QS 019 · Maryam 19:1-98 · Makkiyah · 13 menit
Maryam: Satu-satunya Perempuan yang Diberi Nama
Dari seluruh perempuan yang muncul di Al-Qur'an, cuma satu yang disebut namanya. Istri Adam tidak, istri Nuh tidak, istri Ibrahim tidak, ibu Musa tidak. Maryam disebut berkali-kali, dan satu surat dinamai dengan namanya. Karena itu surat ini tempat paling masuk akal untuk bertanya: waktu seorang perempuan akhirnya diberi nama dan ruang, apa yang dikerjakannya di sana.
Diberi nama, tidak diberi pertanyaan
menyusun adegannya. Maryam menyendiri, seseorang menampakkan diri di hadapannya dalam wujud manusia sempurna, dia ketakutan dan berlindung kepada Yang Maha Pengasih. Utusan itu menerangkan maksudnya, dia bertanya bagaimana mungkin sementara tidak pernah ada laki-laki menyentuhnya, lalu dijawab: begitulah, hal itu mudah bagi-Ku.
Perhatikan bentuk percakapannya. Maryam bertanya, dan pertanyaannya soal caranya, bukan soal maunya. Tidak ada bagian mana pun yang menanyakan apakah dia bersedia.
Kalau dibandingkan dengan versi Lukas, bedanya kelihatan. Di sana ada kalimat penerimaan yang diucapkan Maryam sendiri, jadilah padaku menurut perkataanmu. Di sini kalimat itu tidak ada. Yang ada keterangan bahwa perkaranya sudah diputuskan.
Ini bukan berarti versi Lukas lebih terhormat kepada perempuan. Dua-duanya ditulis di dunia tempat izin perempuan bukan hal yang biasa ditanyakan. Yang bisa dicatat cuma satu, di satu-satunya surat yang dinamai dengan nama seorang perempuan, kalimat persetujuannya tidak ada.
Rasa sakit yang diakui
mengerjakan sesuatu yang jarang dilakukan kitab suci mana pun: menyebut rasa sakitnya. Rasa sakit melahirkan memaksanya bersandar ke pangkal pohon kurma, dan dia berkata, aduhai, sekiranya aku mati sebelum ini dan menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.
Kalimat itu berat dan tidak dilunakkan. Seorang perempuan muda, sendirian, hamil tanpa suami di masyarakat yang akan menghukumnya, dan yang keluar dari mulutnya adalah keinginan untuk tidak pernah ada.
Bagian ini yang paling manusiawi di seluruh surat, dan hampir tidak pernah dikutip di ceramah tentang Maryam. Yang dikutip biasanya kurma yang berjatuhan dan sungai kecil yang muncul, bagian yang menghibur, bukan bagian yang mengaku. Di majelis ibu-ibu, potongan itu bahkan dipakai sebagai anjuran makan kurma menjelang melahirkan, dan kalimat tentang ingin mati sebelum ini tidak ikut dibacakan.
Yang lebih jauh lagi dari isinya, surat ini di sini justru dianjurkan dibaca perempuan yang sedang mengandung supaya persalinannya lancar dan anaknya elok. Anjuran itu beredar di majelis taklim, di buku amalan ibu hamil, dan di kajian menjelang kelahiran. Jadi surat yang merekam seorang perempuan berharap mati waktu melahirkan dipakai sebagai penenang perempuan yang akan melahirkan, dan ayat 23 hampir tidak pernah ikut dibacakan di situ.
Adegan kurmanya sendiri punya kembaran di tulisan Kristen awal yang tidak masuk daftar resmi kitab suci gereja, di sana terjadi waktu keluarga itu mengungsi ke Mesir. Perpindahan cerita itu ditelusuri di Di Bawah Pohon Kurma.
Bayi yang bicara supaya ibunya tidak dihukum
menyelesaikan persoalannya dengan cara yang tidak biasa. Maryam pulang membawa bayinya, orang-orang menuduhnya, dan dia tidak menjawab sendiri. Dia menunjuk bayinya, lalu bayi itu yang bicara.
Bagian ini punya pendahulu juga. Yesus yang berbicara sejak dalam buaian ada di tulisan Kristen awal yang beredar di Suriah, bukan di keempat Injil resmi.
Pembelaan Maryam di sini datang dari mulut orang lain, bahkan waktu orang lain itu bayinya sendiri. Perempuan yang dituduh tidak dipercaya kesaksiannya, dan yang menyelesaikan perkara mukjizat, bukan haknya untuk didengar.
Bantahan yang menutup surat
membalikkan arah surat ini: tidak layak bagi Allah mempunyai anak, mahasuci Dia.
melanjutkan dengan bahasa yang jauh lebih keras: mereka berkata Yang Maha Pengasih mengambil anak, sungguh kalian telah mendatangkan sesuatu yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah, bumi terbelah, dan gunung runtuh karenanya.
Jadi surat yang isinya paling banyak memuliakan Maryam dan anaknya ditutup dengan bantahan paling keras terhadap kesimpulan yang ditarik pengikut anaknya. Susunan begitu memang ampuh: bahan orang lain dipakai, tokohnya dihormati, kesimpulannya dibuang.
Yang tidak diselesaikan surat ini, kenapa bahan yang kesimpulannya dianggap sangat mungkar justru diambil sedemikian banyak, lengkap dengan mukjizat-mukjizatnya.
Anak yang meninggalkan bapaknya
menaruh cerita yang berbeda temanya tapi sebentuk akibatnya. Ibrahim membujuk ayahnya meninggalkan berhala dengan bahasa yang halus dan berulang kali menyebutnya wahai ayahku.
Ayahnya menjawab dengan ancaman: kalau tidak berhenti, kamu akan kurajam, dan tinggalkan aku untuk waktu yang lama. Ibrahim membalasnya dengan salam dan janji memohonkan ampun, lalu pergi.
Digabung dengan cerita Nuh dan anaknya di surat lain, polanya jadi kelihatan. Ikatan keluarga berkali-kali diuji dan berkali-kali kalah oleh batas keyakinan. Yang berbeda di sini cuma arahnya: kali ini yang pergi anaknya, dan perpisahannya diucapkan dengan sopan.
Perempuan yang namanya dipakai, suaranya sedikit
Maryam mendapat nama, satu surat, dan pengakuan atas rasa sakitnya. Untuk kitab yang lahir di abad ketujuh, ketiganya bukan hal kecil, dan tidak ada gunanya berpura-pura sebaliknya.
Yang tetap kelihatan kalau seluruh suratnya dihitung, jumlah kalimat yang keluar dari mulutnya sedikit sekali, dan yang paling menentukan nasibnya tidak satu pun diucapkannya sendiri. Yang menerangkan kehamilannya utusan, yang membelanya bayinya, dan yang menutup perkaranya bantahan teologis di ujung surat.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.