← Bedah Surat

QS 042  ·  Asy-Syura 42:1-53  ·  Makkiyah  ·  13 menit

Asy-Syura: Satu Kata untuk Bangunan yang Besar

Satu kata di surat ini jadi tumpuan hampir semua argumen tentang demokrasi dalam Islam: urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka. Kata itu juga masuk ke dasar negara ini lewat sila keempat. Yang jarang diperiksa, seberapa banyak yang sebenarnya bisa ditopang satu kata itu.

Satu kata, dan yang dibangun di atasnya

memberi nama surat ini. Yang disebut sifat orang beriman: mereka mematuhi seruan Tuhannya, mendirikan salat, dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka, serta menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan.

Letaknya menentukan cara membacanya. Musyawarah muncul di tengah daftar sifat pribadi, berdampingan dengan salat dan sedekah, bukan sebagai aturan menyusun pemerintahan.

Yang disebut sifat orang, bukan bentuk lembaga.

Tidak ada keterangan siapa yang ikut musyawarah, bagaimana suaranya dihitung, apa yang terjadi kalau tidak sepakat, dan siapa yang boleh dibantah. Yang ada satu kata benda.

Dari satu kata itu tumbuh perdebatan yang tidak selesai sampai sekarang: apakah Islam mendukung demokrasi, apakah suara mayoritas mengikat, dan apakah pemimpin boleh dijatuhkan. Dua kubu yang berlawanan sama-sama mengutip ayat ini, dan dua-duanya bisa, sebab ayatnya memang tidak menutup satu pun kemungkinan.

Musyawarah yang mendarat di sini

Di Indonesia kata itu tidak berhenti jadi bahan perdebatan. Musyawarah untuk mufakat masuk ke sila keempat, ke aturan desa, ke rapat RT, dan ke cara menyelesaikan sengketa tanah tanpa lewat pengadilan.

Bentuk yang berkembang di sini bukan bentuk yang dijelaskan ayatnya, sebab ayatnya tidak menjelaskan bentuk apa pun. Yang berkembang campuran antara kebiasaan lama Nusantara, gagasan gotong royong, dan kata Arab yang menaunginya.

Hasilnya punya kelebihan yang nyata: keputusan yang diambil bersama lebih tahan lama daripada keputusan yang dipaksakan.

Dan punya kelemahan yang sama nyatanya. Mufakat yang dikejar terus-menerus gampang berubah jadi cara membungkam yang berbeda pendapat, sebab orang yang bertahan sendirian akan dianggap merusak kebersamaan. Ayat ini tidak menyediakan perlindungan untuk orang itu, dan tidak pernah dimintai.

Agama yang disebut satu

menyatakan sesuatu yang besar: Dia telah mensyariatkan bagi kalian agama yang sama dengan yang telah diwasiatkan kepada Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama dan janganlah berpecah belah.

Kalimat itu menawarkan pembacaan yang murah hati terhadap tradisi lain: yang dibawa semua nabi sama, dan yang berbeda cuma cabangnya.

Tapi kalimat berikutnya di ayat yang sama menutup pintunya lagi: mereka tidak berpecah belah kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka.

Jadi perbedaan yang ada sekarang tidak dibaca sebagai hasil sejarah, tempat, dan bahasa yang berbeda, melainkan sebagai akibat kedengkian. Dan begitu perbedaan diberi sebab moral, orang yang berbeda berhenti jadi orang yang menyimpulkan lain, dan berubah jadi orang yang bermasalah.

Rezeki yang sengaja ditahan

memuat keterangan yang jarang dibicarakan: kalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentu mereka akan melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki.

Jadi kemiskinan sebagian orang diterangkan sebagai penjagaan. Kalau semua orang berkecukupan, semua orang akan sewenang-wenang.

Keterangan semacam ini punya akibat yang berat kalau dipakai untuk membaca keadaan sosial. Ketimpangan berhenti jadi hal yang perlu diperbaiki dan berubah jadi susunan yang memang dikehendaki.

Dan yang menyampaikannya biasanya bukan orang yang rezekinya sedang ditahan. Kalimat ini paling sering terdengar dari atas ke bawah, sebagai penenang, dan hampir tidak pernah dipakai untuk menerangkan kenapa segelintir orang justru dibiarkan melampaui batas.

Boleh membalas, lebih baik memaafkan

menyusun keseimbangan yang jarang serapi ini: balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi siapa yang memaafkan dan berbuat baik, pahalanya ditanggung Allah.

Dua-duanya diberi tempat. Membalas setimpal tidak disebut salah, dan memaafkan disebut lebih baik tanpa mewajibkan siapa pun memaafkan.

Susunan itu jauh lebih bisa dipakai daripada perintah memaafkan tanpa syarat. Orang yang dizalimi tidak dituntut menghapus perasaannya, dan sekaligus ditawari jalan keluar yang lebih ringan.

menutup dengan pembatas yang penting: yang membela diri sesudah dizalimi tidak ada jalan menyalahkannya, yang bersalah orang yang menzalimi manusia dan melampaui batas. Membalas dibolehkan, dan memulai tidak.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria