← Bedah Surat

QS 062  ·  Al-Jumu'ah 62:1-11  ·  Madaniyah  ·  10 menit

Al-Jumu'ah: Sebelas Ayat yang Menghentikan Satu Siang

Sebelas ayat, dan salah satunya menghentikan satu siang di tiap pekan buat ratusan juta orang. Kantor mengosongkan jam dua belas sampai satu, sekolah memulangkan murid laki-laki lebih awal, jalan di sekitar masjid ditutup, dan jamaah yang tidak kebagian tempat menggelar koran di trotoar. Yang jarang dibaca, sembilan ayat lain yang berdiri di sekelilingnya.

Satu siang yang dihentikan tiap pekan

memuat perintahnya: hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk salat pada hari Jumat, bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagi kalian.

Yang dikerjakan ayat ini menaruh satu titik tetap di tengah pekan. Bukan di ujung hari waktu orang sudah selesai bekerja, melainkan persis di tengah jam kerja, di waktu yang paling mahal.

Akibatnya kelihatan sampai ke jadwal negara. Jam kerja pegawai negeri hari Jumat disusun ulang untuk memberi jeda salat, sekolah memindahkan jam pulang, dan warung di sekitar masjid tutup sebentar lalu buka lagi begitu jamaah keluar.

Ayat 10 langsung menutup jedanya: apabila salat telah ditunaikan, bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah. Jadi yang diatur bukan penghentian kerja, melainkan penyisipan satu jam ke dalamnya. Bentuk seperti ini bertahan lama justru karena tidak menuntut orang meninggalkan pekerjaannya.

Keledai yang berpindah sasaran

memuat perumpamaan yang tajam: orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian tidak memikulnya seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.

Sasarannya disebut jelas di ayat itu sendiri, yaitu orang Yahudi yang memegang Taurat tapi tidak menjalankannya. Kiasannya mengena karena keledai memang membawa beban yang tidak diketahuinya, dan itu gambaran tentang hafalan tanpa isi.

Yang menarik nasib perumpamaan ini di sini. Di mimbar Jumat dan di pengajian, kalimat keledai memikul kitab hampir selalu diarahkan kepada jamaah sendiri, biasanya kepada orang yang hafal tapi tidak mengamalkan, atau kepada anak yang lulus tahfiz lalu berhenti membaca. Sasaran aslinya jarang disebut.

Pemindahan itu membuat perumpamaannya lebih bisa dipakai dan sekaligus menutupi asalnya. Yang tersisa di naskahnya tetap sebuah kiasan binatang yang ditujukan kepada satu golongan orang, dan bentuk kiasan semacam itu punya riwayat panjang yang tidak enak di mana pun dipakainya.

Kalau merasa kekasih Allah, mintalah mati

mengajukan tantangan: katakanlah, hai orang-orang Yahudi, kalau kalian mengira bahwa kalianlah kekasih Allah bukan manusia yang lain, maka harapkanlah kematian kalau kalian orang yang benar. Ayat 7 menutupnya: mereka tidak akan mengharapkannya selama-lamanya.

Susunan tantangannya rapat. Kalau yang ditantang menolak, penolakannya dihitung sebagai bukti bahwa pengakuannya tidak sungguh-sungguh. Kalau menerima, akibatnya jelas tidak menguntungkan. Tidak ada jawaban yang tersedia yang tidak merugikan pihak yang ditantang.

Dan alat ukurnya sendiri tidak sah. Enggan mati bukan tanda lemahnya keyakinan, melainkan bawaan makhluk hidup, dan itu berlaku juga pada orang yang paling yakin dari pihak mana pun. Kalau ukuran ini diberlakukan merata, hampir tidak ada orang beriman di dunia yang lolos, termasuk yang mengajukan tantangannya.

Kesesatan yang ditetapkan sesudahnya

menyebut Allah mengutus rasul kepada kaum yang ummi, yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kitab serta hikmah, padahal sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Kalimat penutup itu bentuk penilaian, bukan keterangan. Arab sebelum kenabian punya sastra lisan yang rumit, jaringan dagang lintas benua, kalender, dan hukum kesukuan yang berjalan. Menyebut seluruh keadaan itu kesesatan yang nyata menetapkan nilainya dari titik sesudahnya.

Bentuk cerita ini bukan milik satu tradisi. Tiap gerakan yang datang membawa sesuatu yang baru cenderung menamai masa sebelumnya sebagai kegelapan, sebab dengan begitu kehadirannya sendiri jadi keperluan. Yang layak dipisahkan cuma dua hal: apa yang diakui gerakan itu tentang dirinya, dan apa yang sebenarnya ada di masa yang dinamainya gelap.

Kafilah yang lewat waktu khotbah

merekam kejadian yang menutup surat: apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar menuju ke sana dan meninggalkanmu berdiri. Riwayatnya menyebut rombongan dagang tiba di Madinah waktu khotbah sedang berlangsung.

Ayat ini tidak menutupi apa pun soal jamaahnya sendiri: yang dicatat jamaah yang meninggalkan pembicaranya berdiri sendirian di mimbar, bukan jamaah yang khusyuk.

Yang jadi persoalan penutupnya: katakanlah, apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan. Perniagaan dan permainan diletakkan sebaris, dan sejak itu kerja mencari nafkah menempati tingkat yang lebih rendah daripada kegiatan ibadah. Susunan itu masih terdengar tiap kali orang yang tidak sempat ikut kegiatan keagamaan karena bekerja disebut mendahulukan dunia.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria