← Bedah Surat

QS 021  ·  Al-Anbiya 21:1-112  ·  Makkiyah  ·  14 menit

Al-Anbiya': Parade Nabi, Kosmologi Lama, dan Keadilan yang Tidak Ditanya

Al-Anbiya' berarti para nabi, dan surat ini memang seperti parade ringkas para nabi: Ibrahim, Luth, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yunus, Zakariya, Maryam. Di sela-selanya ada kosmologi, malaikat, kiamat, Ya'juj-Ma'juj, dan neraka. Ia seperti ringkasan besar argumen Quran: sejarah, alam, dan akhirat harus menunjuk ke tauhid.

Peta Masalah

Surat ini memuat kedekatan hari perhitungan, tuduhan terhadap Quran, pembinasaan kota, Allah yang tidak ditanya, semua rasul laki-laki, langit-bumi yang dulu menyatu, gunung sebagai penstabil, langit sebagai atap, kisah Ibrahim menghancurkan berhala, parade nabi, Ya'juj-Ma'juj, neraka sebagai bahan bakar, bumi diwarisi orang saleh, dan Muhammad sebagai rahmat. Fokusnya ada pada kosmologi lama, hukuman kolektif, dan otoritas ilahi yang berada di luar akuntabilitas.

Hari perhitungan yang selalu dekat

membuka dengan perhitungan manusia yang semakin dekat, sementara mereka lalai. Kalimat seperti ini kuat secara psikologis: ia menciptakan urgensi.

Masalahnya, urgensi eskatologis semacam ini telah hidup berabad-abad. Jika hari itu selalu dekat tetapi tidak pernah tiba dalam skala sejarah manusia, ia lebih berfungsi sebagai tekanan batin daripada informasi waktu.

Ketika kritik muncul, membingkai pendengar sebagai lalai, bermain-main, atau menyebut Quran mimpi kacau. Kritik dicatat, tetapi tidak dijawab secara setara.

Tuhan yang tidak ditanya

memberi argumen tauhid dan menyatakan bahwa Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, sementara manusia akan ditanya. Ini ayat yang sangat menentukan secara etika.

Jika otoritas tertinggi tidak dapat dimintai pertanggungjawaban, maka keadilan menjadi satu arah. Manusia wajib menjawab, Tuhan tidak perlu menjelaskan.

Bagi teologi, ini kedaulatan. Bagi etika sekuler, ini masalah besar: keadilan tanpa akuntabilitas selalu rawan berubah menjadi kekuasaan absolut.

Kosmologi yang sering dipaksa menjadi sains

sering dibawa ke diskusi mukjizat ilmiah: langit dan bumi dulu menyatu, air sebagai asal kehidupan, gunung agar bumi tidak guncang, langit sebagai atap, matahari dan bulan beredar.

Pembacaan modern sering menempelkan Big Bang atau biologi ke ayat ini. Tetapi teksnya lebih cocok dibaca sebagai kosmologi kuno: dunia atas, dunia bawah, atap langit, gunung sebagai penahan, dan benda langit yang bergerak di jalurnya.

Masalahnya bukan jika teks memakai bahasa zamannya. Masalahnya adalah klaim bahwa bahasa zaman itu adalah sains modern yang sudah disembunyikan sejak awal.

Ibrahim dan etika menghancurkan simbol orang lain

Kisah Ibrahim dalam menampilkan penghancuran berhala, strategi menyisakan patung besar, lalu jawaban ironis bahwa patung besar itulah yang melakukannya.

Sebagai satire terhadap penyembahan berhala, kisah ini tajam. Tetapi secara etika sosial, ia problematik: properti dan simbol agama kelompok lain dihancurkan untuk membuktikan kesalahan mereka.

Jika tindakan ini diperlakukan sebagai teladan literal, ia berbahaya dalam masyarakat plural. Kritik terhadap simbol boleh dilakukan dengan argumen, seni, atau debat; menghancurkan simbol orang lain adalah kekerasan budaya.

Parade nabi dan simplifikasi sejarah

Setelah Ibrahim, surat bergerak cepat: Luth, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yunus, Zakariya, Maryam. Setiap tokoh dipakai untuk menunjukkan pola: nabi diberi rahmat, penolak dihukum, Tuhan menolong yang dikehendaki.

Masalahnya, sejarah menjadi terlalu rapi. Konflik sosial, politik, ekonomi, dan psikologi manusia diperas menjadi satu pola iman-lawan-ingkar.

tentang banjir Nuh, tentang Ayyub, dan tentang Yunus semuanya bekerja sebagai pelajaran iman. Tetapi sebagai sejarah manusia, ia meninggalkan terlalu banyak detail yang hilang.

Apa yang tersisa

Al-Anbiya' adalah surat ringkasan besar: alam, nabi, kota hancur, kiamat, neraka, dan klaim rahmat. Ia ingin seluruh sejarah dan kosmos menjadi saksi tauhid.

Tetapi saksi-saksi itu tidak netral. Alam dibaca lewat kosmologi lama, sejarah diringkas menjadi hukuman, dan Tuhan diletakkan di luar pertanyaan.

Ketika menyebut Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam, pembaca kritis bertanya: rahmat bagi siapa, dengan syarat apa, dan bagaimana klaim universal itu diuji oleh manusia yang tidak pernah masuk ke dunia Islam?

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria