Bacaan
TopikIntegritas Nabi, Tingkatan Iman, dan Kemunafikan
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
(3:161) Dan tidak mungkin seorang Nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barang siapa berkhianat, niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi.
Asbabun Nuzulmenurut Muchlis M. Hanafi
Ayat ini turun untuk membersihkan nama Nabi dari tuduhan kaum munafik yang mengira beliau menggelapkan kain beludru merah dari harta rampasan Perang Badar. Riwayat lain menyebut ini terkait ketakutan pemanah di Uhud yang khawatir tidak diberi bagian rampasan perang.
Kontradiksi
Kontra 22:52. Ayat ini menyatakan tidak mungkin seorang nabi berkhianat, sedangkan 22:52 menyebut setan menyusupkan sesuatu ke dalam apa yang disampaikan setiap nabi sebelum Allah menghapusnya. Jaminan yang satu tertutup, yang lain membuka celah, dan celah itu yang jadi pangkal riwayat ayat Gharaniq.
Catatan Saya
Belum ada catatan untuk ayat ini.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

