← Bedah Surat

QS 055  ·  Ar-Rahman 55:1-78  ·  Madaniyah  ·  13 menit

Ar-Rahman: Tiga Puluh Satu Kali dan Yang Jarang Diperiksa

Satu kalimat diulang tiga puluh satu kali di surat ini, dan yang mendengarnya tidak perlu mengerti bahasa Arab untuk ikut hanyut. Ar-Rahman diputar di toko, di mobil, dan di kamar orang sakit, biasanya sebagai murotal yang dibiarkan mengalir sampai habis. Kekuatannya ada di bunyinya, dan yang jarang diperiksa isi kalimat yang diulang itu.

Bunyi yang mempan tanpa arti

Ar-Rahman disusun dengan bait yang kembali terus: maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian dustakan. Tiga puluh satu kali, dengan jarak yang teratur.

Susunan begitu mempan pada telinga siapa pun. Orang yang tidak tahu satu kata pun bahasa Arab tetap bisa merasakan iramanya, dan itu sebabnya surat ini paling sering dipilih jadi murotal yang diputar di minimarket, di angkot, dan di kamar orang sakit.

Kegunaan itu sama sekali tidak memerlukan isinya. Yang menenangkan bentuknya, bukan pesannya.

Kalimat yang diulang itu sebuah tuduhan

Kalau artinya dibaca, kalimat yang diulang itu bukan pujian dan bukan syukur. Bentuknya pertanyaan yang menuduh, dan yang dituduh pendengarnya.

Kata gantinya juga khusus: dalam bahasa aslinya, sapaan itu ditujukan kepada dua pihak sekaligus, dan tafsir sepakat yang dimaksud manusia dan jin.

Jadi surat yang di sini didengarkan sebagai bacaan penenang sebenarnya berbentuk teguran berulang kepada dua golongan yang dianggap suka mengingkari.

Api yang ikut masuk daftar

Bait itu tidak cuma menyusul gambaran yang menyenangkan. menyebut nyala api dan cairan tembaga yang dilepaskan kepada mereka, lalu bait yang sama datang lagi.

melanjutkan dengan orang berdosa yang dikenali dari tandanya lalu diseret ubun-ubun dan kakinya, dan neraka yang didatangi bolak-balik antara apinya dan air mendidih. Sesudah tiap potongan itu, bait yang sama diulang lagi.

Jadi yang disebut nikmat di surat ini termasuk hukumannya. Penafsir menerangkan bahwa yang dimaksud keadilannya, atau peringatannya yang jadi nikmat karena memberi kesempatan berubah.

Penjelasan itu masuk akal dari dalam. Dari luar, yang tersisa satu kalimat yang isinya menanyakan nikmat mana yang didustakan, dipasang persis sesudah gambaran orang diseret ke air mendidih.

Surga yang disusun untuk satu pihak

Bagian terakhir surat ini menggambarkan dua surga, lalu dua lagi di bawahnya: buah-buahan berpasangan, permadani yang bagian dalamnya sutra tebal, dan bidadari yang tidak pernah disentuh manusia maupun jin sebelumnya.

Yang digambarkan di situ kenikmatan yang dirasakan satu pihak, dan pihak lain hadir sebagai bagian dari kenikmatannya.

Ini bukan hal yang aneh untuk gambaran yang disusun di abad ketujuh untuk pendengar laki-laki, dan sebagian penafsir modern membacanya sebagai kiasan yang tidak perlu diambil harfiah.

Yang tidak bisa ditutup jalan keluar itu, gambaran yang paling rinci di seluruh surat justru bagian ini, dan kerinciannya yang membuatnya susah dibaca sebagai kiasan.

Tantangan menembus langit

memuat tantangan yang sekarang jadi bahan pembicaraan tersendiri: hai golongan jin dan manusia, kalau kalian sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kalian tidak akan sanggup menembusnya kecuali dengan kekuatan.

Kata terakhirnya sultan, dan artinya kekuatan atau kewenangan. Sesudah manusia sampai ke bulan, ayat ini mulai dibaca sebagai isyarat bahwa penjelajahan luar angkasa memang mungkin asal punya kemampuan.

Bacaan itu tidak mustahil, dan tetap punya persoalan yang sama dengan semua bacaan sejenis: penafsir klasik membacanya sebagai keterangan bahwa manusia tidak akan bisa lari dari hitungan, bukan sebagai izin bepergian. Kecocokannya ditemukan sesudah roketnya ada.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria