← Bedah Surat

QS 093  ·  Ad-Duha 93:1-11  ·  Makkiyah  ·  9 menit

Ad-Duha: Nabi yang Cemas, Muhammad yang Tersesat, dan Etika Bersyukur yang Personal

Ad-Duha turun dalam konteks yang sangat spesifik: wahyu kepada Muhammad terhenti selama beberapa hari, dan para penentangnya mengejek bahwa Tuhannya sudah meninggalkan dan membencinya. Surat ini adalah respons, pembelaan personal kepada Muhammad yang sedang mengalami tekanan. Konteks ini penting: ia memperlihatkan Muhammad sebagai manusia yang mengalami kecemasan dan membutuhkan jaminan, bukan sebagai nabi yang memiliki keyakinan penuh. Surat ini juga menyebut Muhammad sebagai dhall, tersesat, sebelum mendapat wahyu, dan membangun etika bersyukur yang berpusat pada pengalaman personal Muhammad sendiri.

Peta Masalah

Surat ini memuat konteks asbabun nuzul yang memperlihatkan kecemasan Muhammad saat wahyu terhenti, penyebutan Muhammad sebagai 'tersesat' sebelum wahyu yang bertentangan dengan narasi kenabian yang sempurna, janji personal kepada Muhammad yang mengindikasikan motivasi pribadi dalam misi kenabian, etika berbuat baik yang dimotivasi bukan oleh nilai intrinsik melainkan oleh bersyukur atas nasib pribadi yang lebih baik, dan surat yang sangat personal sehingga klaim universalitasnya sulit dipertahankan.

Wahyu yang terhenti dan nabi yang cemas

menyatakan: 'Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.' Catatan tafsir menjelaskan latar belakangnya: wahyu terhenti untuk sementara waktu, dan orang-orang musyrik mengejek bahwa Tuhan Muhammad sudah meninggalkan dan membencinya. Surat ini turun sebagai pembelaan.

Konteks ini mengungkapkan sesuatu yang penting tentang kondisi psikologis Muhammad: ia cukup terpengaruh oleh ejekan itu sehingga Allah perlu menurunkan wahyu yang secara eksplisit menjamin bahwa Allah belum meninggalkan atau membencinya. Orang yang memiliki keyakinan penuh tidak memerlukan jaminan bahwa Tuhannya masih bersamanya. Kecemasan itu nyata, dan wahyu merespons kecemasan itu.

Berhentinya wahyu selama periode tertentu, yang dikenal sebagai fathrat al-wahy, juga menimbulkan pertanyaan historis tentang bagaimana mekanisme 'wahyu' bekerja. Jika wahyu adalah komunikasi ilahi yang bisa berhenti secara tiba-tiba, apa yang membedakannya dari pengalaman kreatif manusia yang juga datang dan pergi? Tradisi Islam menjelaskannya sebagai ujian atau hikmah ilahi, tapi ini adalah penjelasan yang dibangun setelah fakta.

Muhammad yang tersesat

menyatakan: 'Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.' Kata yang digunakan adalah dhall, yang dalam konteks Al-Qur'an lain berarti tersesat, bukan sekadar bingung. Surat Al-Fatihah menggunakan kata yang sama: 'bukan (jalan) mereka yang sesat' menggunakan dhall.

Ini adalah pernyataan bahwa Muhammad, sebelum menerima wahyu, berada dalam kondisi kesesatan yang memerlukan petunjuk ilahi untuk dibenarkan. Tapi narasi teologis mainstream tentang kenabian, khususnya dalam hadis dan sirah, membangun gambaran Muhammad sebagai orang yang sudah memiliki integritas moral yang tinggi sejak sebelum kenabian, dijuluki al-amin (yang terpercaya). Dua narasi ini tidak mudah direkonsilasikan.

Catatan kaki apologetik dalam terjemahan mencoba menetralisasi dengan menjelaskan dhall sebagai 'kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal', bukan kesesatan moral. Tapi intervensi tafsir seperti ini adalah interpretasi yang melembutkan teks, bukan yang dinyatakan teks sendiri. Teks berkata dhall, dan dalam konteks Al-Qur'an, kata itu berarti sesat.

Etika berbuat baik karena kamu pernah ditolong

membangun logika moral yang menarik: Allah mendapatimu yatim lalu melindungimu; mendapatimu tersesat lalu memberi petunjuk; mendapatimu kekurangan lalu mencukupkan. Karena itu: jangan berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim, jangan menghardik peminta-minta, dan sebutkan nikmat Tuhanmu.

Struktur ini adalah etika berbasis pengalaman pribadi: berbuat baiklah karena kamu sendiri pernah mengalami kondisi yang serupa dengan yang akan kamu tolong. Ini bukan tanpa nilai, empati yang lahir dari pengalaman pribadi adalah motivasi moral yang sangat nyata. Tapi ia adalah dasar yang lebih rapuh dari empati yang lahir dari prinsip: empati berbasis pengalaman pribadi hanya mencakup kondisi yang pernah kita alami sendiri.

Yang lebih penting secara teologis: seluruh bagian ini sangat personal kepada Muhammad. 'Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim', ini tentang Muhammad khusus, bukan tentang prinsip universal. Surat yang sangat kontekstual dan personal ini diklaim sebagai wahyu ilahi untuk seluruh umat manusia sepanjang masa. Jarak antara konteks original, penghiburan seorang nabi yang cemas karena wahyu berhenti, dan klaim universalitas adalah jarak yang besar.

Janji kemenangan dan kepuasan kepada Muhammad

menjanjikan: 'Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.'

Ini adalah janji personal tentang keberhasilan duniawi misi Muhammad, bahwa perjuangannya akan dimenangkan dan ia akan menjadi puas. Secara historis, janji ini terpenuhi dalam pengertian tertentu: Muhammad berhasil memperluas komunitas Muslim, menaklukkan Mekah, dan meletakkan fondasi imperium yang akan meluas dalam abad-abad berikutnya.

Tapi janji personal tentang keberhasilan misi kepada orang yang menjalani misi itu memperlihatkan dimensi kepentingan diri yang tidak bisa diabaikan. Seseorang yang memiliki motivasi untuk percaya bahwa dirinya menerima wahyu ilahi, karena wahyu itu menjanjikan keberhasilan dan kepuasan baginya secara personal, tidak bisa dijadikan saksi yang tidak bias tentang keaslian wayhunya sendiri. Ini bukan argumen bahwa Muhammad tidak jujur, tapi argumen bahwa sistem epistemik yang mengandalkan kesaksian tunggal dari pihak yang paling diuntungkan tidak memiliki mekanisme verifikasi yang memadai.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria