← Bedah Surat

QS 040  ·  Gafir 40:1-85  ·  Makkiyah  ·  12 menit

Gafir: Orang Tanpa Nama yang Memakai Alasan

Tokoh paling menarik di surat ini tidak punya nama, tidak diutus siapa pun, dan menyembunyikan keyakinannya selama bertahun-tahun di lingkungan Firaun. Waktu Musa hendak dibunuh, dia berdiri dan bicara, dan yang dipakainya bukan mukjizat melainkan alasan. Bagian itu salah satu potongan penalaran paling rapi di seluruh Al-Qur'an.

Orang yang menyembunyikan imannya

memperkenalkannya: dan seorang laki-laki yang beriman dari keluarga Firaun, yang menyembunyikan imannya, berkata, apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena dia berkata Tuhanku adalah Allah?

Dia bukan nabi, tidak diutus, dan tidak punya mukjizat. Yang dimilikinya kedudukan di lingkungan istana dan kesediaan bicara pada saat yang paling berbahaya.

Dan dia sudah menyembunyikan keyakinannya bertahun-tahun sebelum itu. Suratnya tidak menyalahkan dia karena menyembunyikan, dan tidak menuntut dia mengumumkannya lebih awal.

Bagian itu jarang dipakai waktu surat ini dibacakan, padahal keadaannya bukan barang langka. Di banyak desa dan kota kecil di sini, orang yang keyakinannya bergeser memilih diam bertahun-tahun, ikut yasinan, dan menjawab seperlunya kalau ditanya. Ayat ini menggambarkan orang seperti itu tanpa satu kata pun celaan.

Membujuk dengan alasan

Langkah-langkahnya sesudah itu tersusun rapi. Dia tidak menyatakan Musa benar. Dia menawarkan perhitungan.

Kalau orang ini pendusta, kata dia di , kedustaannya akan menimpa dirinya sendiri. Kalau dia benar, sebagian yang diancamkannya akan menimpa kalian.

Susunannya bentuk pertimbangan risiko, dan disusun supaya bisa diterima orang yang belum percaya apa-apa. Dia tidak meminta pendengarnya beriman, cuma meminta mereka tidak membunuh orang yang belum tentu salah.

Sesudah itu dipakainya untuk mengingatkan nasib kaum-kaum terdahulu, masih dengan nada mengajak berpikir, bukan mengancam. Dan menutup pidatonya: hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepada kalian jalan yang benar.

Cara yang tidak dipakai suratnya sendiri

Sepanjang bagian ini, cara itu cuma dipakai tokohnya, bukan kitab yang memuatnya.

Di luar pidato orang tanpa nama tadi, surat ini memakai cara yang sudah dikenal: ancaman, gambaran neraka, kaum-kaum yang dihancurkan, dan keterangan bahwa yang membantah ayat-ayat Allah punya kesombongan di dada mereka.

bahkan menutup pintu perdebatan lebih awal: orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa alasan yang datang kepada mereka, besar sekali kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang beriman.

Jadi di satu surat ada dua cara sekaligus. Yang satu mengajak menimbang risiko dan tidak menuntut apa pun di muka. Yang satu lagi menyatakan pihak yang membantah sudah bermasalah sejak sebelum bantahannya didengar. Dan yang lebih banyak dipakai sesudahnya, di mimbar mana pun, yang kedua.

Pengampun dan keras sekaligus

memberi nama surat ini lewat rangkaian sifat yang dipasang berurutan: yang mengampuni dosa dan menerima tobat, yang keras hukuman-Nya, yang mempunyai karunia.

Dua sifat pertama dan sifat kedua ditaruh berdampingan tanpa penjelasan bagaimana keduanya bisa berlaku bersamaan.

Sifat-sifat itu masuk ke daftar asmaul husna yang dihafal anak-anak di sekolah, dan waktu dihafal urutannya jadi rata. Yang mengampuni dan yang keras hukumannya dilafalkan dengan nada yang sama persis.

Untuk keyakinan, susunan itu justru berguna. Yang takut diberi harapan, yang lalai diberi peringatan, dan keduanya bisa mengutip ayat yang sama.

Untuk orang yang mencoba memperkirakan nasibnya sendiri, susunan itu tidak menyediakan apa pun untuk dipegang. Dua sifat yang berlawanan arah, tanpa keterangan mana yang berlaku untuk siapa, membuat orang tidak pernah bisa tahu di mana dirinya berdiri.

Doa yang alamatnya dibatasi

menceritakan malaikat yang memikul dan yang di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya, lalu memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.

Batas itu disebut jelas di kalimat berikutnya: ya Tuhan kami, ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu.

Jadi rahmat yang digambarkan meliputi segala sesuatu di kalimat sebelumnya ternyata dipanjatkan untuk satu golongan saja.

Ini bukan kejanggalan yang berdiri sendiri. Susunan yang sama muncul di banyak tempat: keluasan dinyatakan dengan bahasa yang tanpa batas, lalu pelaksanaannya dipersempit di kalimat berikutnya. Yang bertahan di ingatan orang biasanya bagian pertama, dan yang menentukan bagian kedua.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria