QS 085 · Al-Buruj 85:1-22 · Makkiyah · 10 menit
Al-Buruj: Dua Kata yang Menopang Klaim Terbesar
Dua kata di ayat terakhir surat ini menopang klaim terbesar yang dipegang tentang Al-Qur'an: bahwa isinya tersimpan utuh dan tidak bisa berubah. Lauh mahfuz disebut sekali saja di seluruh kitab, di sini, dan bacaan katanya sendiri ternyata tidak tunggal.
Lauh mahfuz
menutup surat dengan dua baris: bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur'an yang mulia, yang tersimpan dalam lauh mahfuz.
Dua kata itu jadi dasar salah satu ajaran yang paling banyak dipakai: bahwa Al-Qur'an punya salinan induk di sisi Allah, bahwa salinan itu terjaga, dan karena itu yang ada di tangan manusia ikut terjaga.
Langkah terakhir yang tidak disediakan ayatnya. Yang dinyatakan terjaga sesuatu yang berada di sisi Allah. Keterjagaan naskah yang dicetak, disalin, dan dibaca manusia adalah kesimpulan tambahan, dan kesimpulan itu memerlukan satu langkah yang tidak ada di dua baris ini.
Dan di kata mahfuz sendiri ada perbedaan bacaan yang tercatat rapi dalam ilmu qiraat. Sebagian besar imam membacanya berbaris bawah, sehingga yang terjaga lauhnya. Nafi membacanya berbaris depan, sehingga yang terjaga Al-Qur'annya. Dua bacaan itu sama-sama diakui sah, dan artinya berbeda.
Yang muncul dari situ keadaan yang tidak nyaman buat klaim yang bersandar padanya. Ayat yang dipakai membuktikan bahwa naskahnya tidak pernah berbeda ternyata sendiri punya dua bacaan yang menghasilkan dua arti. Di sini kalimat tentang lauh mahfuz diajarkan di pelajaran akidah sejak madrasah ibtidaiyah sebagai bukti bahwa yang dipegang murid tidak mungkin berbeda dengan yang di tangan siapa pun, dan perbedaan bacaan tadi tidak pernah ikut disebutkan. Perkara ini dibahas lebih lengkap di Preservasi Al-Qur'an.
Parit yang memang ada
menceritakan pembantaian: binasa dan terkutuklah orang-orang yang membuat parit, yang berapi dan dinyalakan dengan kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman, dan mereka tidak menyiksa orang beriman itu melainkan karena orang-orang itu beriman kepada Allah.
Berbeda dari kaum Ad dan Samud, cerita ini punya sandaran di luar Al-Qur'an. Sekitar tahun lima ratus dua puluhan Masehi, seorang raja Himyar di Yaman selatan membantai penduduk Kristen Najran, dan sebagian dibakar. Peristiwanya tercatat di surat Simeon dari Beth Arsham dalam bahasa Suryani, di sumber Yunani, dan di prasasti Arab Selatan yang ditulis pihak penyerangnya sendiri.
Jadi bagian ini termasuk yang paling bisa dipertahankan di seluruh Al-Qur'an sebagai rujukan sejarah, dan itu perlu dikatakan dengan jelas.
Yang menarik justru cara Al-Qur'an menyebut korbannya. Mereka disebut orang-orang beriman tanpa penambahan apa-apa, padahal yang dibantai orang Kristen, dan yang membantai penguasa yang memeluk agama Yahudi.
Penafsir belakangan menutup jarak itu dengan menyebut korbannya pengikut Isa yang masih lurus sebelum ajarannya berubah. Penjelasan itu diperlukan karena kalimat aslinya justru tidak membedakan, dan tidak membedakannya itu yang membuat bagian ini lebih lapang daripada penjelasannya.
Yang menyiksa lalu tidak bertobat
menyebut hukumannya: sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang beriman laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan azab pembakaran.
Tiga kata di tengahnya mudah terlewat: kemudian mereka tidak bertobat. Jadi pintunya tidak ditutup. Orang yang membakar orang lain hidup-hidup masih disebutkan kemungkinan bertobatnya.
Susunan itu berbeda dari beberapa surat lain yang menyatakan satu golongan tidak akan diampuni sekalipun dimintakan. Di sini pelaku kejahatan yang paling berat pun masih punya jalan, dan bagi pembaca yang memeriksa kitab ini dari luar, perbedaan antara dua susunan itu lebih menerangkan daripada isi masing-masing. Ayat ini jarang dibawa ke mimbar, dan yang lebih sering dibawakan justru ayat-ayat yang menutup pintunya rapat.
Berbuat apa yang dikehendaki
memuat kalimat pendek yang isinya menentukan: Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
Kalimat itu jadi salah satu tumpuan pandangan bahwa kebaikan dan keburukan ditentukan oleh kehendak, bukan oleh ukuran yang berdiri sendiri di luar kehendak itu. Perselisihan tentang ini sudah tua sekali dan tidak selesai.
Akibatnya bisa disebut tanpa perlu memihak. Kalau baik berarti yang dikehendaki, maka pertanyaan apakah sesuatu yang dikehendaki itu baik berhenti punya isi. Dan sepanjang surat ini, ukuran yang dipakai menilai pembuat parit justru ukuran yang bisa dimengerti siapa saja tanpa perlu bertanya apa yang dikehendaki, yaitu bahwa membakar orang karena keyakinannya itu keji.
Langit yang mempunyai gugusan bintang
memberi nama surat ini: demi langit yang mempunyai gugusan bintang.
Kata al-buruj dipakai untuk gugusan bintang, dan pembagian langit ke dalam dua belas gugusan sudah baku di Babilonia lalu Yunani berabad-abad sebelumnya, dan dipakai untuk perbintangan. Al-Qur'an memakai istilah yang sudah ada tanpa mengambil alih ilmu ramalannya, dan penafsir sesudahnya justru harus bekerja keras memisahkan kata itu dari pemakaiannya yang lama.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.