tafsir mengidentifikasi ini dengan peristiwa di Najran, Yaman, di mana penguasa Yahudi Dzu Nuwas membakar orang-orang Kristen pada sekitar abad keenam.

Identifikasi ini sendiri adalah penambahan tafsir, bukan yang dinyatakan teks. Teks hanya menyebut 'orang-orang yang membuat parit' tanpa nama, tempat, atau waktu. Ketika tafsir mengisi kekosongan ini dengan narasi spesifik, para pembesar Najran di Yaman, mereka melakukan interpretasi historis yang bisa benar atau salah, dan sumber-sumber berbeda memberikan identifikasi yang berbeda.

Yang lebih menarik adalah bahwa jika kisah ini memang merujuk pada pembantaian orang Kristen oleh penguasa Yahudi, surat ini dikutip untuk membangun solidaritas dengan korban persekusi agama, tapi kemudian surat yang sama mengancam orang yang 'mendustakan' dengan azab yang sama kerasnya. Konsistensi dalam prinsip anti-persekusi tidak diterapkan secara universal.

Allah yang menyaksikan tapi tidak mencegah

menyatakan bahwa Allah menyaksikan segala sesuatu. Konteksnya adalah gambaran orang-orang beriman yang dibakar dalam parit. Allah Maha Menyaksikan, dan yang disaksikannya adalah pembantaian orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Ini adalah versi dari problem kejahatan yang sangat konkret: bukan kejahatan abstrak yang mengangkat pertanyaan tentang keberadaan Allah, melainkan narasi di mana Allah secara eksplisit disebut menyaksikan kejahatan yang dilakukan terhadap para pengikutnya. Respons yang diberikan teks adalah janji azab bagi pelaku di akhirat.

Tapi ancaman hukuman posthumous tidak mengembalikan orang-orang yang sudah terbakar. Problem pengawasan tanpa intervensi, terutama dalam konteks di mana intervensi adalah sesuatu yang sepenuhnya dalam kapasitas entitas yang diklaim mahakuasa, adalah persoalan teologis yang serius yang tidak diselesaikan oleh janji pembalasan di akhirat.

Mahakeras sekaligus mahapengampun

menyatakan secara berurutan: 'Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras', lalu 'Sungguh, Dialah yang memulai penciptaan dan menghidupkannya kembali', lalu 'Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih.'

Tiga pernyataan ini berdiri berdampingan tanpa penjelasan tentang bagaimana ketiganya direkonsiliasi. Allah berazab sangat keras. Allah maha pengampun dan maha pengasih. Bagi siapa ia keras, bagi siapa ia pengampun, dan atas dasar apa perbedaan itu ditentukan, tidak dijelaskan dalam surat ini.

Kontradiksi antara sifat-sifat Allah adalah tema yang berulang di seluruh Al-Qur'an. Tradisi teologi Islam mengembangkan berbagai framework untuk merekonsiliasikannya, tapi rekonsialiasi itu adalah produk refleksi teologis berabad-abad setelah teks, bukan yang dihadirkan oleh teks itu sendiri. Teks ini meletakkan dua sifat yang bertentangan berdampingan tanpa menjembataninya.

Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki

menyatakan: 'Mahakuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.' Ini adalah pernyataan tentang kekuasaan tanpa batas, Allah tidak dibatasi oleh apa pun, termasuk prinsip moral.

Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan yang telah diperdebatkan filsuf sejak Plato dalam dialog Euthyphro: apakah sesuatu baik karena Allah menghendakinya, atau apakah Allah menghendakinya karena baik? Jika Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki tanpa batasan, maka tidak ada standar kebaikan yang independen dari kehendak Allah, kebaikan adalah apapun yang Allah lakukan.

Konsekuensinya: jika Allah memutuskan bahwa menyiksa orang baik adalah benar, maka itu menjadi benar. Sistem moral yang bergantung sepenuhnya pada kehendak entitas tunggal tanpa standar eksternal bukanlah sistem moral, ia adalah positivisme kekuasaan. 'Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki' bukan sifat yang bisa berdampingan dengan sifat maha adil tanpa penjelasan tentang bagaimana kehendak itu dibatasi oleh keadilan.

Kafir yang selalu mendustakan dan Lauh Mahfuzh

menyatakan: 'Memang orang-orang kafir selalu mendustakan.' Generalisasi ini menyamaratakan semua non-percaya ke dalam satu karakteristik, selalu mendustakan, yang tidak memberikan ruang untuk keragaman motivasi.

Seseorang bisa tidak percaya pada klaim Islam karena lahir dalam tradisi yang berbeda, karena pertimbangan epistemik yang jujur, karena tidak pernah terpapar dengan argumen yang meyakinkan, atau karena berbagai alasan lain yang tidak ada hubungannya dengan 'mendustakan'. Tapi teks ini tidak membedakan, semua kafir 'selalu mendustakan.'

Surat ini ditutup dengan klaim bahwa Al-Qur'an tersimpan dalam Lauh Mahfuzh, papan yang terjaga. Ini adalah klaim tentang asal-usul Al-Qur'an yang sepenuhnya tidak bisa diverifikasi: sebuah teks surgawi yang ada sebelum penciptaan dan tidak bisa diakses oleh siapapun kecuali Allah dan malaikat yang ditunjuk. Klaim ini berfungsi untuk menempatkan Al-Qur'an di luar jangkauan kritik historis-tekstual, tapi ketidakterjangkauan bukan bukti kebenaran.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria