Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ الم
Alif lām Mīm.


Surat 3
اٰل عمران
Keluarga Imran, terdiri dari 200 ayat dan turun di Madinah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-89 setelah Al-Anfal sebelum Al-Ahzab.
Ali Imran: Konsolidasi Ideologi dan Legitimasi Kekuasaan Pasca-Badar Diturunkan di Madinah antara tahun 2-3 H, Ali Imran mencerminkan momen kritis komunitas Muslim awal — setelah kemenangan Badar dan menjelang kekalahan Uhud. Surat ini bukan sekadar instruksi teologis; ia adalah dokumen konsolidasi identitas kelompok yang mendefinisikan batas tegas antara in-group (mukmin) dan out-group (kafir, Ahli Kitab, munafik). Eksklusivisme sebagai fondasi. Ayat 19 dan 85 menegaskan bahwa hanya Islam yang diterima Allah, sementara semua agama lain adalah bathil. Ini bukan posisi inklusif yang mengakui nilai universal kebenaran — melainkan klaim monopoli keselamatan yang, secara logis, menjadikan miliaran manusia dari tradisi lain sebagai objek penolakan ilahi. Klaim ini tidak didukung argumen epistemologis — ia ditegakkan melalui otoritas wahyu (circular reasoning) dan ancaman hukuman (ad baculum). Segregasi sosial yang terlembaga. Ayat 28 dan 118 melarang secara eksplisit menjadikan non-Muslim sebagai teman dekat atau kepercayaan, dengan justifikasi bahwa mereka 'tidak menginginkan kebaikan bagi kalian'. Generalisasi ini — mengafirmasi prasangka terhadap seluruh kelompok berdasarkan keyakinan — mengondisikan ketidakpercayaan sistemik dan isolasi sosial. Dalam konteks komunitas plural modern, perintah seperti ini berpotensi menjadi fondasi diskriminasi terstruktur. Glorifikasi perang dan kematian. Ayat 157, 169, dan 195 membangun retorika mulia seputar kematian di medan perang. Syahid 'hidup di sisi Tuhan', kematian dalam perang lebih baik dari kehidupan biasa. Framing ini memuliakan pengorbanan diri dan dapat menyuburkan ideologi yang merendahkan nilai kehidupan — sebuah isu yang sangat relevan dalam konteks radikalisme modern. Kontradiksi tekstual. Surat ini mengandung setidaknya tiga kontradiksi terverifikasi: (1) 3:7 mengakui adanya ayat yang hanya Allah tahu maknanya, bertentangan dengan klaim 12:111 bahwa Quran menjelaskan segala sesuatu; (2) jumlah malaikat di Badar berbeda antara 3:124 (3.000) dan 8:9 (1.000); (3) cara penyampaian kabar kepada Maryam berbeda antara 3:45 (malaikat jamak) dan 19:17 (satu roh berbentuk manusia). Strategi retorika ancaman. Sejumlah ayat (4, 10, 56, 151) menggunakan ancaman azab sebagai instrumen utama kepatuhan. Ini adalah pola argumentum ad baculum — bukan ajakan beriman berdasarkan bukti atau kebaikan, melainkan kepatuhan berbasis ketakutan terhadap konsekuensi negatif. Allah bahkan secara aktif 'memasukkan rasa takut ke hati orang kafir' (151) — melegitimasi teror sebagai alat ilahi. Ali Imran adalah teks yang memperlihatkan bagaimana komunitas keagamaan mengkonsolidasikan identitasnya melalui pembedaan tajam antara kami dan mereka, menggunakan kombinasi ancaman, glorifikasi, dan klaim keistimewaan. Nilai historisnya sebagai rekaman mentalitas komunitas Madinah abad ke-7 tidak diragukan — namun aplikasinya secara harfiah dalam konteks modern mengundang perhatian kritis yang serius.
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ الم
Alif lām Mīm.
Ayat 2
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya).109)
Catatan Depag
109) Allah mengatur langit dan bumi serta isinya.
Ayat 3
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ
Dia menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan Dia menurunkan Taurat dan Injil,
Ayat 4
مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ۗ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
sebelumnya, sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan.110) Sungguh, orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh azab yang berat. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).
Catatan Depag
110) Al-Furqān (Al-Qur`an) ialah Kitab yang membedakan antara yang benar dan yang salah.
Ayat 5
إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ
Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit.
Ayat 6
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Ayat 7
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muḥkamāt,111) itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur`an) dan yang lain mutasyābihāt.112) Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyābihāt untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur`an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.
Catatan Depag
111) Ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. 112) Ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian, sulit dipahami atau hanya Allah yang mengetahui.
Ayat 8
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
(Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."
Ayat 9
رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
"Ya Tuhan kami, Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya." Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.
Ayat 10
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ
Sesungguhnya orang-orang kafir, bagi mereka tidak akan berguna sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka terhadap (azab) Allah. Dan mereka itu (menjadi) bahan bakar api neraka.
Ayat 11
كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ ۗ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Ayat 21
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih.
Ayat 22
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
Ayat 26
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah (Muhammad), "Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kapada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk menanggapi ejekan kaum munafik dan Yahudi ketika Nabi Muhammad SAW menjanjikan bahwa umatnya kelak akan menaklukkan kerajaan Persia dan Romawi. Riwayat lain menyebutkan ini terkait mukjizat kilatan cahaya dari batu saat menggali Parit (Khandaq), di mana Nabi melihat istana-istana musuh yang kelak akan ditaklukkan.
Ayat 42
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala wanita di seluruh alam (pada masa itu).
Ayat 43
يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ
Ayat 61
فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), "Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan diri kamu, kemudian marilah kita ber-mubahalah 121) agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta (di antara kita)."
Catatan Depag
121) Mubahalah ialah masing-masing pihak di antara orang-orang yang bersilang pendapat berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan laknat kepada pihak yang berdusta. Nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun melanjutkan perdebatan dengan pendeta Nasrani Najran. Nabi menantang mereka untuk Mubahalah (saling melaknat siapa yang berdusta) dengan membawa keluarga masing-masing (Nabi membawa Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain). Pendeta Nasrani akhirnya mundur ketakutan dan bersedia membayar Jizyah saja.
Ayat 69
وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Segolongan Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu. Padahal (sesungguhnya), mereka tidak menyesatkan melainkan diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menyadari.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan usaha orang-orang Yahudi yang mencoba merayu dan mengajak sahabat Nabi (seperti Mu'adz, Hudzaifah, dan 'Ammar) agar keluar dari Islam dan memeluk agama mereka.
Ayat 70
Ayat 92
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.
Ayat 93
كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَىٰ نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ ۗ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Ayat 96
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah)133) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.
Catatan Depag
133) Ahli Kitab mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitulmaqdis, oleh karena itu Allah membantahnya.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun menanggapi perdebatan antara umat Islam dan kaum Yahudi yang saling membanggakan kesucian kiblat mereka masing-masing (Ka'bah vs Baitul Maqdis).
Ayat 101
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ ۗ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dan bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya (Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh, dia diberi petunjuk ke jalan yang lurus.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun ketika Shas bin Qays, seorang Yahudi yang dengki melihat persatuan kaum Anshar (suku Aws dan Khazraj), menyuruh seorang pemuda membacakan syair-syair provokatif tentang Perang Bu'ath di masa Jahiliyah. Hal ini hampir memicu pertumpahan darah kembali sebelum akhirnya didamaikan oleh Nabi.
Ayat 116
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Sesungguhnya orang-orang kafir, baik harta maupun anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak azab Allah. Mereka itu penghuni neraka, (dan) mereka kekal di dalamnya.
Ayat 117
مَثَلُ مَا يُنْفِقُونَ فِي هَٰذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ ۚ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Ayat 121
وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berangkat pada pagi hari meninggalkan keluargamu untuk mengatur orang-orang beriman pada pos-pos pertempuran.139) Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui,
Catatan Depag
139) Peristiwa ini terjadi pada Perang Uhud yang menurut ahli sejarah terjadi pada tahun ke 3 H.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun mengisahkan peristiwa dan persiapan Nabi Muhammad SAW saat menyusun barisan pasukan di Perang Uhud.
Ayat 149
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menaati orang-orang yang kafir, niscaya mereka akan mengembalikan kamu ke belakang (murtad), maka kamu akan kembali menjadi orang yang rugi.
Ayat 150
بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ
Ayat 161
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Dan tidak mungkin seorang Nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barang siapa berkhianat, niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk membersihkan nama Nabi dari tuduhan kaum munafik yang mengira beliau menggelapkan kain beludru merah dari harta rampasan Perang Badar. Riwayat lain menyebut ini terkait ketakutan pemanah di Uhud yang khawatir tidak diberi bagian rampasan perang.
Ayat 169
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki,162)
Catatan Depag
162) Hidup dalam alam lain yang bukan alam kita ini. Mereka mendapatkan berbagai kenikmatan di sisi Allah. Dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup di alam lain itu.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk mengabarkan kemuliaan para syuhada Perang Uhud (atau Bi'r Ma'unah) yang arwahnya berada di dalam burung-burung hijau di surga. Mereka memohon agar Allah mengabarkan kenikmatan mereka kepada saudara-saudaranya yang masih hidup agar tidak takut berjihad. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Seorang sahabat tampak murung karena orang tuanya mati syahid, meninggalkan banyak anak dan utang. Allah lalu menurunkan ayat ini untukmenegaskan bahwa arwah orang-orang yang mati syahid tetap hidup disisi Allah serta memperoleh rezeki dan nikmat yang berlimpah. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 181
لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya." Kami akan mencatat perkataan mereka dan perbuatan mereka membunuh Nabi-nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan Kami akan mengatakan (kepada mereka), "Rasakanlah olehmu azab yang membakar!"
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan Finhas bin 'Azura, pendeta Yahudi yang mengejek bahwa "Allah itu miskin" karena meminta pinjaman yang baik (sedekah). Abu Bakar marah dan memukul wajahnya, namun Finhas berbohong kepada Nabi dengan tidak mengakuinya. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Allah menyatakan bahwa Dia akan melipatgandakan balasan bagi parahamba yang memberi-Nya pinjaman yang baik dengan cara bersedekah dijalan-Nya. Oleh kaum Yahudi hal ini disalahartikan. Mereka menganggap Tuhan kaum muslim fakir sehingga harus meminta pinjaman dari hamba-Nya. Ayat ini lantas turun untuk meluruskan anggapan tersebut. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 185
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Ayat 186
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Ayat 190
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun menanggapi permintaan tidak masuk akal kaum musyrik yang menantang Nabi untuk mengubah bukit Shafa menjadi emas, sebagaimana mukjizat tongkat Musa atau mukjizat Isa. Allah lalu menyuruh mereka merenungkan tanda-tanda yang sudah jelas pada penciptaan langit dan bumi.
(Keadaan mereka) seperti keadaan pengikut Fir'aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Allah sangat berat hukuman-Nya.
Ayat 12
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang kafir, "Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal."
Asbabun Nuzul
12-13 Ayat ini turun terkait penolakan kaum Yahudi terhadap ajakan Nabi untuk masuk Islam. Mereka bahkan menyatakan siap andaikata Nabi mengajak mereka berperang. Mereka pun yakin dapat mengalahkan umat Islam. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 18
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia,Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun ketika dua orang pendeta Yahudi dari Suriah datang menemui Nabi Muhammad SAW di Madinah, mengenali ciri-ciri beliau, dan bertanya tentang kesaksian terbesar di dalam kitab suci. Setelah ayat ini turun, keduanya pun memeluk Islam.
Asbabun Nuzul
22-23 Salah satu sikap buruk kaum Yahudi yang dicela oleh Al-Qur’an adalahkeengganan mereka melaksanakan hukum yang Allah turunkan dalam Taurat bila hukum itu tidak sesuai dengan keinginan mereka. Ayat initurun berkaitan dengan keengganan mereka untuk diajak memutuskansuatu perkara berdasarkan hukum dalam kitab Allah. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 23
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَىٰ كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ
Tidaklah engkau memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian Kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada Kitab Allah untuk memutuskan (perkara) di antara mereka. Kemudian sebagian dari mereka berpaling seraya menolak (kebenaran).
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan keengganan kaum Yahudi untuk berhukum dengan Taurat. Nabi mengajak mereka berhukum pada Kitab Allah saat berdebat (atau saat mengadili kasus zina di Khaibar), namun mereka justru menolaknya dan meminta pendeta mereka saja yang memutuskan.
Ayat 28
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya dan hanya kepada Allah tempat kembali.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk memperingatkan sekelompok kaum mukmin yang masih menjadikan orang-orang Yahudi atau musyrik sebagai teman setia/sekutu. Ada yang menyebut ini terkait 'Ubadah bin as-Samit yang awalnya ingin membawa 500 sekutu Yahudinya ke Perang Khandaq, atau tentang Abdullah bin Ubayy yang terus setia pada orang Yahudi.
Ayat 31
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk menanggapi klaim berbagai kelompok yang merasa paling mencintai Allah, baik dari kaum musyrik Quraisy yang menyembah berhala dengan dalih mendekatkan diri kepada-Nya, kaum Yahudi yang merasa sebagai "kekasih Allah", maupun kaum Nasrani Najran yang mengagungkan Isa atas dasar cinta kepada Allah.
Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk."
Ayat 53
Ayat 59
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah ia.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun sebagai bantahan kepada utusan Nasrani dari Najran yang menolak Nabi menyebut Isa AS sebagai "hamba Allah", dan menantang Nabi untuk menunjukkan manusia yang lahir tanpa ayah.
Ayat 68
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ
Orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang yang mengikutinya, dan Nabi ini (Muhammad), dan orang yang beriman. Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun sebagai bantahan kepada para pemuka Yahudi yang karena kedengkiannya mengklaim bahwa mereka adalah kelompok yang paling berhak atas ajaran Nabi Ibrahim AS dan menyebut beliau sebagai seorang Yahudi.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ
Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah,126) padahal kamu mengetahui (kebenarannya)?
Catatan Depag
126) Ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Ayat 72
وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Dan segolongan Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya), "Berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman pada awal siang dan ingkarilah di akhirnya, agar mereka kembali (kepada kekafiran).
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun terkait tipu daya 12 pendeta Yahudi Khaibar yang bersekongkol untuk pura-pura masuk Islam di pagi hari, lalu murtad di sore hari. Tujuannya adalah untuk memunculkan keraguan di hati kaum muslimin, seolah-olah mereka murtad karena menemukan kesalahan dalam Islam. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ayat ini turun terkait kesepakatan beberapa orang dari kalangan Yahudi untuk berpura-pura beriman kepada Al-Qur’an pada pagi hari, kemudian mengingkarinya kembali pada sore hari. Dengan cara ini mereka berupaya mempengaruhi umat Islam untuk kembali pada kekafiran. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 77
إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang memperjual belikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan peringatan larangan bersumpah palsu, di antaranya saat Al-Ash'ath bin Qays bersengketa tanah dengan seorang Yahudi. Ayat ini juga turun terkait para ulama Yahudi yang menyembunyikan/mengubah ciri-ciri Nabi demi mempertahankan keuntungan duniawi mereka. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ayat ini turun dilatarbelakangi perselisihan antara seorang sahabat bernama al-Asy‘aš bin Qais dengan seorang Yahudi terkait kepemilikian sebuahsumur. Sebetulnya sumur itu benar milik sahabat tersebut, namun karena ia tidak mempunyai saksi, sedangkan pria Yahudi itu berani bersumpahbahwa sumur itu miliknya, sumur itu pun berpindah kepemilikan. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 79
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, "Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah," tetapi (dia berkata), "Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!"
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun menanggapi pertanyaan pendeta Nasrani Najran dan Abu Rafi' (tokoh Yahudi) yang bertanya apakah Nabi Muhammad SAW ingin disembah dan diangkat sebagai Tuhan selain Allah.
Ayat 83
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun ketika kaum Yahudi dan Nasrani berdebat tentang agama Nabi Ibrahim. Ketika Nabi menyatakan bahwa keduanya tidak berada di atas agama Ibrahim, mereka marah dan menolak ajaran beliau.
Ayat 86
كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, serta mengakui bahwa Rasul (Muhammad) itu benar-benar (rasul), dan bukti-bukti yang jelas telah sampai kepada mereka? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang zalim.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan seorang laki-laki Anshar (Al-Harith bin Suwayd) yang sempat murtad dan bergabung dengan kaum musyrik. Ia lalu menyesal dan mengirim pesan menanyakan apakah pintu tobat masih terbuka untuknya. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) 86-89 Keempat ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa yang menimpa seorang pria dari kalangan Ansar. Setelah sekian lama masuk Islam, ia kemudianmurtad. Menyesal dengan keputusan itu, ia pun bertobat. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 87
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Mereka itu, balasannya ialah ditimpa laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya,
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan seorang laki-laki Anshar (Al-Harith bin Suwayd) yang sempat murtad dan bergabung dengan kaum musyrik. Ia lalu menyesal dan mengirim pesan menanyakan apakah pintu tobat masih terbuka untuknya.
Ayat 88
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ
mereka kekal di dalamnya, tidak akan diringankan azabnya, dan mereka tidak diberi penangguhan,
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan seorang laki-laki Anshar (Al-Harith bin Suwayd) yang sempat murtad dan bergabung dengan kaum musyrik. Ia lalu menyesal dan mengirim pesan menanyakan apakah pintu tobat masih terbuka untuknya.
Ayat 89
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu, dan melakukan perbaikan, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan seorang laki-laki Anshar (Al-Harith bin Suwayd) yang sempat murtad dan bergabung dengan kaum musyrik. Ia lalu menyesal dan mengirim pesan menanyakan apakah pintu tobat masih terbuka untuknya.
Ayat 90
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ
Sungguh, orang-orang yang kafir setelah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, tidak akan diterima tobatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun tentang kelompok Yahudi yang berlapis-lapis kekafirannya; awalnya mereka kafir terhadap Isa AS dan Injil, kemudian menambah kekafirannya dengan menolak Muhammad SAW dan Al-Qur'an.
Semua makanan itu dahulu halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Yakub) atas dirinya sebelum Taurat diturunkan.131) Katakanlah (Muhammad), "Maka bawalah Taurat lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar."
Catatan Depag
131) Setelah Taurat diturunkan, ada beberapa makanan yang diharamkan bagi mereka sebagai hukuman. Nama-nama makanan itu disebut di dalamnya. Selanjutnya lihat An-Nisā` (4): 160 dan Al-An'ām (6): 146.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk membantah kaum Yahudi yang mengkritik Nabi karena memakan daging unta dan meminum susunya, padahal Nabi mengaku mengikuti agama Ibrahim. Allah menegaskan bahwa hal tersebut halal bagi Ibrahim.
Ayat 100
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu mengikuti sebagian dari orang yang diberi Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir setelah beriman.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun ketika Shas bin Qays, seorang Yahudi yang dengki melihat persatuan kaum Anshar (suku Aws dan Khazraj), menyuruh seorang pemuda membacakan syair-syair provokatif tentang Perang Bu'ath di masa Jahiliyah. Hal ini hampir memicu pertumpahan darah kembali sebelum akhirnya didamaikan oleh Nabi.
Ayat 110
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun memuji umat Islam sekaligus membantah tokoh Yahudi (Malik bin ad-Dayf dan Wahb) yang menyombongkan diri kepada Abdullah bin Mas'ud, Ubayy, dan Mu'adz bahwa agama Yahudi lebih baik dan lebih mulia.
Ayat 111
لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى ۖ وَإِنْ يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ
Mereka tidak akan membahayakan kamu, kecuali gangguan-gangguan kecil saja, dan jika mereka memerangi kamu, niscaya mereka mundur berbalik ke belakang (kalah). Selanjutnya mereka tidak mendapat pertolongan.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun karena tokoh-tokoh Yahudi seringkali menyakiti dan mengganggu Abdullah bin Salam serta teman-temannya yang telah memutuskan untuk masuk Islam.
Ayat 113
لَيْسُوا سَوَاءً ۗ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ
Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur,138) mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat).
Catatan Depag
138) Golongan Ahli Kitab yang telah memeluk agama Islam.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk meluruskan ejekan pendeta Yahudi yang mengklaim bahwa orang Yahudi yang masuk Islam hanyalah "orang-orang terburuk" dari kalangan mereka. Riwayat lain menyebutkan ayat ini memuji umat Islam yang mau mendirikan salat Isya, sementara para Ahli Kitab tidak melakukannya. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) 113-114 Dua ayat ini turun untuk menjelaskan bahwa tidak semua Ahli Kitab memiliki karakter, watak, dan sifat yang buruk serta membangkang terhadap Islam. Sebaliknya, ada di antara mereka orang-orang yang bersikap luruspada agama Allah. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 114
يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَٰئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ
Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk meluruskan ejekan pendeta Yahudi yang mengklaim bahwa orang Yahudi yang masuk Islam hanyalah "orang-orang terburuk" dari kalangan mereka. Riwayat lain menyebutkan ayat ini memuji umat Islam yang mau mendirikan salat Isya, sementara para Ahli Kitab tidak melakukannya.
Ayat 115
وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُكْفَرُوهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ
Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk meluruskan ejekan pendeta Yahudi yang mengklaim bahwa orang Yahudi yang masuk Islam hanyalah "orang-orang terburuk" dari kalangan mereka. Riwayat lain menyebutkan ayat ini memuji umat Islam yang mau mendirikan salat Isya, sementara para Ahli Kitab tidak melakukannya.
Ayat 118
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun memperingatkan sekelompok kaum mukmin yang masih saja berteman intim atau membocorkan rahasia kepada kaum munafik dan Yahudi hanya karena ada hubungan kerabat, tetangga, atau sekutu. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) 118-119 Allah menurunkan ayat ini untuk melarang kaum muslim berteman akrab dengan orang-orang kafir yang memusuhi Islam. Sejarah telah mencatat pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukan Yahudi Bani Qainuqà‘,Bani Naîìr, dan Bani Quraiîah di Madinah terhadap Nabi Muhammad dan kaum muslim. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 122
إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
ketika dua golongan dari pihak kamu140) ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.
Catatan Depag
140) Yakni Bani Salamah dari suku Khazraj dan Bani Harisah dari suku Aus, keduanya dari barisan kaum muslimin.
Asbabun Nuzul
Pada Perang Uhud jumlah pasukan kafir yang sedemikian banyak mem -buat Bani Èàrišah dan Bani Salimah gentar dan hampir patah semangat.Ayat ini turun untuk meminta mereka bertawakal kepada Allah karena Dia-lah yang akan menolong mereka dalam kondisi demikian. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 128
لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ
Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad)143) apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim.
Catatan Depag
143) Menurut riwayat Bukhari mengenai turunnya ayat ini, karena Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa kepada Allah agar menyelamatkan sebagian pemuka musyrikin dan membinasakan sebagian lainnya.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun ketika Nabi terluka parah, gigi serinya patah, dan wajahnya berdarah di Perang Uhud, hingga beliau bergumam bagaimana mungkin kaum yang melukai Nabinya akan selamat. Riwayat lain menyebut ini turun untuk menegur Nabi yang mengutuk nama-nama tokoh musyrik secara spesifik dalam salat Subuh. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Nabi sedih dan merasa kurang berhasil dalam menyampaikan dakwahkepada manusia. Allah menurunkan ayat ini untuk menghibur Nabi danmenegaskan bahwa hidayah dan taufik datang dari Allah. Manusia, meskiseorang nabi, tidak akan mampu memberi hidayah tanpa izin-Nya. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 135
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri,145) (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.
Catatan Depag
145) Yang dimaksud perbuatan keji (fahisyah) ialah dosa besar yang akibatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menzalimi diri sendiri ialah melakukan dosa yang akibatnya hanya menimpa diri sendiri baik besar atau kecil.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun tentang Nabhan, seorang penjual kurma yang khilaf memeluk dan mencium pembeli wanita cantik, lalu ia sangat menyesal. Riwayat lain menyebutkan tentang seorang Anshar yang hampir mengkhianati istri sahabatnya sendiri saat ditinggal berperang, lalu bertobat dan menangis di gunung.
Ayat 138
Ayat 139
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun setelah kekalahan di Uhud, saat Khalid bin Walid (yang saat itu musyrik) mencoba naik ke bukit untuk menyerang umat Islam dari atas. Nabi berdoa, lalu pasukan pemanah muslim berhasil memukul mundur mereka.
Ayat 140
إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim,
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun ketika Nabi pulang dari Uhud dengan sedih dan melihat para wanita menangis menampar wajah mereka karena suami dan anak-anak mereka gugur. Allah menghibur mereka bahwa musuh juga merasakan luka yang sama.
Ayat 144
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul.148) Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.
Catatan Depag
148) Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi Rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat karena terbunuh, ada pula yang wafat karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga akan wafat seperti halnya Rasul-rasul yang terdahulu. Pada waktu Perang Uhud berkecamuk tersiar berita bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang munafik mengatakan bahwa kalau Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan wafat terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad). Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mengemukakan ayat ini – di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan para sahabat pada hari wafatnya Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk menenteramkan Umar Ibnul Khattab -raḍiyallāhu 'anhu- dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun ketika tersebar isu di Perang Uhud bahwa Nabi Muhammad SAW telah terbunuh. Sebagian orang ingin menyerah, sementara sahabat yang beriman kuat mengajak agar terus berjuang sampai mati menyusul Nabi.
Ayat 151
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۚ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ
Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu. Dan tempat kembali mereka ialah neraka. Dan (itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang-orang zalim.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun ketika Abu Sufyan dan pasukan musyrik dalam perjalanan pulang ke Makkah menyesal tidak menghabisi sisa pasukan muslim di Uhud. Namun, Allah memberikan pertolongan dengan memasukkan rasa takut yang luar biasa ke dalam hati mereka sehingga mereka mengurungkan niat tersebut.
Ayat 152
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ ۚ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu151) dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai.152) Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka153) untuk mengujimu, tetapi Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.
Catatan Depag
151) Yakni urusan pelaksanaan perintah Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar regu pemanah tetap bertahan pada tempat yang telah ditunjukkan dalam keadaan bagaimanapun. 152) Yakni kemenangan dan harta rampasan. 153) Kaum muslimin tidak berhasil mengalahkan mereka.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun karena beberapa sahabat bertanya-tanya mengapa mereka kalah di Uhud padahal Allah menjanjikan kemenangan. Allah menjelaskan bahwa kekalahan itu karena sebagian dari mereka (para pemanah) menginginkan harta rampasan duniawi dan meninggalkan posnya. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ayat ini turun dalam rangka menegur sejumlah pasukan muslim pada Perang Uhud yang tergiur dengan rampasan perang sehingga melanggararahan Nabi untuk menjaga posisi mereka apa pun yang terjadi. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 154
ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِنْكُمْ ۖ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu,155) sedangkan segolongan lagi156) telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah.157) Mereka berkata, "Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?" Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, "Sekiranya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Katakanlah (Muhammad), "Meskipun kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh." Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati.
Catatan Depag
155) Orang-orang Islam yang kuat keyakinannya. 156) Orang-orang Islam yang masih ragu-ragu. 157) Sangkaan bahwa kalau Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- itu benar-benar Nabi dan Rasul Allah, tentu dia tidak akan dikalahkan dalam peperangan.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun usai Perang Uhud ketika pasukan muslim dipukul mundur oleh pasukan musyrik. Allah membuat mereka terlelap sejenak, menenangkan pikiran mereka, dan menghilangkan ketakutan dan kegelisahanmereka. Sementara itu, orang-orang yang lemah imannya tidak dapatmerasakan nikmat kantuk ini. Mereka inilah yang memiliki prasangkakurang baik terhadap Allah dan Rasul-Nya. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 165
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar) kamu berkata, "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah, "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk menjelaskan mengapa umat Islam tertimpa musibah kehilangan 70 syuhada di Perang Uhud. Hal itu adalah kifarat/akibat pilihan mereka sendiri di Perang Badar sebelumnya yang lebih memilih mengambil tebusan tawanan daripada mengeksekusi mereka.
Ayat 172
الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ
(yaitu) orang-orang yang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebajikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun memuji 70 orang sahabat yang meskipun sedang terluka parah setelah Perang Uhud, tetap bangkit memenuhi panggilan Nabi untuk mengejar pasukan Abu Sufyan yang mundur. Abu Sufyan mencoba menakut-nakuti mereka, namun tidak berhasil. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) 172-174 Dalam perjalanan meninggalkan Uhud, Abù Sufyàn, pemimpin pasukan Quraisy, menantang Nabi untuk bertempur kembali pada tahun berikutnya di Badar. Karena pada tahun itu (4 H) terjadi paceklik, Abù Sufyàn pun gentar dan mengurungkan niat ke Badar. Ia lalu mengutus Nu‘aimbin Mas‘ùd al-Asyja‘iy ke Madinah untuk menakut-nakuti kaum mus -lim dengan menyebarkan kabar bohong. Nabi dan para sahabat tidakterpengaruh oleh propaganda itu dan tetap berangkat ke Badar. Perangpun urung terjadi. Pada waktu itu di Badar sedang musim pasar sehinggakaum muslim memanfaatkannya untuk berdagang. Mereka pun pulangdengan membawa laba berlimpah. Itulah peristiwa yang menjadi latar belakang penurunan ayat-ayat ini. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 173
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, "Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka," ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, "Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung."
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun memuji keteguhan iman para sahabat yang ditakut-takuti oleh orang-orang bahwa Abu Sufyan membawa pasukan besar untuk menghancurkan mereka, namun mereka justru berkata "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami".
Ayat 174
فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ
Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun memuji keteguhan iman para sahabat yang ditakut-takuti oleh orang-orang bahwa Abu Sufyan membawa pasukan besar untuk menghancurkan mereka, namun mereka justru berkata "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami".
Ayat 179
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini,166) sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik. Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara Rasul-rasul-Nya.167) Karena itu, berimanlah kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Jika kamu beriman dan bertakwa, maka kamu akan mendapat pahala yang besar.
Catatan Depag
166) Keadaan kaum muslimin bercampur baur dengan kaum munafikin. 167) Di antara Rasul-rasul, Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dipilih oleh Allah dengan memberikan keistimewaan kepadanya berupa pengetahuan untuk menanggapi isi hati manusia, sehingga dia dapat menentukan siapa di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa pula yang munafik atau kafir.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk menanggapi ejekan kaum munafik/musyrik yang menantang Nabi, bahwa jika beliau memang tahu siapa yang beriman dan kafir, mengapa beliau tidak mengenali orang-orang munafik di sekelilingnya.
Ayat 180
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat. Milik Allahlah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun mengecam orang-orang yang kikir dan enggan membayar Zakat. Riwayat lain menyebutkan ini tentang ulama Yahudi yang "menyembunyikan" (menahan) pengetahuan tentang ciri-ciri kenabian Muhammad SAW.
Ayat 183
الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ عَهِدَ إِلَيْنَا أَلَّا نُؤْمِنَ لِرَسُولٍ حَتَّىٰ يَأْتِيَنَا بِقُرْبَانٍ تَأْكُلُهُ النَّارُ ۗ قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
(Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, agar kami tidak beriman kepada seorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api." Katakanlah (Muhammad), "Sungguh, beberapa orang Rasul sebelumku telah datang kepadamu, (dengan) membawa bukti-bukti yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, tetapi mengapa kamu membunuhnya jika kamu orang-orang yang benar."
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk menanggapi kebohongan para pendeta Yahudi yang mengklaim bahwa Allah telah memerintahkan mereka untuk tidak beriman kepada rasul mana pun sampai rasul itu bisa mendatangkan kurban yang dimakan api.
Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun ketika Nabi diejek dan diusir secara lisan oleh Abdullah bin Ubayy (tokoh munafik) saat Nabi menunggang keledai untuk menjenguk Sa'd bin 'Ubadah. Ini memicu ketegangan antara kaum Muslimin, Yahudi, dan musyrik, lalu Allah memerintahkan umat Islam untuk bersabar. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Nabi dan pengikutnya mendapat ujian, baik dalam harta maupun dirimereka. Mereka menerima cacian, gunjingan, dan ejekan, baik dari kaum musyrik maupun Yahudi di Madinah. Itulah kejadian yang melatarbelakangi turunnya ayat ini. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 188
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafik yang suka bolos dari perang namun ingin dipuji ketika Nabi pulang. Riwayat lain menyebutkan ini terkait para pendeta Yahudi yang sengaja menyembunyikan kebenaran saat ditanya Nabi, tapi malah mengharap pujian seolah-olah mereka telah menjawab dengan jujur. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Banyak Ahli Kitab yang bangga karena menganggap diri mereka pemimpin yang ditaati. Mereka suka dipuji sebagai orang alim yang menguasai isi Taurat dan Injil, meski pada kenyataannya tidak demikian. Kaum munafikjuga mempunyai sifat yang demikian. Allah menurunkan ayat di atas untuk menegaskan bahwa mereka tidak akan selamat dari azab Allah. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 195
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain.171) Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Dan di sisi Allah ada pahala yang baik."
Catatan Depag
171) Maksudnya sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, maka demikian pula halnya perempuan berasal dari laki-laki dan perempuan. Kedua-duanya sama-sama manusia, tidak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun menanggapi pertanyaan Umm Salamah yang bertanya mengapa hanya kaum laki-laki yang sering disebut terkait hijrah dan perjuangan. Allah menegaskan bahwa Dia tidak menyia-nyiakan amal baik laki-laki maupun perempuan. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ayat ini turun terkait dengan pertanyaan Ummu Salamah kepada Rasulullah tentang tidak disebutkannya wanita dalam persoalan hijrah. Ayat inilalu turun untuk menerangkan bahwa kaum wanita diperlakukan samaseperti kaum lelaki dalam hal imbalan atas amal yang mereka lakukan. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 196
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ
Jangan sekali-kali kamu terpedaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun karena kaum mukmin merasa sedih dan heran melihat orang-orang musyrik Makkah hidup enak, berdagang dengan nyaman, sementara umat Islam hidup dalam kelaparan dan kesulitan.
Ayat 199
وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun ketika Jibril mengabarkan wafatnya Raja Najasyi (penguasa Habasyah). Nabi mengajak para sahabat salat gaib untuknya, namun kaum munafik mencibir karena Nabi mensalati "orang Nasrani Abisinia". Allah menegaskan bahwa Najasyi adalah Ahli Kitab yang beriman.
Ayat 200
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun pada masa awal ketika belum ada perintah/kegiatan perang (jihad) yang aktif, sehingga bentuk "kesabaran" (ribath) bagi sahabat saat itu adalah dengan duduk di masjid menunggu waktu salat berikutnya.