QS 067 · Al-Mulk 67:1-30 · Makkiyah · 11 menit
Al-Mulk: Tiga Puluh Ayat Sebelum Tidur
Surat ini dibaca tiap malam sebelum tidur oleh banyak sekali orang di sini, dan alasannya bukan satu ayat di dalamnya. Alasannya sebuah yang menyebut tiga puluh ayat yang memberi syafaat sampai pembacanya diampuni, dan dari situ tumbuh kebiasaan yang bertahan turun-temurun sebagai penangkal siksa kubur.
Tiga puluh ayat sebelum tidur
Kebiasaannya bertumpu pada satu riwayat yang dicatat Abu Dawud dan Tirmizi: ada satu surat dari Al-Qur'an yang terdiri dari tiga puluh ayat, yang memberi syafaat bagi seseorang sampai dia diampuni. Riwayat lain menyebutnya penghalang dari siksa kubur.
Dari riwayat itu tumbuh kebiasaan yang kelihatan di mana-mana di sini. Al-Mulk dibaca sesudah salat Isya, diperdengarkan lewat murotal menjelang tidur, dibacakan di tahlilan, dan dianjurkan guru ngaji kepada murid yang baru selesai mengaji.
Dasarnya sepenuhnya berada di luar Al-Qur'an. Tidak ada ayat mana pun di surat ini yang menyebut keutamaan membacanya, dan tidak ada satu pun bagian yang menyinggung kubur. Yang menghubungkan keduanya riwayat yang datang belakangan.
Akibatnya bisa dilihat pada cara orang membacanya. Yang dikejar jumlahnya lengkap tiga puluh ayat dan waktunya tepat sebelum tidur, sedangkan isi ketiga puluh ayat itu jarang jadi bahan pembicaraan. Bacaan yang gunanya berasal dari luar dirinya cenderung berhenti dibaca sebagai bacaan.
Kematian yang disebut diciptakan
memuat kalimat pembuka yang tidak biasa: Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.
Kematian disebut lebih dulu daripada kehidupan, dan dua-duanya disebut sebagai yang diciptakan. Ini berbeda dari cara biasa menerangkan kematian sebagai berhentinya sesuatu. Di sini kematian punya kedudukan yang sama dengan hidup, yaitu sesuatu yang dibuat dengan maksud.
Maksudnya disebut di kalimat berikutnya, yaitu menguji siapa yang paling baik amalnya. Susunan itu menerangkan seluruh keberadaan manusia sebagai ujian dengan satu penilai, dan hasilnya cuma dibuka sesudah ujiannya selesai. Bagi orang yang menerimanya, susunan ini memberi arah. Bagi yang tidak, yang tersisa keterangan tentang maksud yang tidak menyediakan cara memeriksanya.
Bintang yang dipakai melempar setan
menyatukan dua hal dalam satu kalimat: dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan lampu-lampu, dan Kami jadikan lampu-lampu itu alat pelempar setan.
Kalimat pertamanya keterangan yang bisa dimengerti siapa pun yang pernah melihat langit malam. Kalimat keduanya menetapkan kegunaan kedua untuk benda yang sama.
Kesulitannya di penyatuan itu. Yang menghiasi langit malam bintang, dan bintang tidak berada di lapisan yang dekat, tidak bergerak turun, dan tidak melempar apa-apa. Yang jatuh dan menyala meteor, dan yang menyalakannya gesekan dengan udara, bukan pengejaran terhadap sesuatu. Dua kejadian yang berbeda diperlakukan sebagai satu benda dengan dua tugas.
Di sini bintang jatuh punya riwayatnya sendiri sebelum ayat ini sampai. Dalam kepercayaan Jawa, lintang kemukus dibaca sebagai pertanda datangnya sesuatu, dan pembacaan semacam itu bertahan berdampingan dengan pembacaan yang datang dari ayatnya. Dua-duanya menaruh maksud pada benda yang lintasannya sudah bisa dihitung sebelumnya.
Neraka yang hampir pecah karena marah
memberi gambaran yang jarang ditiru di tempat lain: mereka mendengar suaranya menggelegak, hampir-hampir neraka itu terpecah karena marah.
Gambarannya lebih dari sebuah tempat, sebab yang dilukiskan punya perasaan. Neraka di sini mendidih, bersuara, dan marah, dan kemarahannya hampir membuatnya hancur sendiri.
Gambaran semacam ini punya kekuatan yang tidak dimiliki keterangan biasa tentang hukuman, sebab yang dibayangkan pembacanya bukan lagi ukuran siksaan, melainkan sesuatu yang membenci dirinya. Dan begitu tempat hukuman diberi perasaan, jarak antara hukuman dan kebencian jadi hilang, padahal dua hal itu berbeda dan perbedaannya menentukan.
Air yang bisa disurutkan
menutup surat dengan pertanyaan yang tidak dijawab: katakanlah, terangkanlah kepadaku, jika air kalian menjadi surut ke dalam tanah, siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagi kalian.
Sebagai penutup, pilihannya bagus. Sesudah dua puluh sembilan ayat tentang kuasa, langit, neraka, dan kebangkitan, yang dipakai menutup satu hal yang paling sehari-hari, yaitu air sumur yang bisa habis.
Dan pertanyaannya masih hidup di tempat yang tidak dibayangkan penyusunnya. Di kota-kota di sini, air tanah memang surut, dan yang menyurutkannya bisa disebut namanya: sumur bor yang terlalu dalam, tanah yang tertutup beton, dan permukaan tanah yang ikut turun tiap tahun. Ayat ini menaruh pertanyaannya kepada langit, dan jawabannya sekarang tersedia di tempat yang lebih dekat.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.