← Bedah Surat

QS 025  ·  Al-Furqan 25:1-77  ·  Makkiyah  ·  13 menit

Al-Furqan: Potret Orang Baik di Tengah Surat Ancaman

Menjelang akhir surat ini ada gambaran tentang orang baik yang bunyinya berbeda sekali dari sekitarnya: berjalan di bumi dengan rendah hati, dan kalau orang bodoh menyapa dengan kasar, dijawab dengan kata-kata damai. Tidak ada ancaman di situ, tidak ada golongan yang disebut, dan tidak ada perintah kepada siapa pun. Empat belas ayat itu potret, dan potret itu layak diperiksa terpisah dari surat yang memuatnya.

Potret yang hampir tidak menyebut agama

memulainya: hamba-hamba Yang Maha Pengasih itu orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.

Yang menyusul isinya sama sederhananya. Tidak berlebihan dan tidak kikir waktu membelanjakan harta, di tengah-tengah antara keduanya. Tidak membunuh. Tidak berzina. Tidak memberikan kesaksian palsu. Kalau melewati orang yang sedang berbuat sia-sia, lewat saja dengan menjaga kehormatan diri.

Hampir semua butirnya bisa disetujui orang tanpa lebih dulu menerima satu pun klaim teologis di surat ini. Tidak menipu di kesaksian, tidak boros, dan tidak membalas kekasaran dengan kekasaran adalah hal yang dipegang orang di mana saja, termasuk yang tidak beragama. Potongan tentang berjalan dengan rendah hati itu bahkan sering muncul di poster sekolah dan di khotbah Jumat tanpa perlu diterangkan apa-apa lagi.

Kekuatan bagian ini justru datang dari kesederhanaannya. Tidak ada satu pun butir yang menuntut orang membenci pihak lain.

Dosa yang ditukar jadi kebaikan

menawarkan sesuatu yang tidak biasa: siapa yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan.

Bukan dihapus, melainkan diganti. Perbuatan yang dulu tercatat memberatkan berubah statusnya jadi meringankan.

Untuk orang yang merasa hidupnya sudah terlanjur rusak, kalimat ini menyediakan jalan yang tidak menuntut pengembalian apa pun kepada orang yang dirugikan. Dan di situ letak persoalannya. Yang berubah catatannya di atas, sementara orang yang pernah ditipu atau disakiti tidak ikut disebut dalam pertukaran itu.

Tuduhan yang direkam apa adanya

merekam keberatan lawan bicaranya tanpa dihaluskan: ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan, dan dia dibantu orang lain untuk membuatnya. Lalu ditambahkan, itu cuma dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya supaya dituliskan, lalu dibacakan kepadanya pagi dan petang.

Kalau tuduhan sedetail itu direkam, berarti tuduhan itu memang beredar dan cukup kuat untuk perlu dijawab. Yang menuduh menyebut mekanismenya: ada yang menuliskan, dan ada jadwal pembacaannya.

Jawaban yang diberikan bukan bantahan atas mekanismenya, melainkan pernyataan asal: katakanlah, kitab ini diturunkan oleh Yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi.

Jawaban semacam itu menutup percakapan tanpa menyelesaikan perkaranya, dan cuma bisa diterima orang yang sudah lebih dulu percaya. Dari luar, yang tersisa dua pernyataan yang saling berhadapan dan tidak ada alat untuk memilih di antaranya.

Nabi yang makan dan pergi ke pasar

merekam keberatan lain yang bunyinya justru lucu kalau dibaca sekarang: mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?

Yang mereka harapkan malaikat, atau setidaknya orang yang tidak perlu berbelanja. Yang datang orang biasa yang lapar dan ikut antre.

Jawaban di tegas dan sekaligus menarik: Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum kamu, melainkan mereka semua memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Jadi kemanusiaan nabinya tidak disembunyikan, malah ditegaskan.

Bagian ini yang paling terus terang di surat ini, dan akibatnya berlaku dua arah. Nabi yang makan dan berbelanja memang lebih bisa diikuti orang biasa. Nabi yang sama juga lebih terbuka untuk ditanya soal dari mana isinya datang.

Ancaman yang diselipkan di sela potret

Di antara bagian-bagian yang tenang itu, surat ini menyisipkan gambaran yang jauh lebih keras. menempatkan orang-orang di tempat yang sempit dalam keadaan terbelenggu, lalu menyeru kebinasaan, dan dijawab bahwa satu kebinasaan tidak cukup.

Susunan berselang-seling ini muncul di banyak surat Mekah: potret yang menenangkan dipasang berdampingan dengan ancaman yang menakutkan, dan pembacanya digiring memilih di antara dua gambaran. Di ceramah pun dua bagian itu jarang dibawakan bersamaan, dan yang dipilih biasanya tergantung acaranya.

Yang jadi soal, potret orang baik di ayat 63 sampai 77 sebenarnya tidak butuh ancaman itu untuk berdiri. Orang yang menjawab kekasaran dengan damai tidak jadi lebih baik gara-gara ada belenggu yang menunggu di ujung. Bagian terbaik surat ini justru bagian yang paling tidak bergantung pada sisanya.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria