Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ المص
Alif Lām Mīm ṣād.


Surat 7
الأعراف
Tempat Tertinggi, terdiri dari 206 ayat dan turun di Makkah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-39 setelah Sad sebelum Al-Jinn.
Al-A'raf: Surat Panjang yang Mengekspos Fondasi Bermasalah Islam Surat Al-A'raf adalah satu dari surat terpanjang dalam Al-Quran (206 ayat) dan termasuk surat Makkiyah. Isinya mencakup kisah penciptaan Iblis, narasi Adam dan Hawa, serangkaian kisah penghukuman umat terdahulu (Nuh, 'Ad, Tsamud, Luth, Syu'aib, Musa), deskripsi hari kiamat dan sistem pakaian moral, hingga ajaran tentang tauhid. Membaca surat ini secara kritis mengungkap sejumlah persoalan serius yang tidak bisa diselesaikan dengan tafsir apologetis biasa. 1. TEODISI YANG GAGAL: ALLAH MENCIPTAKAN IBLIS UNTUK MENYESATKAN MANUSIA Salah satu isu paling fundamental dalam surat ini adalah paradoks penciptaan Iblis. Ayat 11–18 menggambarkan Allah memerintahkan malaikat sujud kepada Adam; Iblis menolak karena merasa lebih mulia (dari api, bukan tanah). Allah mengutuk Iblis — lalu secara eksplisit mengizinkan Iblis menggoda dan menyesatkan manusia sampai hari kiamat (ayat 14–18). Paradoks ini tidak bisa diselesaikan: kalau Allah mahakuasa dan mahamengetahui, Dia tahu sejak awal bahwa Iblis akan menolak dan bahwa kehadiran Iblis akan menyebabkan jutaan manusia sesat. Kalau Allah tetap menciptakan dan mengizinkan Iblis beroperasi, Allah adalah penyebab pertama (prima causa) dari kesesatan manusia. Menghukum manusia atas kesesatan yang infrastrukturnya dirancang sejak awal oleh penciptanya sendiri adalah kontradiksi moral yang mendasar. Lebih jauh, ayat 16 mencatat Iblis berkata: "Karena Engkau telah menyesatkan aku" — pernyataan yang tidak pernah dibantah Allah dalam teks. Ini mengimplikasikan bahwa bahkan Iblis mengakui dirinya adalah korban predestinasi, bukan pemberontak bebas. 2. NARASI ADAM DAN HAWA: KONTRADIKSI LINTAS SURAT DAN PEMBUKTIAN KASAR Ayat 22–25 menceritakan kisah Adam dan Hawa yang tergoda, meminta ampun, lalu diperintahkan turun ke bumi. Tapi dibandingkan dengan versi paralel dalam Surat 2:36–38 dan Surat 20:121–124, ada kontradiksi kronologis yang tidak bisa diabaikan. Dalam Surat 20, Adam diampuni sebelum diperintahkan turun. Dalam Surat 7, tidak ada pernyataan pengampunan — langsung ada perintah turun. Dalam Surat 2, perintah turun muncul dua kali (2:36 dan 2:38). Para sarjana akademis mencatat bahwa Surat 2 tampaknya menggabungkan versi Surat 7 dan Surat 20 secara tidak rapi, menciptakan narasi yang tumpang tindih. Ini bukan soal "tafsir berbeda." Ini soal apakah kronologi dalam kitab yang diklaim sempurna bisa saling bertentangan atau tidak. Jawabannya: ya, bisa — dan itu masalah. Selain itu, narasi ini mengandung persoalan moral: perempuan diposisikan sebagai yang lebih mudah tergoda (tradisi tafsir dominan). Konsep rasa malu atas tubuh (aurat) dipancarkan dari sini, dan menjadi fondasi sistem kontrol tubuh perempuan yang bertahan selama berabad-abad. 3. GENOSIDA TEOLOGIS: POLA PENGHANCURAN MASSAL SEBAGAI NARASI UTAMA Surat ini menghabiskan lebih dari separuh isinya untuk menceritakan penghancuran total umat-umat yang menolak nabinya: Kaum Nuh (ayat 59–64), Kaum 'Ad (65–72), Kaum Tsamud (73–79), Kaum Luth (80–84), Kaum Syu'aib (85–93), dan Kaum Firaun (103–136). Polanya identik dan berulang: nabi datang → umat menolak → Allah menghancurkan mereka semua. Yang perlu dikritisi adalah bukan saja kekerasan yang dinormalisasi, tapi logika di baliknya. Penghancuran bersifat kolektif — tidak ada mekanisme untuk melindungi individu yang mungkin tidak bersalah, anak-anak, atau mereka yang tidak pernah mendapat kesempatan mendengar dakwah dengan adil. Lebih jauh, dalam kasus Kaum Tsamud (ayat 78), mereka dinyatakan dibinasakan dengan gempa bumi — sementara Surat 54:31 menyebut "satu teriakan yang dahsyat" dan Surat 11:67 menyebut "suara keras yang menggelegar." Narasi yang sama dikisahkan dengan mekanisme kehancuran yang berbeda di tiga tempat berbeda — kontradiksi faktual yang mencederai klaim konsistensi teks. Post Hoc Ergo Propter Hoc adalah falasi logika yang mendominasi seluruh bagian ini: setiap bencana alam (gempa, angin topan, hujan batu, banjir) diklaim sebagai respons langsung atas penolakan agama. Tidak ada mekanisme kausalitas yang ditawarkan — hanya asersi yang diulang berkali-kali sampai terasa seperti hukum alam. 4. HOMOFOBIA YANG DIKLAIM SEBAGAI SEJARAH Ayat 80–81 menyatakan bahwa kaum Luth adalah "orang-orang yang pertama kali" melakukan hubungan sesama jenis. Klaim ini secara empiris keliru. Hubungan sesama jenis terdokumentasi dalam berbagai peradaban kuno — Mesir, Yunani, Roma, Mesopotamia — jauh sebelum kisah Luth berlangsung. Orientasi seksual juga terdokumentasi secara konsisten di ratusan spesies hewan. Namun persoalan yang lebih mendasar adalah framing moralnya: teks ini menggunakan kata "fahisyah" (perbuatan keji) dan "israf" (melampaui batas) untuk menggambarkan hubungan sesama jenis, tanpa memberikan penjelasan mengapa hubungan tersebut merusak atau merugikan pihak mana pun. Ini bukan argumen moral — ini labelisasi tanpa justifikasi, yang kemudian dijadikan dasar hukum pidana dan kekerasan sosial terhadap komunitas LGBTQ+ selama berabad-abad. 5. KOSMOLOGI YANG SALAH Ayat 54 menggambarkan "malam menutupi siang dengan cepat" — gambaran yang mencerminkan konsepsi kosmologis pra-ilmiah di mana malam dan siang adalah entitas yang saling mengejar. Ini bukan fenomena yang terjadi di seluruh alam semesta; ini adalah persepsi lokal dari permukaan bumi yang berotasi. Teks tidak pernah mengoreksi persepsi ini ke pemahaman heliosentris. Ayat 40 menyatakan tentang "gerbang-gerbang langit" — konsep kosmologi kuno yang menempatkan langit sebagai kubah berlapis dengan pintu-pintu. Ilmu astronomi modern tidak menemukan bukti keberadaan gerbang semacam itu. 6. PREDESTINASI VS. TANGGUNG JAWAB MORAL: KONTRADIKSI SISTEMIK Surat ini berulang kali menyatakan bahwa Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (ayat 155–156, 178, 186). Pernyataan ini tidak bisa diharmoniskan dengan konsep tanggung jawab moral yang menjadi dasar seluruh sistem hukum dan etika Islam. Kalau Allah yang menentukan siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk, maka orang yang sesat tidak memilih kesesatannya. Menghukum mereka dengan siksa kekal di neraka atas pilihan yang bukan pilihan mereka sendiri adalah tirani, bukan keadilan. Teks tidak pernah menyelesaikan kontradiksi ini — ia hanya mengulanginya di berbagai tempat sambil mempertahankan keduanya secara bersamaan. 7. PERJANJIAN PRA-KELAHIRAN: PERSETUJUAN YANG TIDAK SAH Ayat 172 mengklaim bahwa Allah mengambil "kesaksian" dari seluruh keturunan Adam sebelum mereka lahir: "Bukankah Aku Tuhanmu?" dan mereka menjawab "Betul, kami bersaksi." Perjanjian ini kemudian dijadikan dasar mengapa manusia tidak bisa beralasan "kami tidak tahu" di hari kiamat. Ini adalah konstruksi persetujuan yang tidak bisa diterima: tidak seorang pun yang ada sekarang mengingat perjanjian tersebut, tidak ada yang bisa memverifikasinya, dan tidak ada yang bisa menolaknya. Dalam terminologi hukum modern, ini adalah kontrak yang dibuat tanpa kapasitas hukum yang memadai, tanpa informasi yang lengkap, dan tanpa kemungkinan penolakan — dengan kata lain, bukan kontrak yang sah. 8. FALASI LOGIKA YANG MENDOMINASI TEKS Surat ini adalah laboratorium falasi logika: Argumentum ad Baculum (ancaman) mendominasi: neraka digambarkan berkali-kali dengan detail yang semakin intens bukan untuk memberikan argumen, melainkan untuk menciptakan rasa takut sebagai motivator kepatuhan. Ad Hominem struktural: orang yang tidak percaya disamakan dengan "binatang ternak, bahkan lebih sesat" (ayat 179) dan anjing yang menjulurkan lidah (ayat 176) — bukan argumen yang membahas keberatan mereka, melainkan serangan terhadap martabat mereka. Post Hoc Ergo Propter Hoc: setiap bencana alam dikaitkan dengan penolakan agama tanpa mekanisme kausalitas. Petitio Principii: "terbuktilah kebenaran" setelah tongkat Musa menelan sihir penyihir (ayat 118) — mukjizat tidak bisa membuktikan klaim teologis karena standar pembuktian tidak pernah ditetapkan secara independen. 9. NARASI MUSA: KONTRADIKSI DENGAN SURAT PARALEL Kisah Musa dalam surat ini bertentangan dengan versi paralel di surat-surat lain dalam beberapa titik: Gelar yang diberikan kepada Firaun berbeda: Surat 7:104 mencatat Musa berkata "aku utusan Tuhan semesta alam," sementara Surat 20:47 mencatat instruksi yang berbeda. Reaksi para pembesar Firaun terhadap Musa berbeda antara Surat 7:109–112 dan Surat 26:34–35. Alasan Aaron saat dimarahi Musa tentang anak sapi emas berbeda antara 7:150 dan 20:90–95. Kalau ini wahyu dari sumber yang sama, narasi seharusnya konsisten. Inkonsistensi ini lebih mudah dijelaskan sebagai hasil komposisi manusia yang tidak sempurna daripada wahyu ilahi yang sempurna. 10. JANTUNG SEBAGAI PUSAT KOGNISI Ayat 179 menyatakan mereka yang tidak berpikir "memiliki hati tapi tidak digunakan untuk memahami." Ini mencerminkan pandangan pra-ilmiah yang menempatkan jantung (qalb) sebagai pusat kognisi dan inteligensi — sebuah kepercayaan umum di dunia kuno, yang telah dibantah oleh ilmu neurosains modern yang menetapkan otak sebagai pusat pemrosesan kognitif. KESIMPULAN Al-A'raf bukan sekadar surat panjang dengan kisah-kisah nabi. Ia adalah teks yang secara sistematis membangun fondasi bermasalah: teodisi yang mengizinkan kejahatan sekaligus menghukum pelakunya, narasi genosida yang disakralkan sebagai kehendak ilahi, homofobia yang diposisikan sebagai fakta sejarah, kosmologi yang salah, predestinasi yang menghancurkan tanggung jawab moral, dan perjanjian pra-kelahiran yang tidak bisa disetujui secara sadar. Surat ini didominasi oleh falasi logika (ancaman, serangan personal, generalisasi berlebihan, circular reasoning) bukan oleh argumen yang bisa diverifikasi. Kalau ini wahyu dari entitas Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil, standar yang digunakan tidak konsisten dengan keadilan, empati, atau logika yang menjadi fondasi etika manusiawi.
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ المص
Alif Lām Mīm ṣād.
Ayat 2
كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِنْهُ لِتُنْذِرَ بِهِ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad); maka janganlah engkau sesak dada karenanya, agar engkau memberi peringatan dengan (Kitab) itu dan menjadi pelajaran bagi orang yang beriman.
Ayat 3
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.
Ayat 4
وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُونَ
Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan, siksaan Kami datang (menimpa penduduk)nya pada malam hari, atau pada saat mereka beristirahat pada siang hari.
Ayat 5
فَمَا كَانَ دَعْوَاهُمْ إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا إِلَّا أَنْ قَالُوا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ
Maka ketika siksaan Kami datang menimpa mereka, keluhan mereka tidak lain hanya mengucap, "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."
Ayat 6
فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ
Ayat 11
وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ
Dan sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat. "Bersujudlah kamu kepada Adam," maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud.
Ayat 12
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Ayat 26
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.
Ayat 27
يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.
Ayat 37
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۚ أُولَٰئِكَ يَنَالُهُمْ نَصِيبُهُمْ مِنَ الْكِتَابِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوْنَهُمْ قَالُوا أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ
Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan dalam Kitab sampai datang para utusan (malaikat) Kami kepada mereka untuk mencabut nyawanya. Mereka (para malaikat) berkata, Manakah sembahan yang biasa kamu sembah selain Allah?" Mereka (orang musyrik) menjawab, "Semuanya telah lenyap dari kami," dan mereka memberikan kesaksian diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir.
Ayat 38
قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِنْ لَا تَعْلَمُونَ
Ayat 54
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy.333) Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.
Catatan Depag
*333) Bersemayam di atas Arasy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan keagungan Allah dan kesucian-Nya.
Ayat 55
Ayat 59
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat).
Ayat 60
قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Pemuka-pemuka kaumnya berkata, " Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata."
Ayat 61
قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Ayat 65
وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Dan kepada kaum 'Ād (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?"
Ayat 66
قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ
Pemuka-pemuka orang yang kafir dari kaumnya berkata, "Sesungguhnya Kami memandang kamu benar-benar kurang waras dan kami kira kamu termasuk orang-orang yang berdusta."
Ayat 67
قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Ayat 73
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) Unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih."
Ayat 74
وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum 'Ad dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar kamu dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi.
Ayat 80
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ
Dan (Kami juga telah mengutus) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, "Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).
Ayat 81
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
Ayat 85
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu'aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman."
Ayat 86
وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Ayat 94
وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ
Dan Kami tidak mengutus seorang Nabi pun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan Nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka (tunduk dengan) merendahkan diri.
Ayat 95
ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
Kemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kesenangan sehingga (keturunan dan harta mereka) bertambah banyak, lalu mereka berkata, "Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan," maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari.
Ayat 103
ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَظَلَمُوا بِهَا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Setelah mereka, kemudian Kami utus Musa dengan membawa bukti-bukti Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari bukti-bukti itu. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.
Ayat 104
وَقَالَ مُوسَىٰ يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dan Musa berkata, "Wahai Fir'aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam.
Ayat 138
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
Dan Kami selamatkan Bani Israil menyeberangi laut itu (bagian utara dari Laut Merah). Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka (Bani israil) berkata, "Wahai Musa! Buatlah untuk kami satu tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." (Musa) menjawab, "Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh."
Ayat 139
إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Sesungguhnya mereka akan dihancurkan (oleh kepercayaan) yang dianutnya dan akan sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.
Ayat 140
قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
Ayat 148
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَىٰ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ ۚ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا ۘ اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ
Dan kaum Musa, setelah kepergian (Musa ke Gunung Sinai), mereka membuat patung anak sapi yang bertubuh dan dapat melenguh (bersuara) dari perhiasan (emas).341) Apakah mereka tidak mengetahui bahwa (patung) anak sapi itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan). Mereka adalah orang-orang yang zalim.
Catatan Depag
*341) Mereka membuat patung anak sapi dari emas. Para mufasir berpendapat bahwa patung itu tetap patung tidak bernyawa. Suara yang seperti sapi itu hanyalah disebabkan oleh angin yang masuk ke dalam rongga patung itu dengan teknik yang dikenal oleh Samiri waktu itu. Dan sebagian mufasir ada yang menafsirkan bahwa patung yang dibuat itu kemudian menjadi tubuh yang bernyawa dan mempunyai suara sapi.
Ayat 149
وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِنْ لَمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Ayat 158
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Katakanlah (Muhammad), "Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk."
Ayat 159
وَمِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ
Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan (dasar) kebenaran dan dengan itu (pula) mereka berlaku adil.345)
Catatan Depag
*345) Mereka memberi petunjuk dan menuntun dengan berpedoman kepada petunjuk dan tuntunan yang datang dari Allah. Dan juga dalam hal mengadili perkara, mereka selalu mencari keadilan dengan berpedoman kepada petunjuk dan tuntunan Allah.
Ayat 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukanlah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,"
Ayat 173
Ayat 175
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), lalu jadilah dia termasuk orang yang sesat.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun mengenai kisah Bal'am bin Ba'ura, seorang alim dari Bani Israil yang tahu nama Allah yang paling agung (Ismullah al-A'zam) namun menuruti bujukan kaumnya untuk mendoakan keburukan bagi Nabi Musa. Riwayat lain menyebutkan ini tentang Umayyah bin Abi'l-Salt atau seorang pria yang menyia-nyiakan doa mustajab karena istrinya.
Ayat 176
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Ayat 180
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan Allah memiliki Asmāul Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmāul Ḥusnā itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya351) Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Catatan Depag
*351) Jangan hiraukan orang-orang yang menyembah Allah dengan menyebut nama-nama yang tidak sesuai dengan sifat-sifat keagungan Allah, atau dengan memakai Asmāul Ḥusnā, tetapi dengan maksud menodai nama Allah atau mempergunakan Asmāul Ḥusnā untuk nama-nama selain Allah.
Ayat 181
وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ
Dan di antara orang-orang yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan (dasar) kebenaran, dan dengan itu (pula) mereka berlaku adil.
Ayat 187
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, "Kapan terjadi?" Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba." Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk menjawab pertanyaan kaum Yahudi (Jabal bin Qushayr dan Shamwal) dan kaum Quraisy yang sering mendesak Nabi Muhammad SAW untuk memberitahu kapan tepatnya Hari Kiamat akan terjadi. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ayat ini turun berkenaan dengan dua orang Yahudi yang bertanya kepada Nabi êallallàhu ‘alaihi wasallam tentang hari kiamat. Mereka mengaku bertanya demikian untuk membuktikan kebenaran pengakuan beliau sebagainabi. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 189
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۖ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan darinya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), "Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur."
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun menceritakan kisah Nabi Adam dan Hawa yang pada awalnya selalu kehilangan anak mereka yang masih bayi. Iblis lalu datang menggoda dan menyuruh mereka menamai anak berikutnya dengan nama 'Abd al-Harith (hamba Setan), lalu anak itu hidup.
Ayat 199
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.
Ayat 200
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah354) Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Catatan Depag
*354) Membaca A'ūżu billāhi minasy-syaiṭānir-rajīm.
Ayat 201
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
Maka pasti akan Kami tanyakan kepada umat yang telah mendapat seruan (dari Rasul-rasul) dan Kami akan tanyai (pula) para rasul,
Ayat 31
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan! Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk menghapus kebiasaan buruk masyarakat Arab di zaman Jahiliyah, baik pria maupun wanita, yang sering tawaf (mengelilingi Ka'bah) dalam keadaan telanjang bulat karena menganggap pakaian mereka penuh dosa. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ayat ini meminta umat Islam untuk mengenakan pakaian yang pantas dan menutupi aurat ketika hendak memasuki masjid; meninggalkan kebiasaan sebagian kaum musyrik yang bertawaf tanpa busana. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Allah berfirman, "Masuklah kamu ke dalam api neraka bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari kamu. Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang (masuk) belakangan (kepada) orang yang (masuk) terlebih dahulu, "Ya Tuhan kami, Mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api neraka yang berlipat ganda kepada mereka" Allah berfirman, "Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kamu tidak mengetahui."
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas."
Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah dan ingin membelokkannya. Ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.
Ayat 121
قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
mereka berkata, "Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam,
Dia (Musa) berkata, "Pantaskah aku mencari tuhan untukmu selain Allah, padahal Dia yang telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu).
Dan setelah mereka menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa telah sesat, mereka pun berkata, "Sungguh, jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang rugi."
Ayat 161
أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ
atau agar kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?"350)
Catatan Depag
*350) Agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa nenek moyang mereka dahulu telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tidak ada jalan lagi bagi mereka, hanya meniru nenek moyang mereka yang mempersekutukan Tuhan. Karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa karena kesalahan nenek moyang mereka.
Ayat 188
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman."
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun menanggapi perkataan kaum musyrik Makkah yang berkata kepada Nabi, "Kenapa Tuhanmu tidak memberitahumu harga barang yang akan naik sehingga kau bisa menimbunnya, atau memberitahumu tentang daerah yang akan kekeringan agar kau bisa pindah lebih dulu?".
Ayat 190
فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا ۚ فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Maka setelah Dia memberi kepada keduanya seorang anak yang saleh, mereka352) menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Catatan Depag
*352) Orang-orang musyrik menjadikan sekutu bagi Tuhan dalam menciptakan anak itu dengan arti bahwa anak tersebut mereka pandang sebagai hamba pula bagi berhala yang mereka sembah. Karena itulah mereka menamakan anak mereka dengan Abdul Uzza, Abdul Manat, Abdus Syams, dan sebagainya.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun menceritakan kisah Nabi Adam dan Hawa yang pada awalnya selalu kehilangan anak mereka yang masih bayi. Iblis lalu datang menggoda dan menyuruh mereka menamai anak berikutnya dengan nama 'Abd al-Harith (hamba Setan), lalu anak itu hidup.
Ayat 191
أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ
Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun? Padahal (berhala) itu sendiri diciptakan.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun menceritakan kisah Nabi Adam dan Hawa yang pada awalnya selalu kehilangan anak mereka yang masih bayi. Iblis lalu datang menggoda dan menyuruh mereka menamai anak berikutnya dengan nama 'Abd al-Harith (hamba Setan), lalu anak itu hidup.
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).
Ayat 204
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan Al-Qur`an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat."355)
Catatan Depag
*355) Jika dibacakan Al-Qur`an kita diwajibkan mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik di dalam salat maupun di luar salat, kecuali dalam salat berjamaah makmum boleh membaca surah Al-Fātiḥah sendiri atau mendengarkan saja ketika imam membaca ayat-ayat Al-Qur`an.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun sebagai perintah untuk diam dan mendengarkan dengan khusyuk, karena di masa awal Islam, sebagian orang masih suka mengobrol saat salat berjamaah, ikut membaca keras di belakang Imam, atau berbicara saat khotbah Jumat sedang berlangsung.