← Bedah Surat

QS 093  ·  Ad-Duha 93:1-11  ·  Makkiyah  ·  9 menit

Ad-Duha: Tiga yang Diterima Jadi Tiga yang Diperintahkan

Sebelas ayat, dan enam di antaranya menyusun satu bentuk yang jarang: tiga hal yang pernah diterima seseorang diubah jadi tiga perintah kepadanya. Pernah yatim, maka jangan sewenang-wenang terhadap yatim. Susunan itu mempan tanpa memerlukan satu pun ancaman.

Tiga yang diterima jadi tiga yang diperintahkan

menyebut tiga hal berturut-turut: bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan.

mengubah ketiganya jadi perintah dengan urutan yang sama: adapun terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang meminta, janganlah engkau menghardik, dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau menyebutnya.

Perhatikan pasangannya. Yatim dibalas dengan larangan menyewenangi yatim. Kekurangan dibalas dengan larangan membentak peminta. Petunjuk dibalas dengan perintah menyampaikan.

Yang membuat susunan ini mempan bukan ancaman dan bukan janji, sebab tidak ada satu pun di sebelas ayat ini. Yang dipakai ingatan orangnya sendiri. Dasarnya bukan perintah dari luar, melainkan hal yang sudah dialami orang yang diperintah, dan perintah semacam itu jauh lebih sulit ditolak.

Bentuk ini bisa dipakai siapa saja tanpa perlu menerima apa pun tentang asalnya, dan itu yang membuat enam ayat ini termasuk bagian paling bisa dipakai di seluruh Al-Qur'an. Yang pernah ditolong menolong, dan alasannya bukan pahala melainkan pernah berada di tempat orang yang ditolong.

Salat yang mengambil nama dari sini

membuka dengan sumpah demi waktu duha, yaitu pagi menjelang tengah hari waktu matahari sudah naik sepenggalah.

Dari kata itu diambil nama salat duha, dan di sini kedudukannya besar. Sekolah Islam menjadwalkannya berjamaah sebelum jam pelajaran ketiga, kantor yang punya musala menyediakan waktunya, dan ceramah tentang duha sebagai pembuka rezeki punya pendengar tetap.

Yang perlu dipisahkan, dasar salat duha bukan surat ini. Surat ini cuma menyebut waktunya sebagai hal yang disumpahi, dan tidak ada satu pun ayat yang menyuruh salat pada waktu itu. Yang menetapkan tuntunannya riwayat.

Jarak antara nama dan dasarnya jarang disebutkan waktu keutamaannya disampaikan, dan akibatnya kelihatan pada cara orang menyebutnya. Salat duha sering diterangkan seolah punya ayat sendiri, dan ayat yang sebenarnya ada di surat ini justru tentang anak yatim dan orang yang datang meminta.

Tuhanmu tidak meninggalkanmu

memuat jawabannya: Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.

Riwayat menyebut sebabnya jeda panjang tanpa wahyu, dan orang di sekitarnya mengatakan bahwa yang mengutusnya sudah meninggalkannya. Kalau riwayat itu dipakai, surat ini jawaban atas ejekan, bukan atas pertanyaan.

Jawabannya tidak berbentuk bantahan, bukti, atau keterangan tentang kenapa jedanya terjadi. Yang diberikan pengingat tentang tiga hal yang sudah pernah diterima. Susunan itu tidak menyelesaikan tuduhannya, dan memang tidak berusaha menyelesaikannya.

Terhadap peminta, jangan menghardik

memuat larangan yang isinya kecil dan akibatnya tidak kecil: dan terhadap orang yang meminta, janganlah engkau menghardik.

Yang dilarang bukan menolak memberi, melainkan cara menolaknya. Orang yang tidak punya boleh tidak memberi, dan tetap tidak boleh membentak.

Pemisahan itu berguna justru karena tidak menuntut yang tidak mungkin. Di lampu merah, di depan minimarket, dan di teras masjid sesudah Jumatan, orang yang meminta dihadapi tiap hari, dan yang paling sering keluar bukan penolakan melainkan cara menolak yang membuat orangnya merasa lebih kecil daripada sebelum meminta. Ayat ini menutup yang kedua tanpa mewajibkan yang pertama.

Ceritakanlah nikmat Tuhanmu

menutup surat: dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya.

Dibaca di tempatnya, perintah ini pasangan dari petunjuk yang diterima di ayat 7, jadi yang diminta menyampaikan apa yang sudah didapat. Dibaca lepas dari tempatnya, kalimat ini sering dipakai membenarkan memamerkan keberhasilan di media sosial dengan sebutan bersyukur, dan pemakaian itu membalik arahnya. Di ayat 7 yang diterima petunjuk waktu sedang bingung, bukan kekayaan waktu sedang berhasil.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria