← Artikel

Yusuf 12:2 · Al-Hijr 15:9  ·  15 menit

Mitos "Preservasi Sempurna" Al-Qur'an

Ribuan perbedaan naskah sudah tercatat. Seperempat kosakata Al-Qur'an bukan dari Arab. Urutan pembentukannya menunjuk ke proses yang jauh lebih panjang dari 22 tahun. Semuanya hasil penelitian manuskrip yang bisa diperiksa ulang.

Ilustrasi editorial fragmen manuskrip tua diperiksa dengan kaca pembesar

Islam membuat klaim yang cukup berani: Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab suci yang terpelihara sempurna tanpa perubahan satu huruf pun sejak diturunkan. Klaim ini sering dijadikan argumen keunggulan Islam atas agama lain. Tapi penelitian manuskrip modern menunjukkan cerita yang berbeda.

Manuskrip Sana'a: ketika tembok bicara

Tahun 1972, pekerja bangunan di Masjid Agung Sana'a, Yaman, secara tidak sengaja menemukan ribuan fragmen Al-Qur'an kuno yang tersembunyi di dalam dinding. Uji karbon menempatkan usianya di abad ke-7 sampai ke-8, artinya sezaman dengan masa Islam sendiri sedang terbentuk.

Yang bikin gerah adalah isinya. Pecahan-pecahan itu memuat bacaan yang berbeda dari Mushaf Utsmani yang kita kenal: urutan surah yang lain, ayat yang tidak ada di mushaf baku, ribuan perbedaan kata. Sebagian halamannya palimpsest, naskah lama dihapus lalu ditulisi ulang. Itu bukan tanda naskah yang terjaga. Itu tanda naskah yang diperbaiki.

Jika Al-Qur'an terpelihara sempurna, manuskrip tertua yang kita punya seharusnya identik dengan yang kita baca sekarang. Kenyataannya tidak.

Tujuh qira'at: variasi yang disebut mukjizat

Islam ortodoks mengakui tujuh cara baca (qira'at) yang sah, dan menyebutnya kemudahan dari Allah. Tapi sebagian perbedaan di antara qira'at itu bukan soal pelafalan, melainkan soal makna.

Ambil Q 2:238 misalnya. Sebagian qira'at membaca "shalat wustha" (shalat tengah), sebagian lain membaca "shalat asr." Bunyinya memang beda, tapi yang berubah bukan bunyinya. Yang berubah ibadah mana yang sedang diperintahkan. Atau Q 5:6: perbedaan antara arjulakum dan arjulikum menentukan apakah kaki harus dibasuh atau diusap dalam wudhu. Perbedaan ini sampai hari ini jadi perdebatan fiqh di antara mazhab.

Dan di Q 33:6, satu qira'at memuat frasa "wa huwa abun lahum" (dan dia bapak bagi mereka) setelah "istri-istrinya adalah ibu mereka", yang menambah kedudukan Muhammad sebagai bapak rohani umat. Qira'at lain tidak memuat frasa itu sama sekali. Bukan bacaan yang berbeda. Naskah yang berbeda.

Kalau variasi tidak mengubah makna, mengapa hukum berubah tergantung qira'at yang dipakai?

Dr. Dan Brubaker dan 4.000 varian

Dan Brubaker meneliti manuskrip Al-Qur'an, dan menghabiskan bertahun-tahun membandingkan 14 manuskrip tertua (abad ke-7 sampai ke-10) dengan naskah baku hari ini. Hasilnya lebih dari 4.000 perbedaan.

Bukan hanya soal titik dan harakat. Brubaker mencatat perbedaan ejaan yang mengubah arti, perbedaan urutan ayat dan surah, dan ayat yang ditambah atau dikurangi. Itu bukan klaim pinggiran. Itu hasil kerja paleografi dan kodikologi yang rapi, sudah diterbitkan, dan bisa diperiksa siapa saja.

Al-Qur'an bukan bahasa Arab murni

Christoph Luxenberg, sarjana Semitik yang bekerja dengan nama samaran karena alasan keamanan, menerbitkan analisisnya pada 2000. Argumennya sederhana, akibatnya tidak: sekitar 25–30% kosakata Al-Qur'an bukan dari Arab, tapi dari Syro-Aramaic.

Bukan kata-kata pinggiran. Kata-kata inti: "Quran" sendiri kemungkinan dari qeryana (Syriac) yang berarti bacaan liturgi, "salah" dari slota (Aramaic) doa liturgi, "zakat" dari zakuta (Aramaic) kebenaran atau kemurnian, "furqan" dari purqana (Syriac) pembebasan.

Al-Qur'an di Yusuf 12:2 menyebut dirinya wahyu "dalam bahasa Arab yang jelas." Tapi kalau seperempat kosakatanya bukan Arab asli, klaim itu perlu diperiksa.

Huruf-huruf yang tidak ada yang tahu

29 surah dibuka dengan rangkaian huruf yang maknanya tidak pernah dijelaskan sampai tuntas: Alif Lam Mim, Ya Sin, Ha Mim, dan seterusnya. Ulama sepanjang sejarah menyebutnya "hanya Allah yang tahu maknanya," dan itu sudah berlangsung 1.400 tahun.

Luxenberg mengajukan bacaan lain: huruf-huruf itu adalah singkatan liturgi dari tradisi Kristen Syro-Aramaic. "Ya Sin" misalnya, ia baca sebagai bentuk Aram dari "Yasu", Yesus. Dugaan itu banyak ditentang dan belum diterima luas. Tapi pertanyaan dasarnya tidak mudah diabaikan. Mengapa Al-Qur'an memuat sesuatu yang generasi terbaik penerimanya pun tidak bisa jelaskan?

Kapan Al-Qur'an benar-benar terbentuk?

Tradisi Islam menyatakan bahwa Khalifah Utsman, sekitar 652 M, menghimpun Al-Qur'an dalam satu mushaf baku dan membakar semua bacaan lain yang beredar. Tapi bukti dari zaman itu sendiri sulit ditemukan.

Tidak ada satu pun dokumen dari masa Utsman yang membenarkan urutan peristiwa ini. Perbedaan naskah terus muncul berabad-abad setelah dia wafat. Manuskrip tertua yang ada tidak jelas-jelas menunjukkan pernah ada satu "Mushaf Utsmani" yang tunggal. Dan koin serta prasasti dari masa awal Islam tidak memuat kutipan Al-Qur'an sampai abad ke-8.

Koin adalah bukti yang keras. Sekali dicetak, isinya tidak bisa diubah lagi. Koin Islam dari 661 sampai 685 M tidak memuat rumusan keagamaan tertentu. Frasa "Muhammad rasul Allah" baru muncul sekitar 685–692 M. Kutipan Al-Qur'an menyusul sedikit demi sedikit sesudahnya, dan baru cukup seragam di abad ke-8.

Kalau Al-Qur'an sudah dibakukan sejak 652 M, mengapa formulanya tidak muncul di koin negara Islam selama beberapa dekade setelahnya?

Tiga lapisan di dalam satu kitab

Salah satu prinsip dasar ilmu Al-Qur'an adalah pembedaan antara surah Makkiyah dan Madaniyah. Tapi begitu Al-Qur'an diperiksa lebih teliti, pembedaan itu tidak selalu nyambung.

Ada surah yang digolongkan Makkiyah tapi menyinggung peristiwa Madinah. Ada yang digolongkan Madaniyah tapi isinya lebih cocok dengan masa Mekah. Perubahan kiblat yang disebut di Al-Baqarah 2:144 muncul di tengah surah panjang tanpa penanda apa pun. Dan perintah hukum yang katanya turun bertahap tidak mengikuti urutan waktu yang diklaim.

Pembacaan yang memeriksa cara kitabnya disusun menemukan setidaknya tiga lapisan yang berbeda. Lapisan pertama: doa-doa pendek dan litani, bahasanya paling dekat dengan Aramaic, mirip sekali dengan tradisi liturgi Kristen dan Yahudi. Lapisan kedua: kisah-kisah dari Alkitab yang diperluas, dengan bantahan terhadap Kristen dan Yahudi. Lapisan ketiga: hukum sosial dan politik, dengan bahasa Arab yang sudah lebih seragam.

Kalau ini kitab tunggal yang diturunkan dalam 22 tahun, lapisan-lapisan itu perlu penjelasan.

Dibandingkan dengan Perjanjian Baru

Klaim bahwa Al-Qur'an lebih terpelihara daripada Alkitab sering diangkat. Kalau yang dihitung jumlah dan usia manuskripnya, keadaannya justru terbalik.

Perjanjian Baru punya lebih dari 5.800 manuskrip Yunani yang sudah dikatalogkan, dari abad ke-2 sampai ke-15. Pecahan P52, bagian dari Injil Yohanes, berasal dari sekitar 125 M, hanya 25–30 tahun setelah naskah aslinya ditulis. Codex Sinaiticus dan Vaticanus dari abad ke-4 memuat naskah yang hampir lengkap. Dan semua perbedaannya diterbitkan terbuka dalam edisi kritis yang bisa dibuka siapa saja.

Al-Qur'an punya kurang dari 50 manuskrip lengkap sebelum abad ke-10. Yang tertua berupa pecahan, dan statusnya masih diperdebatkan. Peneliti dari luar sulit mendapat izin masuk ke koleksi manuskrip Al-Qur'an di beberapa negara. Perbedaan yang ditemukan tidak selalu diumumkan apa adanya.

Klaim yang tinggal separuh

Ribuan perbedaan naskah sudah tercatat, dan yang mencatatnya bukan orang yang membenci Islam, tapi peneliti manuskrip yang memang kerjanya membandingkan naskah. Lapisan bahasa di dalam Al-Qur'an jauh lebih berlapis daripada klaim "bahasa Arab yang jelas." Dan kalau yang diikuti bukti koin dan tulisan tangan, pembentukannya memakan waktu jauh lebih panjang dari 22 tahun pewahyuan.

Al-Hijr 15:9 menyatakan Allah yang menjaga kelestarian "adz-dzikr" ini. Tapi kalau Al-Qur'an memang melewati semua yang ditunjukkan data itu, dari naskah yang direvisi, bacaan yang berbeda-beda, sampai pembakuan yang bertahap, klaim "tidak berubah satu huruf pun" itu klaim tentang apa sebenarnya?

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya