QS 046 · Al-Ahqaf 46:1-35 · Makkiyah · 12 menit
Al-Ahqaf: Angka Hasil Pengurangan yang Masuk Ruang Sidang
Dua ayat dari dua surat yang berbeda, kalau dikurangkan, menghasilkan angka yang sampai sekarang dipakai memutuskan nasib orang di ruang sidang. Surat ini menyebut masa mengandung dan menyapih tiga puluh bulan. Al-Baqarah menyebut menyusui dua tahun penuh. Selisihnya enam bulan, dan dari selisih itu ditetapkan usia kandungan paling singkat yang diakui sah.
Tiga puluh dikurangi dua puluh empat
menyebut kesulitan seorang ibu: mengandung anaknya dengan susah payah, melahirkannya dengan susah payah, dan masa mengandung sampai menyapihnya tiga puluh bulan.
menyebut angka pembandingnya: para ibu menyusui anak-anaknya dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.
Dua puluh empat bulan menyusui dikurangkan dari tiga puluh bulan, sisanya enam. Hitungan itu dikaitkan dengan Ibnu Abbas, dan menurut riwayat dipakai Ali untuk membela seorang perempuan yang hendak dihukum karena melahirkan enam bulan sesudah menikah.
Yang mengagumkan dari hitungan itu, hasilnya tidak jauh dari yang diketahui sekarang. Bayi yang lahir di usia kandungan sekitar dua puluh empat minggu memang sudah punya peluang bertahan, meski kecil, dan enam bulan berada persis di sekitar batas itu. Untuk aritmetika yang disusun dari dua potongan ayat, itu tebakan yang jauh lebih dekat daripada yang bisa diharapkan.
Angka yang masih dipakai di ruang sidang
Angka enam bulan itu tidak berhenti di kitab . Kompilasi Hukum Islam memakainya untuk menetapkan sah atau tidaknya seorang anak dinasabkan kepada suami ibunya, dan pengadilan agama memutus berdasarkan itu.
Akibatnya nyata pada orang. Anak yang lahir kurang dari enam bulan sesudah akad bisa berakhir tidak diakui nasabnya kepada bapaknya, dan itu berlanjut ke akta kelahiran, wali nikah, dan pembagian warisan.
Di seluruh rangkaian ini, tidak ada satu ayat pun yang menyebut angka enam. Yang ada dua angka di dua surat yang bicara soal berbeda, satu tentang beratnya mengasuh dan satu tentang menyusui. Angka ketiganya hasil pengurangan yang dikerjakan manusia.
Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku
memuat pengakuan yang jarang sekali ada bandingnya: katakanlah, aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul, dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadap kalian.
Kalimat itu menutup satu klaim besar dari dalam. Orang yang menyampaikan kabar tentang akhirat menyatakan tidak tahu nasibnya sendiri di sana.
Penafsir belakangan menempuh macam-macam jalan untuk melunakkannya, dari membacanya sebagai keterangan tentang nasib di dunia sampai menyebutnya berlaku sebelum turunnya ayat lain yang memberi jaminan. Jalan itu ditempuh karena kalimatnya memang tidak enak dipegang.
Dibaca apa adanya, kalimat ini justru bagian paling terus terang di surat ini, dan bikin pembicaranya lebih dekat dengan pendengarnya daripada bagian mana pun yang berisi ancaman.
Anak yang bertanya lalu disebut durhaka
menyusun adegan keluarga yang bunyinya modern sekali. Seorang anak berkata kepada kedua orang tuanya: cis untuk kalian berdua, apakah kalian mengancamku bahwa aku akan dikeluarkan dari kubur, padahal sudah berlalu umat-umat sebelum aku dan tidak seorang pun kembali?
Keberatannya sebenarnya masuk akal dan bisa diperiksa: kalau memang ada yang dibangkitkan, kenapa tidak seorang pun dari yang terdahulu pernah kembali.
Keberatan itu tidak dijawab. Sesudahnya datang keterangan bahwa orang seperti dia termasuk golongan yang pantas menerima ketetapan azab. Perkaranya selesai bukan lewat bantahan, melainkan lewat penggolongan.
Susunan ini masih dipakai di banyak rumah di sini. Anak yang mulai mempertanyakan hal-hal yang dulu diterimanya jarang diajak berdebat isinya. Yang lebih dulu keluar biasanya kekhawatiran bahwa dia terpengaruh sesuatu, dan itu memindahkan perkaranya dari isi pertanyaan ke keadaan orang yang bertanya.
Saksi yang tidak bisa dipanggil
menutup surat dengan rombongan jin yang mendengarkan bacaan, lalu kembali kepada kaumnya untuk memperingatkan.
Ditaruh di surat yang isinya soal pembuktian, letaknya menarik. Yang dihadirkan sebagai saksi yang membenarkan justru golongan yang tidak bisa dipanggil, ditanya, atau diperiksa siapa pun. Kesaksian semacam itu cuma menambah berat buat orang yang sudah menerima keberadaannya.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.