QS 026 · Asy-Syu'ara 26:1-227 · Makkiyah · 15 menit
Asy-Syu'ara': Menyerang Penyair dengan Bunyi Penyair
Surat ini ditutup dengan serangan kepada penyair: yang mengikuti mereka orang-orang sesat, mereka mengembara di tiap lembah, dan mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan. Tuduhan itu dipasang di ujung surat yang justru paling tertata bunyinya di seluruh Al-Qur'an, lengkap dengan bait penutup yang diulang delapan kali persis sama.
Bait yang diulang delapan kali
Sesudah cerita Musa selesai, muncul dua kalimat penutup: sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sungguh Tuhanmu benar-benar Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
Kalimat yang sama muncul lagi sesudah cerita Ibrahim. Lalu sesudah Nuh, sesudah Hud, sesudah Saleh, sesudah Luth, dan sesudah Syuaib. Delapan kali, tanpa satu kata pun berubah.
Susunan begini punya nama di dunia sastra mana pun. Bait yang diulang di akhir tiap bagian adalah cara kerja pantun berkait, syair panjang, dan hampir semua puisi lisan yang dihafal orang sebelum ada kertas.
Dan cara kerjanya sama di sini. Pengulangan itu membuat tujuh cerita yang berbeda terasa sebagai satu bangunan, dan membuat orang yang mendengarnya sekali langsung bisa menebak apa yang datang sesudah cerita berikutnya.
Penyair yang diserang di ujung
memulai serangannya: dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Dua ayat berikutnya menambahkan bahwa mereka mengembara di tiap lembah dan mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.
Alasannya masuk akal buat keadaan waktu itu. Penyair di Arab abad ketujuh bukan orang yang menulis di kamar. Mereka juru bicara suku, penyebar reputasi, dan senjata dalam pertengkaran antar kabilah, dan sebagian memang dibayar untuk menjatuhkan lawan.
Yang jadi soal, tuduhannya tidak dibatasi pada praktik itu. Yang disebut penyairnya sebagai golongan, dan pengecualiannya baru datang di ayat terakhir: kecuali yang beriman, beramal saleh, dan banyak mengingat Allah.
Jadi pembedaannya bukan pada mutu ucapan atau kejujurannya, melainkan pada pihak mana yang diucapkan. Penyair yang sejalan diberi tempat, yang tidak sejalan masuk golongan yang diikuti orang sesat.
Yang tersisa dari pembedaan itu
Kesulitan pembedaan semacam ini kelihatan justru dari surat ini sendiri. Yang menuduh penyair mengembara di tiap lembah adalah naskah yang berbait, berima, dan berulang dengan disiplin yang cuma dimiliki penyair terlatih.
menjawabnya dari arah asal, bukan dari arah bentuk: kitab ini dibawa turun oleh ruh yang terpercaya, ke dalam hatimu, dengan bahasa Arab yang jelas.
Jawaban itu memindahkan perkaranya ke tempat yang tidak bisa diperiksa siapa pun. Bentuknya diakui mirip, dan yang membedakan disebut asalnya. Orang yang sudah percaya tidak butuh lebih dari itu; orang yang belum tidak punya apa pun untuk dipegang.
Di sini pembedaan yang sama masih hidup dalam bentuk lain. Qasidah, salawat, dan syair religi diterima tanpa keberatan, sedangkan puisi yang tidak menyebut Tuhan sesekali masih dicurigai sebagai kegiatan yang sia-sia. Yang dipakai memilah tetap isi keberpihakannya, bukan mutunya.
Tujuh cerita dengan satu cetakan
Nuh, Hud, Saleh, Luth, dan Syuaib muncul berurutan dengan kalimat pembuka yang hampir seragam: tidakkah kalian bertakwa, sesungguhnya aku ini rasul yang dipercaya untuk kalian, maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku, dan aku tidak meminta upah kepada kalian.
Kalimat tentang tidak meminta upah muncul di semua cerita, dan itu bukan kebetulan. Yang sedang dijawab keberatan yang paling sering muncul terhadap orang yang mengaku membawa pesan: dia cari apa dari ini semua.
Sebagai jawaban, itu kuat, dan sampai sekarang masih dipakai. Yang tidak ikut terjawab, orang yang tidak meminta uang tetap bisa meminta hal lain, dan kesetiaan termasuk salah satunya.
Kemenangan di depan penonton
menceritakan pertandingan Musa melawan penyihir Firaun sekali lagi, dan bagian ini juga memakai bentuk pertunjukan: orang dikumpulkan, dua pihak tampil bergantian, penonton menilai.
Yang menentukan hasilnya kemampuan yang lebih besar. Tongkat Musa menelan tali-tali mereka, dan penyihirnya langsung bersujud.
Susunan ini punya masalah yang sama dengan semua pembuktian lewat pertunjukan. Yang dibuktikan bukan isi ajarannya, melainkan siapa yang lebih hebat. Dan kalau ukurannya kehebatan, ukurannya bisa dipakai pihak mana pun yang kebetulan lebih hebat hari itu.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.