← Bedah Surat

QS 096  ·  Al-'Alaq 96:1-19  ·  Makkiyah  ·  9 menit

Al-'Alaq: Bacalah, dan Buku yang Mengambil Namanya

Lima ayat yang disebut turun paling awal isinya tentang membaca, pena, dan pengajaran. Kata pertamanya iqra, dan kata itu sekarang jadi nama buku yang dipakai hampir tiap taman pendidikan Al-Qur'an di Indonesia untuk mengajar anak mengenal huruf. Yang dipakai bunyinya, dan yang jarang ditanyakan apa yang terjadi pada isinya.

Bacalah, dan buku yang mengambil namanya

memuat lima baris: bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan pena, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dalam tiga dari lima baris itu, yang disebut membaca, pena, dan mengajar. Untuk masyarakat yang hampir seluruh urusannya berjalan lisan, pilihan itu tidak biasa.

Di sini kata pertamanya punya nasib tersendiri. Pada tahun delapan puluhan, seorang guru di Yogyakarta menyusun buku tipis berjilid untuk mengajar anak mengenal huruf Arab, dan diberi nama Iqro. Buku itu menyebar ke hampir seluruh taman pendidikan Al-Qur'an di Indonesia dan sekarang jadi cara paling umum anak mulai mengaji.

Yang diajarkan buku itu mengenali bunyi huruf, bukan memahami kalimat. Anak yang tamat enam jilid bisa membaca dengan lancar dan tidak mengerti satu kata pun tanpa terjemahan.

Nama dan isinya di situ berjauhan. Kata iqra dipakai untuk pengajaran yang berhenti di bunyi, sementara lima ayat yang jadi asalnya menyebut pena dan mengajar apa yang tidak diketahui. Tidak ada yang salah pada cara mengajar itu, meski yang diambil dari lima ayat itu cuma kata pertamanya.

Perintah membaca kepada orang yang tidak membaca

Riwayat tentang turunnya lima ayat ini menyusun satu adegan: perintah bacalah diberikan tiga kali, dan tiap kali dijawab dengan pernyataan tidak bisa membaca.

Adegan itu bersandar pada anggapan bahwa penerimanya buta huruf, dan anggapan itu berasal dari cara membaca kata ummi di Al-A'raf dan Al-Jumu'ah sebagai orang yang tidak bisa membaca.

Sebagian peneliti membaca kata itu lain, yaitu orang yang bukan dari golongan pemegang kitab, jadi bukan keterangan tentang kemampuan membacanya melainkan tentang golongannya. Dua bacaan itu sama-sama bisa dipakai secara bahasa.

Yang membuat perbedaannya besar, seluruh susunan tentang mukjizat kitab ini bertumpu pada bacaan yang pertama. Kalau penerimanya memang tidak bisa membaca, isinya tidak mungkin disusunnya sendiri. Kalau bacaan kedua yang benar, alasan itu hilang, dan yang tersisa perkara yang harus diperiksa dengan cara lain.

Segumpal darah

menyebut asal manusia: Dia telah menciptakan manusia dari alaq.

Kata alaq punya beberapa arti dalam bahasa Arab: segumpal darah beku, lintah, dan sesuatu yang menempel. Terjemahan resmi yang beredar di sini memakai segumpal darah.

Pembacaan yang beredar dalam buku keajaiban ilmiah memilih arti menempel dan menghubungkannya dengan menempelnya bakal janin di dinding rahim. Arti itu ada dalam kamus, dan pemilihannya baru dikerjakan sesudah proses menempel itu diketahui orang.

Yang menerangkan asal gagasannya pengetahuan yang beredar sebelumnya. Dalam kedokteran Yunani yang dikenal luas di Timur Dekat, tahap awal janin memang digambarkan sebagai gumpalan darah, dan urutan tahapan yang muncul di sangat dekat dengan urutan yang ditulis Galen. Kesamaan itu keterangan yang lebih sederhana daripada semua penyesuaian yang dikerjakan belakangan.

Melarang seorang hamba salat

menyebut satu perbuatan: bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan salat.

Riwayat mengarahkannya kepada Abu Jahal yang mengancam akan menginjak leher Muhammad kalau dia salat di dekat Kakbah.

Yang dipersoalkan di sini menghalangi orang beribadah, dan sebagai kaidah itu bisa dipakai siapa saja dan berlaku ke arah mana pun. Yang jarang dipakai justru arah sebaliknya. Ayat ini muncul dalam pembicaraan tentang kebebasan beragama di sini hampir selalu untuk membela pihak yang mayoritas, dan hampir tidak pernah untuk membela rumah ibadah yang disegel atau jemaah yang dibubarkan.

Ubun-ubun yang dusta

memuat ancamannya: sekali-kali tidak, sungguh kalau dia tidak berhenti, niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.

Menarik ubun-ubun cara merendahkan orang yang khas Arab lama, dan sifat dusta dilekatkan pada bagian tubuh, bukan pada orangnya. Bentuk itu masih dipakai orang sekarang tanpa merasa sedang memakai kiasan, tiap kali sifat seseorang ditempelkan pada wajah, darah, atau keturunannya.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria