← Bedah Surat

QS 014  ·  Ibrahim 14:1-52  ·  Makkiyah  ·  12 menit

Ibrahim: Bahasa yang Dipilih dan Siapa yang Tertinggal

Ibrahim menyebut alasannya sendiri kenapa wahyu selalu datang dalam satu bahasa tertentu: supaya pesannya jelas bagi kaum yang menerimanya. Alasan itu masuk akal sekali, dan sekaligus menerangkan keadaan yang tidak nyaman di negeri ini. Ratusan juta orang di Indonesia membaca kitab ini tiap hari dalam bahasa yang tidak mereka mengerti, persis kebalikan dari alasan yang disebut ayatnya.

Alasan yang disebut sendiri

memberi keterangan yang jarang ditemukan sejelas ini di kitab mana pun: Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya dia dapat menjelaskan kepada mereka.

Kalimat itu lugas dan masuk akal. Pesan yang tidak dimengerti bukan pesan, jadi pengantarnya harus memakai bahasa yang dipakai pendengarnya sehari-hari.

Yang tidak diteruskan kalimat itu, apa yang terjadi pada pendengar berikutnya. Kalau kejelasan memang bergantung pada bahasa, maka begitu pesannya berpindah keluar dari bahasa Arab, kejelasan yang dijanjikan itu ikut berkurang.

Membaca tanpa mengerti

Di sini akibatnya bisa dilihat langsung. Anak-anak di TPA belajar melafalkan huruf Arab dengan benar, panjang pendeknya diatur, dan yang dinilai di lomba adalah ketepatan bunyinya. Artinya menyusul belakangan, kalau memang menyusul.

Orang dewasa membaca surat-surat pendek dalam salat lima kali sehari tanpa tahu kalimat mana yang sedang diucapkan, dan itu tidak dianggap kekurangan. Pahalanya tetap dihitung penuh.

Jadi ada satu kitab yang menyebut dirinya diturunkan supaya jelas, dibaca paling rajin justru oleh orang yang tidak mengerti bunyinya. Bukan salah pembacanya, dan bukan pula salah kitabnya. Yang menganga cuma jaraknya antara alasan yang disebut ayat ini dan cara kitabnya benar-benar dipakai.

Persoalan bahasa ini punya cabang yang lebih dalam lagi, soal apa yang terjadi pada makna waktu dipindahkan, dan dibahas tersendiri di Bahasa Arab yang Jelas.

Disesatkan lalu ditagih

Ayat yang sama, , ditutup dengan kalimat yang arahnya berbeda dari kalimat pembukanya: maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.

Kalimat pertama menerangkan usaha membuat pesan jadi jelas. Kalimat terakhir menyatakan hasilnya tidak ditentukan oleh jelas tidaknya pesan itu.

mengulang susunan yang sama. Kalau memang begitu, seluruh urusan bahasa di kalimat pembuka jadi tidak menentukan apa-apa, dan tetap orang yang tidak sampai pada iman yang dihukum.

Syukur yang dijanjikan berbuah

termasuk yang paling sering dikutip: jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkarinya, sesungguhnya azab-Ku sangat pedas.

Bunyinya seperti hukum sebab akibat, dan itu yang bikin kalimatnya menenangkan. Ada yang bisa dikerjakan, dan hasilnya dijanjikan.

Kesulitannya kelihatan waktu dicocokkan dengan apa yang ada di sekitar kita. Orang yang paling rajin bersyukur bukan orang yang paling banyak nikmatnya, dan orang yang tidak beragama sama sekali tidak lantas hidupnya lebih susah. Kalau janji itu dibaca sebagai keterangan tentang dunia, dunia tidak mendukungnya. Kalau dibaca sebagai keterangan tentang akhirat, tidak ada yang bisa memeriksanya.

Neraka yang dirinci sampai ke rasa

tidak berhenti pada ancaman umum. Yang disebut air nanah, diteguk sedikit demi sedikit, hampir tidak sanggup ditelan, kematian datang dari segala penjuru tapi orangnya tidak mati juga.

Rincian sedetail itu punya sasaran yang jelas: bukan menerangkan, melainkan membuat orang membayangkan. Dan tubuh yang membayangkan sakit akan lebih cepat menurut daripada kepala yang menimbang alasan.

Yang membuatnya susah dibela cuma satu, hukumannya tidak berujung dan tidak ada tujuannya selain rasa sakit itu sendiri. Hukuman yang tidak dimaksudkan memperbaiki siapa pun, dan tidak berhenti kapan pun, sulit dibedakan dari penyiksaan, terlepas dari siapa yang menjalankannya.

Doa yang menetapkan satu pusat

menaruh Ibrahim sedang berdoa di lembah yang tidak ada tanamannya, dekat rumah yang disucikan, meminta supaya sebagian hati manusia condong kepada keturunannya yang ditinggal di situ.

Doa itu jadi akar buat banyak hal sesudahnya: kesucian Mekah, arah kiblat, dan jutaan orang yang menabung bertahun-tahun untuk sampai ke sana. Semua komunitas punya cerita asal, dan cerita asal memang selalu begitu jalannya.

Yang tidak bisa diselesaikan cerita asal cuma satu hal: cerita itu tidak bisa dipakai membuktikan dirinya sendiri. Yang menyatakan Ibrahim membangun rumah itu adalah kitab yang kesuciannya justru bersandar pada rumah tersebut.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria