QS 051 · Az-Zariyat 51:1-60 · Makkiyah · 12 menit
Az-Zariyat: Jawaban Satu Kalimat untuk Untuk Apa Aku Ada
Satu ayat di surat ini menjawab pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang tentang hidupnya sendiri: untuk apa aku ada. Jawabannya satu kalimat, tidak bercabang, dan tidak menyediakan pilihan lain. Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Kalimat itu ditempel di dinding pesantren dan jadi penutup ceramah, dan jarang ditanya apa akibatnya kalau benar-benar dipegang.
Satu kalimat untuk satu pertanyaan besar
berbunyi: dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.
Ayat berikutnya menutup kemungkinan salah paham soal siapa yang butuh: Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.
Jadi ibadah di situ bukan pelayanan yang dibutuhkan penerimanya. Yang tersisa, kegiatan itu berguna untuk pelakunya, dan alasan itu memang yang biasa diberikan penafsir.
Apa yang tersempit dari jawaban itu
Kalau tujuan hidup ditetapkan cuma satu, semua kegiatan lain jadi harus dicarikan tempat di bawahnya.
Tafsir menyelesaikannya dengan memperluas arti ibadah: bekerja mencari nafkah jadi ibadah kalau diniatkan, menuntut ilmu ibadah, menyusui anak ibadah, bahkan tersenyum ibadah. Perluasan itu ditempuh berabad-abad dan jadi jalan keluar yang paling banyak dipakai.
Perluasan itu menolong, dan sekaligus membuat kalimat aslinya kehilangan isi. Kalau semua kegiatan bisa jadi ibadah asal diniatkan, kalimat bahwa manusia diciptakan untuk beribadah berhenti menerangkan apa pun yang membedakan satu hidup dari hidup yang lain.
Di sini akibatnya kelihatan di cara orang menilai pekerjaannya. Orang yang mengurus limbah, memperbaiki jalan, atau mengajar matematika sering merasa perlu menempelkan niat dulu supaya kerjanya terasa berharga, seolah kegunaan pekerjaannya sendiri belum cukup jadi alasan.
Langit yang diluaskan
memuat kalimat pendek yang sekarang paling banyak dipakai dari surat ini: dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.
Kata terakhirnya dicocokkan dengan penemuan bahwa alam semesta mengembang. Kecocokannya memang ada, dan bunyinya memang bisa dibaca begitu.
Yang perlu diperiksa arah kerjanya. Kata Arab yang dipakai punya arti luas, dari melapangkan sampai berkemampuan, dan hampir semua penafsir klasik membacanya sebagai keluasan kuasa atau keluasan rezeki, bukan gerak fisik. Bacaan mengembang baru muncul sesudah pengamatannya diumumkan pada abad kedua puluh.
Pola yang sama sudah muncul di beberapa surat lain: kecocokan ditemukan sesudah keterangannya tersedia, tidak pernah sebelum.
Tamu yang tidak menyentuh hidangan
menyelipkan satu adegan yang bunyinya sangat rumah tangga. Tamu datang, Ibrahim diam-diam menyiapkan anak sapi gemuk yang dipanggang, lalu mendekatkannya kepada mereka.
Waktu tamunya tidak menyentuh makanan, Ibrahim merasa takut. Adegan itu masuk akal buat orang mana pun: tamu yang tidak mau makan di rumah orang Arab berarti ada yang tidak beres.
Sesudah ketakutannya diredakan, istrinya datang sambil berteriak dan menepuk mukanya sendiri waktu dikabari akan punya anak, lalu berkata dia perempuan tua yang mandul.
Bagian ini tidak menambah satu pun argumen ke surat yang isinya pembuktian. Yang ditambahkannya justru orang: tuan rumah yang panik, dan perempuan tua yang menanggapi kabar mustahil dengan cara yang persis akan dilakukan siapa pun.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.