QS 105 · Al-Fil 105:1-5 · Makkiyah · 7 menit
Al-Fil: Peristiwa yang Paling Dekat Waktunya
Dari semua peristiwa yang diceritakan Al-Qur'an, ini yang paling dekat waktunya dengan zaman pembawanya sendiri. Tahun Gajah dipakai menandai tahun kelahirannya, jaraknya cuma satu umur manusia, dan tokoh yang menyerbunya punya nama yang tercatat di prasasti yang masih bisa dibaca sampai sekarang.
Peristiwa yang paling dekat waktunya
membuka dengan pertanyaan: apakah engkau tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah, bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia.
Bentuk pertanyaannya menganggap pendengarnya sudah tahu ceritanya. Ayatnya tidak menanyakan apa yang terjadi. Pertanyaannya, apakah mereka memperhatikannya.
Anggapan itu masuk akal kalau jaraknya memang dekat. Menurut tradisi, peristiwanya terjadi pada tahun kelahiran Muhammad, jadi orang tua di antara pendengar pertamanya masih hidup waktu kejadiannya berlangsung.
Dan justru itu yang membuat surat ini berbeda dari cerita kaum Ad, Samud, atau Nuh. Untuk peristiwa yang jaraknya sedekat itu, keterangan dari luar Al-Qur'an masih mungkin ditemukan.
Di sini cerita tentara gajah diajarkan di pelajaran sejarah kebudayaan Islam di madrasah dan hampir selalu dibacakan di acara maulid sebagai pembuka riwayat kelahiran. Bagian yang bisa dicocokkan dan bagian yang tidak biasanya tertinggal.
Abrahah yang ada di prasasti
Tokoh yang disebut riwayat sebagai pemimpin penyerbuan bernama Abrahah, seorang penguasa asal Aksum yang memerintah Yaman pada abad keenam. Dia bukan tokoh cerita.
Namanya tercatat di beberapa prasasti Arab Selatan yang masih ada, dan salah satunya, yang ditemukan di Murayghan, merekam kampanye militernya ke Arabia tengah pada sekitar tahun lima ratus lima puluhan Masehi. Prasasti itu ditulis atas namanya sendiri dan menyebut suku-suku yang ditaklukkannya.
Jadi bahan dasarnya berdiri di tanah sejarah, dan itu perlu dikatakan terus terang. Ada penguasa Yaman bernama Abrahah, dia benar-benar bergerak ke utara, dan dia benar-benar memakai pasukan yang membawa gajah menurut sumber Bizantium yang menulis tentang wilayah itu.
Yang tidak tercatat di mana pun serangan ke Mekah dan kebinasaan pasukannya. Prasasti Murayghan justru merekam kampanyenya sebagai berhasil, dan Mekah sendiri hampir tidak muncul di sumber luar mana pun pada abad itu. Jadi yang bisa dicocokkan orangnya dan gerakannya, dan yang tidak bisa dicocokkan bagian yang jadi pokok surat ini.
Burung yang berbondong-bondong
menyebut apa yang dikirim: dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar.
Kata ababil dipakai untuk kelompok yang datang berturut-turut, dan bentuk tunggalnya tidak jelas bahkan bagi ahli bahasa Arab lama. Sebagian penafsir menyatakan kata itu tidak punya bentuk tunggal.
Ketidakjelasan itu menghasilkan gambaran yang berbeda-beda. Sebagian membacanya sebagai burung yang tidak dikenal jenisnya, sebagian menyebut ukuran dan warnanya berdasarkan riwayat, dan sebagian penafsir modern membacanya sebagai lalat atau nyamuk pembawa wabah cacar, yang menurut satu riwayat memang menyerang pasukan itu. Bacaan terakhir menyelesaikan perkaranya dengan mengganti burung jadi serangga, dan penggantian itu tidak berasal dari ayatnya.
Batu dari tanah yang terbakar
Kata untuk batunya sijjil, dan kata itu muncul juga di cerita kaum Lut. Ahli bahasa sejak lama menyatakan asalnya dari bahasa Persia, yaitu sang untuk batu dan gil untuk tanah liat.
Kata serapan semacam ini bukan hal aneh dan bukan kelemahan. Bahasa Arab abad ketujuh memang menyerap kata dari Persia, Suryani, Etiopia, dan Yunani, sebab jalur dagangnya lewat semua tempat itu. Yang layak disebut cuma bahwa keberadaan serapan itu berdiri berlawanan dengan pernyataan di beberapa tempat bahwa kitab ini disusun dalam bahasa Arab yang jelas, dan penafsir lama sudah berdebat tentang hal itu jauh sebelum ada yang mempersoalkannya dari luar. Di pengajian di sini, kata sijil biasanya diterangkan artinya tanpa disebutkan dari mana asalnya.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.