Surat 33

Al-Ahzab

الأحزاب

Golongan Yang Bersekutu, terdiri dari 73 ayat dan turun di Madinah.

Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-90 setelah Ali 'Imran sebelum Al-Mumtahanah.

Surat ini adalah yang paling transparan dalam memberikan keistimewaan khusus kepada Muhammad atas nama wahyu. Kalau dilihat secara kritis, ada beberapa masalah besar: Hak nikah eksklusif yang tidak berlaku untuk orang lain: Muhammad diizinkan menikahi sepupu, budak, dan perempuan yang "menyerahkan diri" — hak yang secara eksplisit tidak boleh ditiru orang lain. Bahkan giliran bersama istri-istrinya diserahkan sepenuhnya kepada kehendaknya. Wahyu yang secara khusus menguntungkan penulisnya adalah tanda bahaya yang sulit diabaikan. Skandal Zainab yang diselesaikan dengan wahyu: Muhammad menikahi mantan istri anak angkatnya. Tepat saat dibutuhkan, turun wahyu yang menghapus konsep anak angkat dalam hukum Islam sekaligus membenarkan pernikahan tersebut. Tidak ada cara yang lebih transparan untuk menunjukkan bahwa wahyu bisa dipesan sesuai kebutuhan. Aturan privat Muhammad yang dipaksakan menjadi hukum universal: Tamu dilarang berlama-lama di rumah Muhammad. Istri-istrinya harus berbicara dari balik hijab. Lalu perintah berjilbab diperluas ke seluruh perempuan mukmin. Ini aturan rumah tangga pribadi yang dinaikkan statusnya menjadi kewajiban agama. Kritik terhadap Muhammad diancam hukuman mati: Siapa pun yang "mengganggu Allah dan rasul-Nya" diancam dengan hukuman berat. Ini bukan perlindungan spiritual — ini imunitas hukum yang membuat Muhammad kebal dari kritik. Pemimpin yang benar-benar yakin dengan kebenarannya tidak membutuhkan ancaman mati untuk membungkam penanya. Standar ganda yang mencolok: Istri-istri Muhammad diperintahkan tinggal di rumah, tidak berdandan, dan hidup terbatas. Sementara Muhammad sendiri bebas bergerak, berperang, dan menikah tanpa batas. Ini bukan keadilan ilahi — ini patriarki yang mendapat cap supernatural. Glorifikasi perang yang sangat tepat waktu: Narasi Perang Ahzab dikemas sebagai kemenangan ilahi untuk melegitimasi ekspansi militer. Wahyu yang selalu hadir tepat saat dibutuhkan untuk membenarkan keputusan militer adalah pola yang terlalu konsisten untuk disebut kebetulan. Kesimpulan: Al-Ahzab adalah bukti paling jelas bahwa Al-Quran berfungsi sebagai alat kekuasaan pribadi. Hak istimewa seksual, justifikasi skandal, kontrol terhadap perempuan, dan perlindungan dari kritik — semuanya datang dalam satu paket yang disebut wahyu. Ini bukan pesan universal dari Tuhan, ini dokumen kekuasaan yang sangat personal.

1-3 : Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya (Ayat 1-3)
4-6 : Hubungan Keluarga dan Keimanan (Ayat 4-6)

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ ٤

(33:4) Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar664) itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menujukkan jalan (yang benar).

Catatan Depag

*664) Zihar ialah perkataan seorang suami kepada istrinya, "Punggungmu haram bagiku seperti punggung ibuku," atau perkataan lain yang sama maksudnya. Adalah menjadi adat kebiasaan orang Arab Jahiliah bahwa apabila dia berkata demikian kepada istrinya maka istrinya itu haram baginya untuk selama-lamanya. Tetapi setelah Islam datang, maka yang haram untuk selama-lamanya itu dihapuskan dan istri-istri itu kembali halal baginya dengan membayar kafarat (denda).

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun sebagai tanggapan atas kaum munafik yang menuduh Rasulullah mempunyai dua hati: satu hati bersama sahabatnya, dan satu hati bersama kaum munafik. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا ٥

(33:5) Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah. Dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.665) Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Catatan Depag

*665) Maula-maula ialah hamba sahaya yang sudah dimerdekakan atau seseorang yang telah dijadikan anak angkat, seperti Salim anak angkat Hużaifah, dipanggil Maula Hużaifah.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun untuk menghapus kebiasaan orang-orang di masa itu yang sering memanggil Zayd bin Harithah (anak angkat Nabi) dengan sebutan "Zayd bin Muhammad". Ayat ini mewajibkan umat Islam memanggil anak angkat dengan nama ayah kandung mereka yang sebenarnya. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ayat ini turun untuk menegur sebagian sahabat yang memanggil Zaid bin Èàrišah dengan Zaid bin Muëammad. Zaid adalah seorang pria yangsejak kecil diasuh dan diangkat anak oleh Nabi. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ۗ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَىٰ أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا ٦

(33:6) Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri666) dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik667) kepada saudara-saudaramu (seagama). Demikianlah telah tertulis dalam Kitab (Allah).

Catatan Depag

*666) Orang-orang mukmin itu mencintai Nabi mereka, lebih dari mencintai diri mereka sendiri dalam segala urusan. 667) Berbuat baik di sini ialah berwasiat yang tidak lebih dari sepertiga harta.

7-8 : Perjanjian dengan Para Nabi (Ayat 7-8)
9-27 : Perang Ahzab/Khandaq (Ayat 9-27)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا ٩

(33:9) Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu.670) Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Catatan Depag

*670) Ayat ini menerangkan kisah Ahzab yaitu golongan-golongan yang dihancurkan dalam perang Khandaq karena menentang Allah dan rasul-Nya. Yang dimaksud dengan bala tentara yang tidak dapat kamu lihat ialah para malaikat yang sengaja didatangkan Allah untuk menghancurkan musuh-musuh Allah itu.

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا ١٠

(33:10) (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan671) dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.

Catatan Depag

*671) Menggambarkan bagaimana dahsyatnya perasaan takut dan perasaan gentar pada waktu itu.

وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا ۚ وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا ١٣

(33:13) Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, "Wahai penduduk Yasrib (Madinah)! Tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)." Padahal rumah-rumah itu tidak terbuka, mereka hanyalah hendak lari.

قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا ١٧

(33:17) Katakanlah, "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (ketentuan) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Mereka itu tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.

أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ ۚ أُولَٰئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا ١٩

(33:19) Mereka kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.

يَحْسَبُونَ الْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا ۖ وَإِنْ يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا فِيكُمْ مَا قَاتَلُوا إِلَّا قَلِيلًا ٢٠

(33:20) Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan (yang bersekutu) itu belum pergi, dan jika golongan-golongan (yang bersekutu) itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanyakan berita tentang kamu. Dan sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا ٢٢

(33:22) Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya672) kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka.

Catatan Depag

*672) Yang dijanjikan Allah dan Rasul itu ialah kemenangan setelah mengalami kesukaran.

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا ٢٣

(33:23) Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu673) dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).

Catatan Depag

*673) Menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun memuji para pejuang yang menepati janji mereka kepada Allah. Di antaranya adalah Anas bin Al-Nadr yang menyesal tidak ikut Perang Badar, lalu berjuang habis-habisan di Perang Uhud hingga mati syahid dengan 80 lebih luka tebasan dan tusukan. Ayat ini juga memuji Talhah bin 'Ubayd Allah yang tangannya terluka parah saat melindungi Nabi di Perang Uhud. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Anas bin an-Naýr adalah salah satu sahabat yang mati syahid pada Perang Uhud. Beliau gugur setelah bertempur dengan gagah berani, sesuai sumpahnya kepada Allah setelah ia tidak dapat turut serta dalam Perang Badar. Itulah yang melatarbelakangi turunnya ayat ini. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا ٢٤

(33:24) Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا ۚ وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا ٢٥

(33:25) Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang mereka penuh memendam kejengkelan, karena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apa pun. Cukuplah Allah (yang menolong) menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan.674) Dan Allah Mahakuat, Mahaperkasa.

Catatan Depag

*674) Dalam Perang Khandaq, orang mukmin tidak berperang, karena Allah telah menghalau mereka dengan mengirimkan angin dan malaikat.

وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا ٢٦

(33:26) Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraiẓah) yang membantu mereka (golongan-golongan yang bersekutu) dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan.675)

Catatan Depag

*675) Setelah golongan-golongan yang bersekutu itu kocar-kacir, maka Allah memerintahkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk menghancurkan Bani Quraiẓah (salah satu kabilah Yahudi di Madinah) dan menghalau mereka dari benteng-benteng mereka, kemudian seluruh laki-laki yang ikut berperang dibunuh, perempuan dan anak-anak ditawan.

وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا ٢٧

(33:27) Dan Dia mewariskan kepadamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak.676) Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu.

Catatan Depag

*676) Tanah-tanah yang akan dimasuki oleh tentara Islam.

28-34 : Etika Keluarga Nabi (Ayat 28-34)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ٢٨

(33:28) Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, "Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik."

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا ٣٠

(33:30) Wahai istri-istri Nabi! Barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya azabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Dan yang demikian itu, mudah bagi Allah.

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا ٣٢

(33:32) Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara)677) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya,678) dan ucapkanlah perkataan yang baik,

Catatan Depag

*677) Berbicara dengan sikap yang menimbulkan orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka. 678) Orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan perempuan seperti melakukan zina.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا ٣٣

(33:33) Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu679) dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu,680) dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait681) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Catatan Depag

*679) Istri-istri Rasul agar tetap dirumah, dan keluar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syarak. 680) "Jahiliah dahulu" ialah jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum zaman Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dan yang dimaksud dengan "jahiliah sekarang" ialah jahiliah kemaksiatan, yang terjadi setelah datangnya Islam. 681) Ahlulbait yaitu keluarga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

Asbabun Nuzul

Ayat ini (dikenal sebagai ayat Tathir) turun berkenaan dengan lima orang, yaitu: Nabi Muhammad SAW, 'Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Ketika mereka berkumpul untuk makan bersama di rumah Umm Salamah, Nabi menyelimuti mereka dengan kain khaybar dan berdoa memohon agar Allah menyucikan Ahli Bait-nya. (Beberapa mufasir juga berpendapat ini mencakup para istri Nabi).

35 : Pahala bagi Muslim dan Muslimah (Ayat 35)

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ٣٥

(33:35) Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun karena Asma' bint Umays (setelah pulang dari Habasyah) serta beberapa Muslimah lainnya mengeluh kepada istri-istri Nabi bahwa kaum wanita merasa kecewa karena Al-Qur'an tampaknya hanya banyak memuji kaum laki-laki. Allah kemudian menurunkan ayat ini yang secara eksplisit menyebutkan pahala dan kemuliaan laki-laki dan perempuan mukmin secara setara. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Suatu hari Ummu Salamah mengeluh kepada Nabi karena kaum wanitatidak pernah disebut-sebut dalam Al-Qur’an, tidak seperti kaum lelaki. Ayat ini turun untuk menanggapi keluhan itu. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

36-37 : Kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya (Ayat 36-37)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا ٣٦

(33:36) Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.

Asbabun Nuzul

Zainab binti Jaësy sangat ingin dinikahi oleh Nabi. Karena itu, ketika beliau justru memintanya untuk menikah dengan Zaid bin Èàrišah, seorangbudak yang dimerdekakan Nabi, ia menolak dengan tegas karena menganggap status sosialnya lebih tinggi daripada Zaid. Setelah ayat ini turun, Zainab pun rela menikah dengan Zaid. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا ٣٧

(33:37) Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, "Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah," sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan ditampakkan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab)682) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.

Catatan Depag

*682) Setelah habis idahnya.

Asbabun Nuzul

Rumah tangga Zainab binti Jaësy dengan Zaid bin Èàrišah berjalan kurang harmonis. Ketika sang suami mengadukan hal tersebut kepada Nabi, beliau memintanya untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Ayat diatas turun berkaitan dengan peristiwa ini. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

38-48 : Tugas dan Kedudukan Nabi Muhammad (Ayat 38-48)

مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُ ۖ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا ٣٨

(33:38) Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا ٣٩

(33:39) (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah,683) mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.

Catatan Depag

*683) Para rasul yang menyampaikan syariat-syariat Allah kepada manusia.

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ٤٠

(33:40) Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu,684) tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Catatan Depag

*684) Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, karena itu janda Zaid (Zainab) dapat dinikahi oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا ٤٣

(33:43) Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun setelah Allah memerintahkan malaikat bersalawat kepada Nabi (ayat 56). Abu Bakar kemudian mencatat bahwa Allah tidak pernah memberikan kebaikan kepada Nabi kecuali umatnya pun ikut mendapat bagian di dalamnya. Sebagai pembenaran, Allah menurunkan ayat ini yang menyatakan bahwa Allah dan malaikat-Nya juga bersalawat (memberi rahmat) kepada orang-orang beriman.

49-52 : Pernikahan dan Perceraian (Ayat 49-52)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا ۖ فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ٤٩

(33:49) Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan mukmin, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka tidak ada masa idah atas mereka yang perlu kamu perhitungkan. Namun berilah mereka mut'ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۗ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا ٥٠

(33:50) Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah engkau berikan maskawinnya dan hamba sahaya yang engkau miliki, termasuk apa yang engkau peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersamamu, dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi ingin menikahinya, sebagai kekhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki agar tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Asbabun Nuzul

Ada keinginan dalam diri Nabi untuk menikahi sepupu beliau yang bernama Ummu Hàni’ binti Abù Íàlib yang ketika itu tidak ikut berhijrah ke Madinah. Dengan turunnya ayat ini Allah hendak menegaskan keharamanbagi beliau menikahi wanita yang tidak berhijrah bersamanya ke Madinah. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ ۖ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ تَقَرَّ أَعْيُنُهُنَّ وَلَا يَحْزَنَّ وَيَرْضَيْنَ بِمَا آتَيْتَهُنَّ كُلُّهُنَّ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمًا ٥١

(33:51) Engkau boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang engkau kehendaki di antara mereka (para istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa (di antara mereka) yang engkau kehendaki. Dan siapa yang engkau ingini untuk menggaulinya kembali dari istri-istrimu yang telah engkau sisihkan, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan mereka rela dengan apa yang telah engkau berikan kepada mereka semuanya. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.686)

Catatan Depag

*686) Menurut riwayat, pada suatu ketika istri-istri Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ada yang cemburu, dan ada yang meminta tambahan belanja. Maka Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memutuskan hubungan dengan mereka sampai sebulan lamanya. Oleh karena takut diceraikan Nabi, maka mereka datang kepada Nabi menyatakan kerelaannya atas apa saja yang akan diperbuat Nabi terhadap mereka. Turunnya ayat ini memberikan izin kepada Nabi untuk menggauli siapa yang dikehendakinya dari istri-istrinya atau tidak menggaulinya; dan juga memberi izin kepada Nabi untuk rujuk kepada istri-istrinya sekiranya ada istrinya yang sudah diceraikannya.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun ketika sebagian istri Nabi merasa cemburu satu sama lain dan sempat menuntut tambahan nafkah hingga Nabi menjauhi mereka selama sebulan. Setelah Allah menyuruh mereka memilih antara dunia dan akhirat, Allah menurunkan ayat ini untuk memberikan keluasan dan wewenang penuh kepada Nabi dalam mengatur jadwal gilirannya (menunda atau mendahulukan siapa pun) agar mereka senantiasa rida. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) ‘À’isyah menganggap para wanita yang menawarkan diri untuk diperistri Nabi tidak tahu malu. Menanggapi hal ini, turunlah ayat di atas dalam rangka memberi Nabi kebebasan untuk menikahi atau tidak menikahi mereka. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

لَا يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلَا أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ إِلَّا مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا ٥٢

(33:52) Tidak halal bagimu (Muhammad) menikahi perempuan-perempuan (lain) setelah itu, dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang engkau miliki. Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.

53-55 : Tata Krama dalam Rumah Nabi (Ayat 53-55)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا ٥٣

(33:53) Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya),687) tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelahnya (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.

Catatan Depag

*687) Ayat ini melarang sahabat masuk ke rumah Rasulullah untuk makan sambil menunggu-nunggu waktu makannya Rasulullah.

Asbabun Nuzul

Ayat ini (ayat Hijab) turun setelah acara resepsi pernikahan Nabi dengan Zaynab bint Jahsh. Ada tiga orang tamu yang terus duduk mengobrol dan enggan pulang sehingga membuat Nabi sangat sungkan dan tidak nyaman. Nabi sampai harus keluar masuk ruangan berulang kali. Akhirnya Nabi menarik tirai pembatas, lalu turunlah aturan etika bertamu ke rumah Nabi. Ayat ini juga melarang keras siapa pun menikahi istri Nabi kelak jika beliau wafat, sebagai teguran kepada seorang tokoh (Talhah) yang pernah berniat menikahi 'Aisyah jika Nabi tiada. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ketika Rasulullah menikahi Zainab binti Jaësy, beliau mengundang beberapa sahabatnya. Mereka lalu duduk-duduk dan berbincang sangat lamadi rumah beliau. Hal itu membuat beliau merasa kurang nyaman, namun beliau juga segan meminta mereka meninggalkan rumahnya. Ayat ini lantas turun untuk meminta para sahabat segera berpamitan dan meninggalkan rumah beliau begitu urusan mereka telah usai. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

لَا جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي آبَائِهِنَّ وَلَا أَبْنَائِهِنَّ وَلَا إِخْوَانِهِنَّ وَلَا أَبْنَاءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلَا أَبْنَاءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلَا نِسَائِهِنَّ وَلَا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ ۗ وَاتَّقِينَ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا ٥٥

(33:55) Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara perempuan mereka, perempuan-perempuan mereka (yang beriman) dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (istri-istri Nabi) kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

56-58 : Penghormatan kepada Nabi (Ayat 56-58)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ٥٦

(33:56) Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi.688) Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.689)

Catatan Depag

*688) Selawat dari Allah berarti memberi rahmat; dari malaikat memohonkan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa agar diberi rahmat seperti dengan perkataan, Allāhumma salli 'alā Muhammad. 689) Dengan mengucapkan perkataan seperti Assalāmu'alaika ayyuhan Nabi, artinya semoga keselamatan kepadamu wahai Nabi.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun karena sahabat seperti Ka'b bin 'Ujrah bertanya kepada Nabi. Mereka berkata, "Kami sudah tahu cara memberi salam kepadamu (dalam tasyahud), tetapi bagaimana cara kami bersalawat kepadamu?" Kemudian turunlah perintah bagi orang beriman untuk bersalawat kepada Nabi.

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا ٥٨

(33:58) Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun berkaitan dengan kebiasaan orang-orang fasik dan munafik di Madinah yang suka berkeliaran di malam hari untuk menggoda atau melecehkan budak-budak wanita yang sedang buang hajat. Kadang-kadang mereka salah sasaran dan mengganggu wanita merdeka/beriman yang tidak tertutup rapat. Riwayat lain juga menyebut ayat ini turun membela 'Ali bin Abi Thalib yang sering dijelek-jelekkan oleh orang munafik, atau tentang 'Umar yang memukul wanita beriman yang auratnya terbuka. Berikut adalah kelanjutan daftar sebab turunnya ayat untuk Tahap 6, disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan format yang kamu minta: Surah Ya-Sin (36) 36:12 Ayat ini turun berkenaan dengan Bani Salamah yang tempat tinggalnya berada di ujung pinggiran kota Madinah. Mereka berencana memindahkan rumah mereka agar lebih dekat ke masjid Nabi. Namun Nabi menyuruh mereka tetap tinggal di sana karena setiap jejak langkah mereka berjalan menuju masjid dicatat sebagai pahala.

59 : Aurat dan Perlindungan Perempuan (Ayat 59)
60-62 : Ancaman bagi Orang Munafik (Ayat 60-62)
63-68 : Hari Kiamat (Ayat 63-68)
69-73 : Kehormatan dan Ketakwaan (Ayat 69-73)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا ۚ وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا ٦٩

(33:69) Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا ٧٢

(33:72) Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu amanah itu dipikul oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا ٧٣

(33:73) sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.