Bacaan
TopikIntegritas Nabi, Tingkatan Iman, dan Kemunafikan
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur`an) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Logical Fallacy
Ipse dixit — 'Allah telah memberi karunia kepada orang beriman dengan mengutus rasul dari kalangan mereka' — kenabian sebagai nikmat tanpa verifikasi.
Moral Concern
(3:164): 'Allah memberi karunia kepada orang beriman dengan mengutus rasul dari kalangan mereka' — mendefinisikan nikmat tertinggi sebagai keanggotaan komunitas Islam.

