Bacaan
TopikPerjanjian Para Nabi dan Eksklusivitas Islam
قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Katakanlah (Muhammad), "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri."
Logical Fallacy
Ipse dixit — 'kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami' adalah klaim kepercayaan tanpa pembuktian.
Moral Concern
(3:81-91): Penyangkalan pluralisme — Klaim bahwa semua nabi mengarah pada Muhammad menutup kemungkinan bahwa tradisi spiritual lain memiliki jalannya sendiri. Ini adalah penyangkalan terhadap pluralisme dan keragaman pengalaman spiritual manusia.

