Bacaan
TopikRefleksi Uhud: Kepercayaan kepada Allah dan Pengampunan
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
(3:159) Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.160) Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
Catatan Depag
160) Urusan peperangan dan hal-hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lain.
Kritik
(3:149-160): Pengampunan bersyarat yang manipulatif — 'Allah Maha Pengampun' (3:155) dikondisikan pada 'jika mereka bertobat' — pengampunan bersyarat ini adalah kontrol perilaku. Pengampunan sejati tidak memerlukan syarat; jika memerlukan syarat, itu adalah transaksi, bukan pengampunan.
Cacat Logika
Sifat pembawa dipakai sebagai penopang. Kelemahlembutan disebut sebab orang mau berkumpul, dan kekasaran disebut akan membubarkan mereka. Yang diterangkan mengapa orang bertahan, bukan mengapa yang disampaikan itu benar.