At-Tahrim 66:1 · Al-Ahzab 33:59 · 10 menit
Mengapa Wahyu Turun
Untuk banyak ayat, latar turunnya tidak hanya satu. Ada dua versi tentang At-Tahrim 66:1 di dalam koleksi hadis sahih: satu tentang madu dan bau napas, satu tentang persetubuhan dengan budak dan rahasia yang dibocorkan. Keduanya bukan dua sudut pandang atas satu peristiwa. Keduanya tidak bisa benar sekaligus.

Setiap kali ada ayat yang terasa mendua atau sulit dipahami kalau dibaca sendirian, jawabannya hampir selalu sama: lihat asbabun nuzul. Tahu sebabnya, ayatnya akan jelas.
Untuk banyak ayat, sebabnya tidak cuma satu. Ada beberapa versi yang saling bertentangan, masing-masing diriwayatkan perawi yang sama-sama dianggap terpercaya, dan tidak bisa didamaikan sebagai dua sudut pandang atas satu kejadian. Yang satu menggusur yang lain.
Madu atau Maria
At-Tahrim 66:1 membuka dengan teguran langsung kepada Muhammad: "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu?"
Sesuatu yang halal dilarang sendiri oleh Muhammad. Wahyu turun membetulkannya. Itu yang bisa dibaca dari Al-Qur'an. Tapi soal apa yang terjadi sebelumnya, ada dua versi di koleksi hadis sahih, dan keduanya tidak bisa benar sekaligus.
Versi dari Aisyah, yang masuk dalam Shahih Bukhari: Muhammad minum madu di rumah Hafshah. Aisyah bersekongkol dengan beberapa istri lain untuk mengatakan napasnya berbau maghafir, sejenis getah yang baunya tidak sedap. Muhammad tidak nyaman dan bersumpah tidak akan minum madu lagi. Wahyu turun menegurnya karena mengharamkan makanan yang baik tanpa alasan.
Versi dari Ibn Abbas, yang beredar di koleksi hadis dengan rantai periwayatan yang juga dianggap kuat: Muhammad bersetubuh dengan Maria al-Qibtiyah, budak perempuan pemberian dari raja Mesir, pada hari yang seharusnya menjadi giliran Hafshah. Hafshah marah dan merasa dilangkahi. Muhammad bersumpah tidak akan mendekati Maria lagi, dan meminta Hafshah merahasiakan kejadian itu. Hafshah membocorkannya kepada Aisyah. Dari sana keributan meluas sampai melibatkan hampir semua istri. Wahyu turun menghadapi seluruh kekusutan itu.
Satu versi bercerita tentang madu dan bau napas. Satu lagi tentang persetubuhan dengan budak dan rahasia yang dibocorkan. Bukan dua sudut pandang atas satu kejadian, melainkan dua peristiwa yang sama sekali berbeda.
Akibatnya jauh lebih dari urusan ruang kuliah. Di versi madu, tegurannya ringan: jangan bersumpah yang tidak perlu soal makanan. Di versi Maria, yang dihadapi wahyu adalah keadilan di antara para istri, kedudukan budak di rumah tangga nabi, dan apakah sumpah yang dibuat dalam keadaan seperti itu mengikat secara hukum. Dua pemahaman yang sama sekali berbeda tentang apa yang sebenarnya diatur surah yang sama.
Siapa yang dilindungi
Al-Ahzab 33:59 adalah ayat yang hari ini menjadi salah satu dasar paling sering dikutip untuk kewajiban menutup tubuh bagi perempuan Muslim. Bunyinya: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu."
Alasan yang diberikan Al-Qur'an sendiri adalah soal dikenali: supaya ketahuan siapa, supaya tidak diganggu.
Ubay bin Ka'b meriwayatkan latarnya dengan cukup rinci. Di Madinah, perempuan merdeka dan budak perempuan berpakaian mirip. Laki-laki mengganggu perempuan di malam hari, dan waktu ditegur, mereka beralasan tidak bisa membedakan mana yang merdeka dan mana yang budak. Ayat itu turun sebagai jalan keluar: perempuan merdeka harus berpakaian berbeda dari budak supaya bisa dikenali.
Kalau riwayat itu benar, jilbab bukan soal kesalehan, dan bukan soal melindungi perempuan sebagai perempuan. Jilbab jadi penanda golongan. Perempuan merdeka diperintahkan berpakaian berbeda dari budak supaya pengganggunya tidak salah sasaran. Budak perempuan, menurut jalan pikir itu, tidak dapat perlindungan yang sama.
Versi kedua bercerita tentang sesuatu yang berbeda sepenuhnya: istri-istri Nabi sendiri yang diganggu saat keluar malam untuk buang hajat, dengan pelaku yang beralasan tidak mengenali siapa mereka.
Versi ketiga menyeret nama Umar. Dia berkali-kali menyarankan agar istri-istri Nabi mengenakan penutup yang lebih rapat. Wahyu turun membenarkan sarannya.
Akibat dari versi ketiga berbeda lagi. Yang memancing wahyu bukan kejadian di luar, tapi usulan seorang sahabat senior yang kemudian disahkan dari langit. Ada beberapa ayat lain yang para mufasir klasik juga kaitkan dengan "keinginan Umar yang kemudian dibenarkan wahyu", dan pola itu sudah lama jadi pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Menengadah ke langit
Al-Baqarah 2:144 mengandung detail yang tidak biasa. Sebelum mengumumkan perubahan arah shalat dari Yerusalem ke Mekah, ayat itu berkata: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit."
Muhammad sering melihat ke atas. Menunggu sesuatu.
Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Muhammad sendiri ingin menghadap Ka'bah. Yerusalem bukan pilihannya sejak awal, dan dia berharap wahyu akan datang mengubah arah itu. Perubahannya kemudian datang. Allah mengabulkan apa yang Muhammad harapkan.
Versi lain menaruh peristiwa ini di ranah politik. Orang-orang Yahudi Madinah menyindir bahwa Muhammad masih ikut tradisi mereka dengan menghadap Yerusalem. Perubahan kiblat jadi cara memutus jati diri Muslim dari jati diri Yahudi, jawaban atas tekanan sosial yang sangat nyata.
Dua bacaan itu membawa akibat yang berbeda soal bagaimana wahyu datang. Di versi Ibn Abbas, tata cara ibadah berubah karena Muhammad sendiri menginginkannya, dan keinginannya dikabulkan. Di versi politik, arah kiblat ditentukan oleh tarik-menarik antar kelompok di Madinah.
Tidak ada cara untuk tahu mana yang benar. Dan karena tidak ada caranya, semua penafsiran yang bersandar pada latar ini berdiri di atas pijakan yang tidak bisa diperiksa.
Bunyinya terjaga, konteksnya tidak
Al-Hijr 15:9 menyatakan: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."
Klaim itu biasanya dipahami sebagai jaminan bahwa huruf-hurufnya tidak akan berubah. Dan memang, manuskrip Al-Qur'an tertua cukup seragam tulisannya.
Tapi kitabnya dan latarnya bukan satu paket.
Pertanyaan kapan sebuah ayat turun, di Mekah atau Madinah, untuk siapa, menjawab kejadian apa, dijawab oleh kitab-kitab yang baru dihimpun dua sampai tiga abad setelah Muhammad meninggal. Tidak ada penjagaan untuk latarnya yang setara dengan penjagaan atas hurufnya. Yang ada ribuan riwayat yang saling bertentangan, dengan perawi yang sama-sama dianggap terpercaya, tersebar di koleksi hadis yang disusun manusia berdasarkan penilaian manusia.
Al-Wahidi, salah satu rujukan asbabun nuzul yang paling dihormati dalam tradisi klasik, sering menyodorkan beberapa versi yang saling bertentangan untuk satu ayat tanpa memilih mana yang benar. Dia memang tidak bisa memilih, karena alat untuk memilihnya tidak ada.
Akhirnya yang menentukan keputusan mufasir. Dan keputusan itu selalu membawa sesuatu dari luar Al-Qur'an: kepentingan mazhab, kebutuhan menyesuaikan dengan zaman, atau kecenderungan teologis yang sudah ada sebelum ayatnya dibuka.
Untuk memahami kitab yang diklaim dijaga sempurna, orang bergantung pada latar yang tidak pernah dijaga sama sekali.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 17 · Al-Imran 3:59 · Al-Hijr 15:26 · 11 menit
Dari Tanah Liat
Al-Qur'an menggambarkan penciptaan Adam dari tanah liat dengan bahan yang disebutkan dan langkah yang jelas. Tafsir klasik membacanya apa adanya. Kromosom 2 manusia dan genetika populasi menunjukkan sesuatu yang tidak bisa didamaikan dengan cerita dua manusia pertama.
Artikel 06 · Al-Baqarah 2:196 · Al-Hajj 22:27 · 7 menit
Ritual yang Tidak Ada dalam Al-Qur'an
Al-Qur'an cukup rinci soal haji: ihram, wukuf, thawaf, sa'i, kurban. Tapi lempar jumrah tidak disebut satu kali pun. Seluruh dasarnya berasal dari hadis dan tradisi Arab yang sudah ada sebelum Islam.