QS 105 · Al-Fil 105:1-5 · Makkiyah · 7 menit
Al-Fil: Tradisi Lisan Eksternal, Burung yang Melempar Batu, dan Perlindungan Ka'bah yang Selektif
Al-Fil menceritakan kehancuran pasukan Abrahah yang datang dengan gajah untuk menghancurkan Ka'bah, diserang oleh burung berbondong-bondong yang melempar batu sijjil hingga pasukan itu seperti daun yang dimakan ulat. Kisah ini adalah salah satu yang paling dikenal dalam tradisi Arab pra-Islam dan Islam, dikaitkan dengan tahun kelahiran Muhammad. Masalah: sumber historis yang independen sangat terbatas, klaim burung yang melempar batu tidak bisa diverifikasi, dan sejumlah sejarawan menduga wabah penyakit, bukan serangan burung, sebagai penjelasan yang lebih masuk akal atas kehancuran pasukan itu.
Peta Masalah
Surat ini memuat ketergantungan pada tradisi lisan eksternal yang tidak disebutkan dalam teks, klaim supernatural tentang burung yang melempar batu sijjil yang tidak bisa diverifikasi dan lebih konsisten dengan penjelasan naturalistik seperti wabah, glorifikasi pemusnahan massal pasukan sebagai intervensi ilahi yang merayakan kehancuran manusia, dan penggunaan kisah ini sebagai pembuktian bahwa Ka'bah dilindungi secara ilahi.
Kisah yang bergantung pada tradisi lisan
membuka dengan: 'Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?' Pertanyaan ini mengandaikan bahwa audiens sudah tahu siapa 'pasukan bergajah' itu. Teks tidak menjelaskan nama, waktu, tempat, atau konteks. Seluruh narasi dibangun di atas pengetahuan yang diasumsikan ada di luar teks.
Identifikasi 'pasukan bergajah' dengan Abrahah, gubernur Yaman yang berkuasa di bawah Aksum (Ethiopia), yang berusaha menyerang Ka'bah sekitar tahun 570 M, yang oleh tradisi disebut Tahun Gajah dan dikaitkan dengan kelahiran Muhammad, berasal sepenuhnya dari tradisi tafsir dan sirah, bukan dari teks surat itu sendiri.
Dari perspektif historiografi, ketergantungan pada tradisi lisan eksternal untuk memahami teks yang diklaim sebagai wahyu universal adalah masalah metodologis. Seseorang yang membaca surat ini tanpa pengetahuan tentang tradisi Arab pra-Islam tidak bisa memahami siapa yang diserang, mengapa, atau di mana. Ini menempatkan pemahaman atas wahyu ilahi dalam ketergantungan kepada pengetahuan kultural lokal.
Burung yang melempar batu: supernatural atau naturalistik?
menggambarkan Allah mengirimkan 'burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar (sijjil).' Gambaran ini sangat spesifik: bukan sekedar burung, tapi burung yang secara aktif melempar proyektil yang terbuat dari bahan tertentu.
Penjelasan naturalistik yang dikembangkan oleh beberapa sejarawan adalah bahwa pasukan Abrahah dihancurkan oleh wabah penyakit, kemungkinan cacar atau penyakit yang dibawa oleh kondisi lingkungan di sekitar Mekah. Wabah yang menyerang pasukan asing yang tidak memiliki imunitas lokal adalah fenomena historis yang terdokumentasi dalam banyak kampanye militer kuno. Dalam pemrosesan narasi, wabah penyakit yang menghasilkan luka-luka bisa ditransformasikan dalam memori kolektif menjadi gambaran serangan burung.
Bahwa klaim ini tidak bisa diverifikasi bukan berarti ia pasti salah. Tapi ia adalah klaim tentang kejadian supernatural yang spesifik, burung yang melempar batu sijjil, yang tidak didukung oleh bukti arkeologis atau dokumentasi independen dari sumber di luar tradisi Arab. Dalam konteks klaim tentang intervensi ilahi yang sangat konkret dan fisik, absennya corroborasi independen adalah masalah epistemik yang sah.
Kehancuran massal sebagai intervensi ilahi yang dirayakan
menutup dengan gambaran hasil intervensi: 'sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat).' Pasukan Abrahah, yang mungkin terdiri dari ribuan tentara, dihancurkan total, tubuh mereka seperti dedaunan yang habis dimakan.
Pemusnahan massal digambarkan dengan nada kemenangan dan keagungan. Tidak ada pertimbangan tentang individu-individu dalam pasukan yang mungkin tidak secara sukarela bergabung, tentara biasa yang menjalankan perintah, atau mereka yang tidak memiliki pilihan. Seluruh pasukan dijadikan satu entitas yang layak dimusnahkan karena tujuan pemimpinnya.
Pola ini konsisten dengan narasi-narasi lain dalam Al-Qur'an tentang kehancuran kolektif, Ad, Tsamud, pasukan Firaun. Pemusnahan massal sebagai manifestasi keadilan ilahi, yang dirayakan sebagai tanda perlindungan Allah, adalah narasi yang dalam konteks modern akan dikritik sebagai glorifikasi kekerasan kolektif. Bahwa korban didehumanisasi menjadi 'daun yang dimakan ulat' memperkuat jarak antara gambaran ini dan nilai kemanusiaan yang menghargai setiap kehidupan.
Ka'bah sebagai objek perlindungan ilahi
Subnarasi Al-Fil adalah bahwa Ka'bah, sebagai bangunan fisik, mendapat perlindungan ilahi yang mencegah penghancurannya. Allah bertindak langsung untuk mempertahankan struktur batu di Mekah dari serangan pasukan Abrahah.
Tapi Ka'bah sebagaimana kita kenal hari ini bukan bangunan yang sama dari zaman pra-Islam. Ia sudah direnovasi, diubah, dan dibangun ulang berkali-kali, termasuk oleh Muhammad sendiri ketika menghapus berhala-berhala dari dalamnya, dan dalam berbagai renovasi oleh khalifah setelahnya. Bangunan fisik telah berubah secara signifikan.
Yang lebih penting secara teologis: jika Allah secara aktif melindungi Ka'bah dari Abrahah, mengapa ia tidak melindunginya dari pengambilalihan oleh penguasa yang berbeda di berbagai abad, atau dari kerusakan akibat banjir, atau dari berbagai perubahan struktural? Klaim perlindungan ilahi yang selektif memerlukan penjelasan tentang mengapa perlindungan itu berlaku dalam satu konteks tapi tidak yang lain. Tradisi tafsir menyediakan berbagai penjelasan, tapi tidak ada yang diberikan oleh teks surat itu sendiri.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.