← Bedah Surat

QS 021  ·  Al-Anbiya 21:1-112  ·  Makkiyah  ·  14 menit

Al-Anbiya': Yang Tidak Boleh Ditanya

Ada satu kalimat pendek di surat ini yang menutup pintu yang sudah dibuka lebar-lebar oleh surat-surat sebelumnya. Sesudah berhalaman-halaman soal siapa dihukum kenapa, siapa disesatkan siapa, dan kenapa yang tidak tahu tetap ditagih, Al-Anbiya menyelesaikannya dalam satu baris: Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang ditanya.

Pihak yang tidak bisa ditanya

berbunyi enam kata dalam bahasa aslinya: Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedangkan merekalah yang akan ditanya.

Sebagai pernyataan kekuasaan, ini konsisten. Yang menciptakan segalanya memang tidak berdiri di bawah pengadilan siapa pun, dan tidak ada lembaga yang bisa memanggilnya.

Yang jadi persoalan, kalimat itu juga menutup satu-satunya jalan yang tersisa untuk membicarakan keadilan. Adil selalu berarti ada ukuran yang berlaku untuk semua pihak, termasuk yang paling berkuasa. Begitu satu pihak dikecualikan dari ukuran itu, yang tersisa bukan keadilan melainkan wewenang.

Dan ini bukan perkara kecil, karena hampir semua keberatan yang muncul di surat-surat lain bermuara ke sini. Hati yang ditutup lalu dihukum, orang yang diciptakan untuk neraka, perbedaan yang dibiarkan lalu ditagih, semuanya berhenti di kalimat ini. Bukan dijawab, melainkan dinyatakan tidak boleh ditanyakan.

Kapak yang digantungkan di leher patung

menceritakan rencana Ibrahim, dan rencananya rapi. Waktu penduduk kotanya pergi, dia menghancurkan semua berhala kecuali yang paling besar, lalu kapaknya digantungkan di leher patung yang tersisa.

Waktu ditanya, merekam jawabannya: yang melakukannya patung besar itu, tanyakan saja kepada mereka kalau mereka bisa bicara. Jebakan itu berhasil dan orang-orangnya terdiam.

Sebagai debat, langkahnya cerdas dan sampai sekarang masih dipakai orang untuk menunjukkan bahwa benda mati tidak bisa menolong siapa pun.

Sebagai perbuatan, yang terjadi tetap perusakan barang milik orang lain di tempat ibadah mereka. Dan urutan itu masih berulang di sini. Setiap kali ada patung dirobohkan, sesajen ditendang, atau tempat ibadah kelompok kecil disegel, cerita Ibrahim hampir selalu ikut disebut sebagai contohnya. Yang meniru biasanya mengambil kapaknya, bukan pertanyaannya.

Langit dan bumi yang dulu menyatu

menyebut langit dan bumi dahulu menyatu, lalu Kami pisahkan keduanya, dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air.

Kalimat ini termasuk yang paling sering dipakai untuk menunjukkan bahwa Al-Qur'an sudah lebih dulu tahu asal-usul alam semesta. Bunyinya memang bisa dicocokkan dengan gambaran ledakan besar dan dengan kenyataan bahwa makhluk hidup butuh air.

Yang perlu dilihat dari kecocokan semacam ini, arah kerjanya. Kalimat itu tidak pernah dipakai untuk meramalkan apa pun sebelum ilmunya ada. Kecocokannya baru ditemukan sesudah keterangan ilmiahnya beredar, dan itu urutan yang berbeda sama sekali. Perkaranya dibongkar tersendiri di Pengetahuan yang Tidak Melampaui Zamannya.

Enam belas nabi dalam satu halaman

melewati Musa, Ibrahim, Luth, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Ismail, Idris, Zulkifli, Yunus, Zakaria, Yahya, dan Maryam dengan sangat cepat, kadang cuma dua atau tiga ayat masing-masing.

Yang diambil dari tiap orang cuma satu potong: doa yang dikabulkan, kesulitan yang diangkat, atau kaum yang diselamatkan. Sisanya dilewati.

Rangkaian sependek itu punya kegunaan yang jelas, yaitu menunjukkan bahwa yang sedang terjadi di Mekah cuma pengulangan dari yang sudah-sudah. Dan harganya juga jelas: empat belas riwayat hidup yang panjang, rumit, dan sebagian besarnya penuh kegagalan, diringkas jadi daftar bukti bahwa doa orang saleh dikabulkan.

Dekat yang sudah empat belas abad

membuka surat dengan kalimat yang mendesak: telah dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, sedangkan mereka dalam keadaan lalai lagi berpaling.

Kalimat semacam ini muncul di banyak surat Mekah, dan fungsinya waktu itu jelas. Ancaman yang jauh tidak menggerakkan siapa pun, dan ancaman yang dekat menggerakkan.

Empat belas abad kemudian kalimat itu masih dibaca dengan nada yang sama. Yang berubah cuma cara memakainya: dekat sekarang diartikan dekat menurut ukuran Tuhan, bukan menurut ukuran orang yang mendengarnya pertama kali. Penyesuaian itu masuk akal secara teologis, dan sekaligus membuat kalimatnya tidak bisa keliru dalam keadaan apa pun.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria