← Bedah Surat

QS 053  ·  An-Najm 53:1-62  ·  Makkiyah  ·  13 menit

An-Najm: Tiga Dewi dan Kalimat yang Dicabut

Tiga nama dewi disebut berurutan di surat ini: Latta, Uzza, dan Manat yang ketiga. Menurut riwayat yang dicatat sejarawan Muslim paling awal, di antara ketiga nama itu sempat ada kalimat yang memuji mereka, dan kalimat itu kemudian dicabut. Yang tersisa di sekarang bantahan yang keras, ditambah satu penilaian tentang kenapa orang Arab memilih dewi dan bukan dewa.

Penglihatan yang saksinya satu

membuka surat dengan peristiwa yang tidak ada saksinya: dia melihatnya sekali lagi di Sidratul Muntaha, dekat surga tempat tinggal, ketika pohon itu diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.

Ayat 11 menyatakan: hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Ayat 17 menambahkan: penglihatannya tidak berpaling dan tidak melampaui batas.

Penegasan berlapis semacam itu biasanya muncul waktu ada yang meragukan. Dan yang ditegaskan bukan bahwa orang lain juga melihatnya, melainkan bahwa yang melihat tidak keliru.

Untuk peristiwa yang cuma dialami satu orang, penegasan itu tidak bisa diperiksa siapa pun. Yang bisa dikatakan cuma bahwa orangnya yakin, dan keyakinan seseorang bukan hal yang sama dengan kejadian.

Tiga nama yang disebut terang-terangan

menyebut nama-nama itu: maka apakah patut kalian menganggap Latta dan Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling kemudian?

Sedikit sekali tempat di kitab ini yang menyebut sesembahan tetangganya dengan nama. Biasanya yang disebut cuma berhala atau sekutu. Dan di ceramah di sini, tiga nama itu hampir selalu dilewati begitu saja, kalah jauh oleh bagian penglihatannya.

Riwayat tentang apa yang sempat terjadi di antara dua ayat itu dicatat oleh Ibnu Ishaq dan Ath-Thabari, dua sumber yang sama dipakai untuk hampir semua yang diketahui orang tentang riwayat hidup Muhammad. Sebagian ulama belakangan menolak riwayat itu, sebagian menerimanya sebagai peristiwa nyata. Perkaranya dibongkar tersendiri di Ayat-ayat Setan.

Bantahan yang memakai anggapan lama

menyusun bantahannya: apakah patut untuk kalian yang laki-laki dan untuk Dia yang perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

Sindirannya tepat sasaran terhadap orang yang dituju. Mereka memang malu punya anak perempuan, dan sekaligus menisbahkan anak perempuan kepada Tuhan.

Tapi sindiran itu butuh satu syarat supaya mengena. Bantahannya cuma kena kalau pendengarnya sudah lebih dulu setuju bahwa anak perempuan itu bagian yang lebih rendah.

Jadi anggapan yang jadi pangkal masalahnya dipakai sebagai senjata untuk melawan akibatnya. Yang dibongkar penyembahannya, dan yang tetap berdiri anggapan bahwa perempuan pembagian yang tidak setara.

Tidak ada yang memikul beban orang lain

memuat dua kalimat yang jadi dasar seluruh gagasan tanggung jawab pribadi: bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

Kalimat itu memutus rantai dosa warisan, dan memutusnya lebih tegas daripada banyak tradisi lain.

Yang bertabrakan dengannya kisah-kisah kota yang dihabiskan seluruh penduduknya, yang muncul justru beberapa ayat sesudahnya di surat ini juga: kaum Nuh, Ad, Tsamud, dan negeri yang dijungkirbalikkan.

Dua-duanya ada di satu surat pendek. Yang satu menyatakan tidak ada yang menanggung perbuatan orang lain, dan yang satu lagi menceritakan seluruh kota yang ditanggungkan akibat perbuatan sebagian penghuninya.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria