← Bedah Surat

QS 084  ·  Al-Insyiqaq 84:1-25  ·  Makkiyah  ·  9 menit

Al-Insyiqaq: Ruang Kosong yang Diisi Tiap Zaman

Ada satu ayat pendek di surat ini yang artinya tidak disepakati siapa pun, sejak penafsir tertua sampai penulis buku keajaiban ilmiah zaman sekarang. Bunyinya sesungguhnya kalian benar-benar akan menempuh tingkat demi tingkat. Apa yang ditempuh dan tingkat apa tidak pernah disebutkan.

Ayat yang artinya tidak disepakati

menyusun tiga sumpah lalu satu pernyataan: maka Aku bersumpah demi cahaya merah di waktu senja, dan demi malam dan apa yang diselubunginya, dan demi bulan apabila jadi purnama, sesungguhnya kalian benar-benar akan menempuh tingkat demi tingkat.

Kalimat terakhir itu tidak menyebutkan siapa yang menempuh apa. Kata yang dipakai latarkabunna, yang akar katanya sama dengan menaiki kendaraan, dan tabaqan an tabaq, yaitu lapis sesudah lapis.

Penafsir lama sudah terbelah. Sebagian membacanya sebagai tahap-tahap hidup manusia dari bayi sampai tua. Sebagian sebagai tingkat-tingkat keadaan di hari kiamat. Sebagian lagi sebagai lapisan langit yang dilalui.

Penulis buku keajaiban ilmiah pada abad kedua puluh mengambil bacaan yang ketiga dan menariknya ke penerbangan antariksa, dengan alasan roket memang menembus lapisan udara satu per satu. Bacaan itu ditambahkan sesudah roket ada, bukan sebelumnya.

Dari seluruh riwayat ini, bacaan yang benar tetap tidak ketahuan; sifat ruang kosongnya yang kelihatan. Ayat yang tidak menyebutkan bendanya bisa menampung apa saja yang dibawa pembacanya, dan tiap zaman mengisinya dengan yang paling mengesankan pada zaman itu. Isian yang cocok dengan zamannya lalu dihitung sebagai bukti bahwa ayatnya sudah tahu lebih dulu, padahal yang berubah cuma isinya.

Bekerja keras menuju Tuhanmu

memuat satu kalimat yang isinya besar: hai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.

Kata yang dipakai kadih, yaitu bekerja sampai payah, kata yang biasa dipakai untuk kerja badan yang melelahkan.

Hidup di kalimat ini tidak dibayangkan sebagai ujian atau penukaran. Bayangannya kerja yang melelahkan dengan satu ujung. Gambaran itu jauh lebih dekat ke keadaan orang kebanyakan daripada gambaran dagang yang dipakai di banyak tempat lain, dan justru bagian ini yang paling jarang diambil jadi bahan ceramah.

Sujud di tengah bacaan

mencatat satu keberatan: mengapa mereka tidak mau beriman, dan apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.

Ayat 21 termasuk yang ditandai di sebagai tempat sujud tilawah, jadi pembaca yang sampai ke situ dianjurkan bersujud. Di sini tandanya tercetak di pinggir halaman dan diajarkan sejak di taman pendidikan Al-Qur'an.

Susunan itu berbalik pada dirinya sendiri. Ayat yang mencela orang karena tidak bersujud waktu mendengar bacaan dijadikan tempat bersujud waktu dibacakan, jadi pembacanya mengerjakan persis kebalikan dari yang dicela.

Yang dikerjakan kebiasaan itu memindahkan kalimat dari keterangan tentang orang lain jadi tindakan pembacanya sendiri. Bentuk semacam ini yang membuat sebuah bacaan berhenti jadi bacaan dan berubah jadi kegiatan, dan pemindahan itu berjalan lewat tanda kecil di pinggir halaman yang tidak ada di naskah paling awal.

Catatan dari balik punggung

membagi dua: adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan kembali kepada kaumnya dengan gembira, dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak celaka.

Yang membedakan dari gambaran serupa di Al-Haqqah cara penyerahannya. Di sana tangan kiri, di sini dari balik punggung.

Gambaran menerima sesuatu dari belakang punggung mengena karena bentuknya menyerupai orang yang menolak melihat. Orang itu menolak catatannya, bukan hukumannya, dan penolakan itu digambarkan lewat letak tangan, bukan lewat kata-kata. Bagian ini termasuk yang paling padat di surat pendek mana pun.

Bumi yang jadi kosong

menyebut apa yang terjadi pada bumi: dan apabila bumi diratakan, dan bumi memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.

Kata yang dipakai takhallat, yaitu jadi kosong sesudah isinya keluar. Gambarannya menghabiskan bumi sampai tidak ada apa-apa lagi di dalamnya, dan di ayat berikutnya bumi disebut mendengarkan Tuhannya dan memang sudah semestinya patuh. Benda yang sebelumnya cuma wadah diberi pendengaran dan kepatuhan, dan bentuk itu berulang di beberapa surat pendek lain.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria