QS 035 · Fatir 35:1-45 · Makkiyah · 12 menit
Fatir: Tiap Umat Disebut Sudah Kedatangan Peringatan
Ada satu kalimat di surat ini yang menjanjikan hal besar: tidak ada satu umat pun kecuali telah datang kepadanya seorang pemberi peringatan. Kalimat itu menutup satu keberatan yang paling sering diajukan, yaitu bagaimana nasib orang yang tidak pernah mendengar. Dan kalimat itu juga membuat sebuah pertanyaan jadi wajar ditanyakan di sini: siapa yang datang ke Nusantara.
Kalimat yang mencakup semua orang
berbunyi lugas: dan tidak ada satu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.
Kalimat itu menyelesaikan keberatan yang paling sering diajukan terhadap gagasan hukuman. Kalau orang dihukum karena menolak pesan, orang yang tidak pernah menerima pesan tidak bisa dihukum. Ayat ini menyatakan keadaan itu tidak pernah ada.
Yang jadi soal, kalimatnya berbicara tentang seluruh sejarah manusia, dan sejarah manusia bisa diperiksa.
Nama-nama yang disebut di kitab ini semuanya berasal dari satu wilayah yang sempit: Mesopotamia, Mesir, Kanaan, dan jazirah Arab. Tidak satu pun dari Tiongkok, India, Amerika, Afrika selatan, atau kepulauan Pasifik yang sudah dihuni ribuan tahun sebelum surat ini turun.
Siapa yang datang ke sini
Pertanyaan itu jadi konkret di negeri ini. Orang sudah tinggal di Nusantara puluhan ribu tahun, dan Islam sampai ke sini paling awal sekitar abad ketiga belas lewat pedagang, jauh sesudah Majapahit berdiri dan Borobudur selesai dibangun.
Jawaban yang biasa diberikan ada dua. Yang pertama, pemberi peringatannya ada tapi namanya tidak dicatat, sebab kitab ini cuma menyebut sebagian. Yang kedua, orang yang tidak pernah menerima pesan diperlakukan berbeda, dan sebagian ulama memang berpendapat begitu.
Jawaban pertama tidak bisa dibantah, dan justru itu kelemahannya. Kalau utusannya bisa ada tanpa satu pun jejak yang tersisa, tidak ada keadaan di dunia ini yang bisa dipakai memeriksa klaimnya.
Jawaban kedua lebih terus terang, dan sekaligus mengakui bahwa kalimat di ayat 24 tidak bisa dibaca seluas bunyinya.
Sayap dua, tiga, dan empat
membuka surat dengan gambaran yang sangat rinci: menjadikan malaikat sebagai utusan yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga, dan empat, dan Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki.
Malaikat bersayap bukan gambaran yang lahir di Arab. Sudah ada di relief Asyur, di tulisan Yahudi tentang serafim bersayap enam, dan di lukisan gereja jauh sebelum abad ketujuh.
Yang membedakannya dari gambaran tetangga cuma satu, jumlah sayapnya diberi angka. Keterangan yang serinci itu menandakan gambarannya diperlakukan sebagai keterangan, bukan sekadar kiasan, dan kitab ini tidak pernah menyediakan tempat untuk membacanya sebagai lambang saja.
Buta dan melihat sebagai perumpamaan
menyusun deretan perbandingan: tidak sama orang buta dengan orang yang melihat, tidak sama gelap dengan terang, tidak sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak sama orang hidup dengan orang mati.
Yang dimaksud tentu bukan penglihatan mata. Yang diperbandingkan orang yang menerima dan yang menolak.
Perumpamaan semacam ini punya harga yang jarang dihitung. Setiap kali kekurangan tubuh dipakai untuk menggambarkan kekurangan batin, orang yang benar-benar buta ikut terbawa ke dalam gambaran itu.
Kitabnya tidak perlu disangka bermaksud merendahkan penyandang disabilitas. Perumpamaan begini ada di hampir semua bahasa, termasuk bahasa kita, dan dipakai orang tiap hari tanpa niat apa-apa. Tapi orang yang tubuhnya dipinjam jadi lambang selalu ikut menanggung kiasan itu.
Rahmat yang bisa ditahan
memuat kalimat yang bunyinya menutup: apa saja rahmat yang dibukakan Allah kepada manusia, tidak ada yang sanggup menahannya. Dan apa saja yang ditahan-Nya, tidak ada yang sanggup melepaskannya sesudah itu.
Sebagai keterangan tentang kekuasaan, ini konsisten dengan seluruh isi kitabnya.
Sebagai penghiburan, kalimatnya bermata dua. Orang yang keadaannya membaik bisa bersyukur bahwa tidak ada yang bisa menahannya. Orang yang keadaannya tidak membaik-baik juga diberi tahu bahwa tidak ada yang bisa mengubahnya.
Dan yang kedua itu yang lebih sering terdengar di sini, biasanya diucapkan orang lain kepada orang yang sedang susah, dengan maksud menenangkan. Kalimat yang menyatakan pintu ditahan dari atas memang menghentikan pertanyaan, dan sekaligus menghentikan usaha mencari sebabnya di tempat yang bisa diperbaiki.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.