Bacaan
TopikKebesaran Allah sebagai Pencipta dan Penguasa (Ayat 54-58)
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
Kritik
(7:57) Kisah air bah Nuh mengadopsi fabel para Rabi (Sanhedrin 108), di mana perkataan Nuh sama sekali tidak bisa dibedakan dari perkataan Muhammad, menunjukkan proyeksi subjektif pengarangnya. (Tidak dicantumkan)
Scientific Error
Ayat 57 (mencakup 57-58) menggambarkan angin membawa air hujan yang menghidupkan tanah mati. Ini adalah deskripsi siklus hidrologi yang benar secara umum. Namun konteks teologisnya (angin sebagai 'kabar gembira rahmat Allah') mencerminkan kosmologi supranatural abad ke-7, bukan mekanisme meteorologi yang dipahami sains: konveksi udara, evaporasi, kondensasi, dan presipitasi adalah proses fisika — bukan 'rahmat yang dikirimkan'.

