← Artikel

An-Najm 53:19 · Al-Hajj 22:52  ·  9 menit

Ayat-ayat Setan

At-Tabari mencatat bahwa sebelum insiden Gharaniq, Muhammad berharap dalam hatinya ada sesuatu yang mendamaikannya dengan kaumnya. Itu bukan deskripsi penerima wahyu yang pasif. Dan Al-Hajj 22:52 ada di dalam Al-Quran sampai hari ini, mengakui bahwa setan bisa menyusup ke proses wahyu sebelum Allah menghilangkannya.

Ilustrasi editorial fragmen berhala kuno dan naskah yang tertutup bayangan tinta

Di antara semua catatan sejarah Islam awal, ada satu detail yang sulit diabaikan. At-Tabari, dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, menulis bahwa ketika Muhammad melihat kaumnya terus berpaling, ia "berharap dalam hatinya bahwa sesuatu akan datang kepadanya dari Allah yang akan mendamaikannya dengan kaumnya."

Frasa itu bukan narasi At-Tabari sendiri. Itu deskripsi kondisi mental Muhammad sebelum insiden yang kemudian dikenal sebagai Gharaniq, atau dalam terjemahan Barat: Ayat-Ayat Setan.

Apa yang terjadi di dekat Ka'bah

Tahun kelima kenabian, sekitar 615 M. Muhammad membaca Surah An-Najm di dekat Ka'bah, di hadapan campuran pengikutnya dan orang-orang Quraisy yang belum bersedia meninggalkan agama nenek moyang mereka. Tiga dewi utama mereka, Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat, disebut dalam ayat 19-20 dengan nada penolakan: apakah pantas menganggap mereka sebagai anak-anak Allah?

Lalu, menurut catatan At-Tabari, Ibn Sa'd, Al-Waqidi, dan Ibn Ishaq, muncul dua kalimat yang tidak ada dalam An-Najm hari ini:

"Tilka al-gharaniq al-'ula, wa inna shafa'atahunna la-turja."

Mereka, dewi-dewi itu, adalah burung-burung yang tinggi terbangnya. Dan syafaat mereka memang layak diharapkan.

Orang-orang Quraisy sujud bersama Muhammad. Untuk pertama kalinya sejak ia mulai berdakwah, tidak ada konflik. At-Tabari mencatat: tidak ada satu orang pun di masjid, baik mukmin maupun kafir, yang tidak ikut sujud.

Kabar menyebar. Eksperimen damai itu berlangsung singkat.

Penarikan kembali dan ayat yang tersisa

Beberapa waktu kemudian, Muhammad mengumumkan bahwa dua kalimat itu bukan dari Allah. Setan yang memasukkannya. Ayat-ayat pengganti turun sebagai koreksi, menegaskan bahwa dewi-dewi itu hanyalah nama tanpa dasar (Q 53:21-23). Dan satu ayat lagi muncul di Surah Al-Hajj, seolah memberi penjelasan sistematis:

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, setan memasukkan godaan-godaan terhadap keinginannya itu, kemudian Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu." (Q 22:52)

Ayat ini menarik karena ia bukan hanya membela Muhammad. Ia membuka prinsip umum: semua nabi dan rasul rentan terhadap sisipan setan dalam proses penerimaan wahyu. Dan Allah-lah yang kemudian "membersihkan" sisipan itu.

Artinya, menurut Al-Quran sendiri, ada jeda di antara kedua proses itu. Ada rentang waktu di mana sisipan setan sudah ada dalam wahyu sebelum dikoreksi. Berapa lama? Tidak ada yang tahu. Siapa yang memutuskan mana yang sudah dikoreksi dan mana yang belum? Tidak dijelaskan.

Masalah dengan penyangkalan

Ulama-ulama kemudian, termasuk Ibn Taymiyyah, menolak keaslian cerita ini. Argumennya: riwayat-riwayat yang mencatatnya lemah secara sanad, dan isinya bertentangan dengan prinsip kemurnian wahyu.

Tapi ada masalah dengan penolakan semacam itu. Cerita ini dicatat oleh beberapa sejarawan Islam awal yang berbeda, secara independen, dengan detail yang konsisten. Ibn Ishaq menulis di abad ke-8, Al-Waqidi juga di abad ke-8, Ibn Sa'd, murid Al-Waqidi, di awal abad ke-9, dan At-Tabari di abad ke-9 hingga awal abad ke-10. Mereka tidak berkoordinasi untuk merusak nama nabi mereka sendiri.

Dalam sejarah, detail yang memalukan justru lebih sulit dibuat-buat. Kalau seseorang ingin memalsukan riwayat, ia akan membuat sesuatu yang heroik, bukan sesuatu yang membuat nabinya terlihat tertipu. Kriteria kemaluan (criterion of embarrassment) adalah salah satu alat yang dipakai sejarawan untuk menilai keaslian suatu laporan: makin memalukan bagi pihak yang berkepentingan, makin kecil kemungkinan laporan itu direkayasa.

Dan ada Al-Hajj 22:52 itu sendiri. Kalau insiden Gharaniq tidak pernah terjadi, tidak ada penjelasan yang masuk akal mengapa ayat itu perlu ada dalam Al-Quran. Ia menjawab pertanyaan yang sangat spesifik tentang nabi yang pernah menyampaikan sesuatu yang ternyata bukan dari Allah.

Polanya lebih luas dari satu insiden

Yang lebih menarik dari perdebatan keaslian insiden ini adalah polanya.

At-Tabari sendiri yang mencatat konteks psikologisnya: Muhammad berharap ada jalan damai. Keinginan itu ada sebelum kalimat Gharaniq muncul. Frasa "berharap dalam hatinya" bukan deskripsi penerima wahyu yang pasif menunggu instruksi. Itu deskripsi seseorang yang sangat menginginkan sesuatu, yang mungkin kemudian memproyeksikan keinginannya sendiri sebagai pesan dari luar.

Pola serupa muncul di tempat lain. Ketika Muhammad menikahi Zainab, mantan istri anak angkatnya Zaid, yang secara sosial sangat kontroversial, turunlah Al-Ahzab 33:37 yang secara eksplisit menyebut Zaid dan melegitimasi pernikahan itu. Ketika ada ketegangan soal istrinya Maria dan konflik dengan Hafshah, turunlah At-Tahrim 66:1-5. Ketika ada tekanan soal jumlah istri yang ia miliki, turunlah ayat yang memberinya pengecualian dari aturan yang ia tetapkan sendiri (Q 33:50).

Dalam semua kasus itu, wahyu turun tepat ketika Muhammad membutuhkan legitimasi untuk keputusan yang sudah ia buat atau sedang ia pertimbangkan.

Dua ayat dalam satu kitab

Pertanyaannya bukan apakah peristiwa Gharaniq itu benar-benar terjadi persis seperti yang dicatat At-Tabari. Sejarah selalu mengandung ketidakpastian tentang detail.

Pertanyaannya adalah: apa yang kita lakukan dengan Al-Hajj 22:52?

Ayat itu ada di dalam Al-Quran. Ia mengakui bahwa setan bisa menyusup ke dalam proses wahyu nabi mana pun, termasuk Muhammad. Dan ia tidak memberi kriteria apa pun untuk membedakan bagian mana yang sudah "dibersihkan" dari bagian yang belum.

Al-Hijr 15:9 menjanjikan bahwa Allah memelihara Al-Quran. Al-Hajj 22:52 mengakui bahwa setan bisa menyisip dulu sebelum Allah menghilangkannya.

Kedua ayat itu ada dalam kitab yang sama.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya