QS 089 · Al-Fajr 89:1-30 · Makkiyah · 10 menit
Al-Fajr: Bantahan terhadap Cara Berpikir yang Laku
Surat ini membantah satu cara berpikir yang sekarang justru paling laku dijual atas nama agama: bahwa harta yang datang tanda disayang dan kesempitan tanda dimurkai. Bantahannya keras, dan yang ditawarkan sebagai gantinya empat perkara yang tidak satu pun berhubungan dengan besar kecilnya penghasilan orang.
Bantahan terhadap cara berpikir yang laku
mengutip dua kalimat yang biasa diucapkan orang: adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku, adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, Tuhanku menghinakanku.
membantah keduanya dengan satu kata: sekali-kali tidak.
Bantahannya tidak berhenti di salah satunya; seluruh cara membacanya ikut dibantah. Kelapangan bukan tanda dimuliakan, kesempitan bukan tanda dihinakan, dan dua-duanya disebut ujian di ayat yang sama.
Yang ditawarkan sebagai gantinya di , dan isinya empat perkara berturut-turut: kalian tidak memuliakan anak yatim, dan kalian tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kalian memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan, dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.
Empat-empatnya bisa diperiksa dari luar, dan tidak satu pun berhubungan dengan besar kecilnya penghasilan seseorang. Yang dipersoalkan cara harta itu diperlakukan, bukan jumlahnya. Susunan itu berdiri berlawanan dengan hampir seluruh isi ceramah tentang rezeki yang beredar di sini, yang justru berjalan dengan logika yang persis dibantah di ayat 15: sedekah yang dijanjikan berbalas berlipat, doa yang dijanjikan melancarkan usaha, dan keberhasilan yang dibaca sebagai tanda diterimanya amal.
Jiwa yang tenang di kartu takziah
menutup surat: hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.
Empat ayat itu yang paling sering dibacakan di pemakaman di sini. Tercetak di kartu ucapan belasungkawa, di karangan bunga, di batu nisan, dan di pengumuman kematian yang disebar lewat grup pesan.
Yang dikerjakannya di situ tepat. Kalimat yang menyebut jiwa yang tenang dipanggil pulang menawarkan bentuk yang bisa dipegang keluarga yang ditinggalkan, dan tidak ada di dalamnya ancaman atau tuntutan.
Dua puluh enam ayat sebelumnya jarang ikut tercetak, dan empat di antaranya berisi tuduhan tentang anak yatim dan orang miskin. Pemisahan itu bukan kesalahan siapa-siapa, sebab pemakaman memang bukan tempat menagih. Yang pantas dicatat cuma bahwa bagian yang paling menuntut dari surat ini dan bagian yang paling menghibur berdiri berdampingan, dan cuma satu di antaranya yang dibawa keluar.
Iram yang bertiang
menyebut kaum yang dibinasakan: apakah engkau tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad, yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun kota seperti itu di negeri-negeri lain.
Nama Iram tidak muncul di catatan mana pun di luar Al-Qur'an. Pada 1992 penemuan reruntuhan di Syisr, Oman, sempat diumumkan luas sebagai kota itu, dan pengumuman itu masuk ke koran di sini juga. Penelitian sesudahnya menetapkannya sebagai pos perdagangan kemenyan, bukan kota besar, dan kaitannya dengan Iram tidak pernah dibuktikan.
Yang dikerjakan gelombang berita semacam itu berulang tiap beberapa tahun untuk nama yang berbeda. Pengumumannya beredar luas, bantahannya beredar sempit, dan yang tersisa di ingatan orang cuma bagian pertamanya.
Firaun yang mempunyai pasak
menyebut sebutan yang tidak diterangkan: dan kaum Firaun yang mempunyai pasak-pasak.
Kata autad dipakai juga untuk gunung di An-Naba, dan di sini penafsir terbelah. Sebagian membacanya sebagai piramida yang bentuknya seperti pasak, sebagian sebagai pasak yang dipakai menyiksa orang dengan cara direntangkan, dan sebagian sebagai bangunan yang kokoh pada umumnya. Tidak ada di ayatnya yang bisa memilih di antara ketiganya, dan tiga bacaan itu menghasilkan tiga gambaran yang sama sekali berbeda tentang apa yang sedang disebutkan.
Sepuluh malam
membuka dengan sumpah: demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu.
Malam yang sepuluh tidak disebutkan malam apa. Penafsir umumnya membacanya sebagai sepuluh hari pertama Zulhijah, sebagian membacanya sepuluh malam terakhir Ramadan.
Bacaan pertama yang menang di praktiknya, dan itu terasa di sini tiap tahun. Puasa Arafah, kurban, dan larangan memotong kuku bagi yang berkurban semuanya bersandar pada penetapan sepuluh hari itu sebagai yang paling utama, dan penetapan itu datang dari riwayat, bukan dari empat baris sumpah di pembukaan surat ini.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.