← Bedah Surat

QS 073  ·  Al-Muzzammil 73:1-20  ·  Makkiyah  ·  9 menit

Al-Muzzammil: Perintah dan Pencabutannya dalam Satu Surat

Surat ini memberi perintah di ayat kedua dan mencabutnya di ayat terakhir. Dua puluh ayat, dan di antara keduanya berdiri seluruh isi surat. Pembatalan yang biasanya harus dicari di surat lain dan disusun ulang penafsir, di sini terjadi di dalam satu halaman dan dinyatakan sendiri alasannya.

Perintah dan pelonggarannya dalam satu surat

memberi perintahnya dengan takaran: bangunlah untuk salat di malam hari kecuali sedikit, yaitu seperduanya, atau kurangilah sedikit dari seperdua itu, atau lebihkanlah, dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil.

Takarannya rinci, dan yang ditawarkan pilihan di sekitar setengah malam. Bagi orang yang menjalankannya, itu bukan anjuran ringan.

mencabutnya dan menyebutkan sendiri sebabnya: sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua, atau sepertiganya, dan begitu pula segolongan orang yang bersamamu, Allah mengetahui bahwa kalian tidak akan mampu menentukan batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepada kalian, karena itu bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an.

Pembatalan sendiri ada di banyak tempat di Al-Qur'an. Yang tidak biasa di susunan ini jaraknya. Perintah dan pencabutannya berdiri di satu surat yang sama, dan alasannya disebut jelas, yaitu orang tidak sanggup.

Bagi pembaca yang menerima seluruhnya, susunan ini justru enak dipegang, sebab yang kelihatan penyesuaian terhadap kemampuan manusia. Bagi yang memeriksanya dari luar, yang kelihatan urutan waktu: satu aturan diberlakukan, dicoba, tidak berjalan, lalu diringankan. Dua pembacaan itu memakai bahan yang persis sama. Bentuk yang sama di tempat lain sudah dibahas lebih lengkap di Nasikh dan Mansukh.

Bacalah dengan tartil

Empat kata di melahirkan salah satu cabang ilmu yang paling rapi dalam tradisi Islam: wa rattilil qur'ana tartila, bacalah Al-Qur'an dengan perlahan dan tertata.

Dari perintah itu tumbuh ilmu tajwid dengan aturan panjang pendek, dengung, dan tempat berhenti yang dibakukan sampai ke tingkat yang bisa dinilai orang lain.

Di sini pembakuan itu punya bentuknya sendiri. Musabaqah tilawatil quran punya cabang tartil yang terpisah dari tilawah, ada juri, ada lembar penilaian, dan ada pemenang tingkat kabupaten sampai nasional. Anak yang belajar mengaji di musala diajari makhraj huruf sebelum diajari artinya.

Susunan itu punya kelebihan yang nyata: bacaan yang dibakukan ketat bisa diwariskan lintas benua tanpa berubah bunyinya. Ongkosnya juga bisa disebut. Yang dinilai dan dilombakan cara membacanya, dan pemahaman isinya berjalan di jalur lain yang tidak punya juri dan tidak punya piala.

Perkataan yang berat

menyebut apa yang akan datang: sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.

Kata yang dipakai tsaqilan, yaitu berat dalam arti bobot. Penafsir membacanya bermacam-macam: berat isinya, berat menjalankannya, atau berat waktu menerimanya secara jasmani.

Bacaan yang ketiga didukung riwayat tentang keadaan badan waktu wahyu datang, dan riwayat semacam itu justru bagian yang paling jarang dibawakan di mimbar sekarang, sebab gambarannya tidak nyaman. Yang lebih sering diambil bacaan pertama, yaitu berat tanggung jawabnya, dan pemilihan itu bukan hasil pemeriksaan bahasa melainkan hasil pertimbangan tentang mana yang lebih enak disampaikan.

Bangun malam yang bertahan sesudah kewajibannya dicabut

Kewajibannya dicabut, tapi kebiasaannya tidak hilang. Yang tersisa tahajud sebagai amalan yang sangat dianjurkan tanpa ditetapkan takarannya.

Bentuknya kelihatan di pesantren. Santri dibangunkan pukul tiga, ada absensi, dan ada sanksi buat yang tidak bangun. Di luar pesantren bentuknya lebih longgar: salat malam menjelang ujian, menjelang sidang, atau menjelang keputusan besar.

Sesuatu yang sudah dinyatakan tidak sanggup dijalankan orang di ayat 20 tetap saja dipertahankan sebagai ukuran kesungguhan. Orang yang bangun malam dipandang lebih sungguh-sungguh daripada yang tidak, padahal yang membebaskan justru ayat penutup surat yang sama.

Yang ikut masuk di ayat terakhir

tidak berhenti pada keringanan. Di kalimat berikutnya masuk hal-hal lain: ada yang berjalan di bumi mencari karunia Allah, dan ada pula yang berperang di jalan Allah, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.

Perang, zakat yang sudah ditakar, dan pinjaman kepada Allah bukan isi yang biasa muncul di surat-surat awal di Mekah. Bentuknya lebih dekat ke surat-surat Madinah.

Penafsir sendiri mengakuinya. Sebagian besar menggolongkan ayat 20 sebagai Madaniyah sekalipun sembilan belas ayat sebelumnya digolongkan Makkiyah. Jadi satu surat yang dibaca sebagai satu kesatuan sebenarnya memuat dua lapisan waktu yang jaraknya bertahun-tahun, dan yang menyatukannya keputusan penyusunan, bukan urutan turunnya.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria