QS 007 · Al-A'raf 7:1-206 · Makkiyah · 14 menit
Al-A'raf: Sejarah yang Cuma Punya Satu Bentuk
Yang ditawarkan Al-A'raf adalah satu bentuk sejarah. Nuh, Hud, Salih, Luth, Syuaib, sampai Musa, semuanya diceritakan dengan susunan yang nyaris sama: utusan datang, kaumnya menolak, lalu kotanya habis. Bentuk yang diulang tujuh kali berhenti jadi cerita dan berubah jadi cetakan, dan cetakan sejarah selalu perlu ditanya harganya berapa.
Kota yang jatuh di halaman pertama
Sesudah di ayat pembuka, langsung masuk: berapa banyak kota yang telah Kami binasakan, azabnya datang malam hari atau waktu mereka tidur siang.
Yang dipilih jadi satuan cerita adalah kota, bukan orang. Dan kota tidak punya niat, tidak punya pilihan, dan tidak bisa dipilah antara yang menolak dan yang cuma kebetulan tinggal di sana. Bayi, orang tua renta, dan budak yang tidak punya suara ikut masuk hitungan yang sama dengan tokoh yang menantang nabinya di alun-alun.
Perjanjian yang tidak diingat siapa-siapa
memuat adegan yang jarang dibahas di ceramah, padahal akibatnya besar. Seluruh keturunan Adam dikeluarkan dari punggung leluhurnya, lalu ditanya: bukankah Aku Tuhanmu? Semuanya menjawab benar, kami bersaksi.
Alasannya disebut di kalimat berikutnya: supaya pada hari kiamat kalian tidak berkata bahwa kalian tidak tahu.
Jadi kemungkinan tidak tahu ditutup sebelum siapa pun lahir. Orang yang besar di kampung Buddha di Tibet, yang seumur hidup tidak pernah bertemu satu pun Muslim, secara resmi sudah pernah menyetujui perkaranya, cuma tidak ingat. Perjanjian yang tidak diingat oleh salah satu pihak biasanya tidak dianggap mengikat di pengadilan mana pun, dan justru di sini perjanjian semacam itu dipakai menutup pembelaan terakhir.
Iblis yang diberi izin dan diberi waktu
mengulang penolakan Iblis sujud kepada Adam. Penolakannya tidak seberapa dibanding apa yang terjadi sesudahnya. Iblis minta ditangguhkan sampai hari kebangkitan, dan permintaannya dikabulkan.
Iblis lalu menyatakan niatnya terang-terangan: dia akan duduk menghadang di jalan yang lurus dan mendatangi manusia dari depan, belakang, kanan, dan kiri. Niat itu tidak dihalangi.
Susunan ini bikin ujiannya jadi ganjil. Pesertanya dihadapkan pada penggoda yang izinnya diberikan, waktunya diperpanjang, rencananya diumumkan, dan tetap dibiarkan beraksi. Kalau ada yang gagal dalam ujian semacam itu, pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab tidak bisa dijawab dengan menunjuk pesertanya saja.
Lima nabi, satu cerita
Nuh, Hud, Salih, Luth, dan Syuaib muncul berurutan dari sampai , dan susunannya nyaris tidak berubah. Utusan datang, kaumnya menuduhnya sesat atau gila, sebagian kecil percaya, lalu bencana datang dan menghabiskan sisanya.
Diulang seperti itu, pesannya masuk tanpa perlu dijelaskan. Anak-anak yang belajar kisah nabi di TPA hafal polanya jauh sebelum hafal nama kaumnya.
Harganya baru kelihatan kalau ditanya apa yang hilang. Kaum Ad, Tsamud, dan penduduk Madyan hidup di zaman, tempat, dan susunan masyarakat yang jauh berbeda. Semua perbedaan itu diringkas jadi satu sebab tunggal: mereka menolak utusannya. Perang, kekeringan, perebutan kekuasaan, dan runtuhnya jalur dagang tidak masuk hitungan sama sekali.
Dan cara membaca ini tidak berhenti di masa lalu. Sesudah tsunami Aceh, sebagian penceramah menyebutnya azab, dengan susunan penalaran yang persis sama dengan susunan di surat ini. Yang membedakan cuma satu: kali ini korbannya punya nama, alamat, dan keluarga yang masih hidup.
Diciptakan untuk neraka
termasuk ayat paling berat di seluruh Al-Qur'an: dan sungguh Kami telah ciptakan untuk Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka punya hati tapi tidak dipakai memahami, punya mata tapi tidak dipakai melihat, punya telinga tapi tidak dipakai mendengar. Lalu ditutup: mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat.
Dua hal terjadi sekaligus di satu ayat. Nasibnya disebut sudah ditetapkan sejak penciptaan, dan martabatnya diturunkan ke bawah manusia.
menutup jalan keluarnya: siapa yang disesatkan Allah, tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Sesudah kalimat itu, tidak jelas lagi apa arti mengajak orang beriman.
Penafsir sesudahnya bekerja keras melunakkan ini, biasanya dengan membaca kalimatnya sebagai keterangan tentang akhir yang sudah diketahui Tuhan, bukan tentang sebab yang ditetapkan Tuhan. Pembacaan itu menolong, dan tetap tidak menjelaskan kenapa yang dipakai kata diciptakan untuk, bukan kata diketahui akan.
Sejarah yang cuma punya satu bentuk
Al-A'raf mengajari cara membaca masa lalu, dan cara itu manjur sekali. Sekali terpasang, semua reruntuhan kelihatan seperti peringatan, dan semua bencana punya penjelasan yang sudah siap.
Penjelasan yang selalu siap itu yang jadi soal. Cetakan yang bisa menampung apa saja tidak pernah bisa dibantah oleh apa pun, dan yang paling mahal harganya bukan ketepatannya, melainkan orang-orang yang terlanjur dimasukkan ke dalamnya tanpa pernah ditanya.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.