← Artikel

Al-Baqarah 2:23 · Al-Hijr 15:9  ·  14 menit

Apa yang Terlihat Setelah Naskah Diperiksa

Al-Qur'an tidak disusun menurut urutan turunnya. Proses penghimpunannya memperlihatkan perbedaan versi dan bahan yang hilang. Ada pertentangan di dalam kitabnya sendiri yang tidak selesai oleh doktrin abrogasi. Ada klaim ilmiah yang keliru. Semuanya bisa diperiksa dari Al-Qur'an.

Ilustrasi editorial kaca pembesar di atas halaman manuskrip

Membaca Al-Qur'an sebagai kitab suci dan membacanya sebagai benda sejarah adalah dua pekerjaan yang berbeda. Yang pertama praktik keimanan. Yang kedua cara kerja keilmuan: memeriksa apa yang ada di dalam kitabnya, dan apa yang ada di dalam sejarahnya. Yang dipakai di sini yang kedua.

Masalah struktur

Al-Qur'an disusun berdasarkan panjang surah, bukan urutan kronologis turunnya wahyu. Surah Al-Baqarah dengan 286 ayat ditempatkan di depan, meskipun sebagian besar turun di Madinah, setelah hijrah. Wahyu pertama yang diterima Muhammad, "Iqra'" di awal Al-Alaq, ada di surah ke-96. Siapa pun yang ingin mengikuti perkembangan ajaran Islam menurut urutan waktunya harus keluar ke sumber lain hanya untuk tahu mana yang turun lebih dulu.

Tidak ada alur cerita yang runtut di dalamnya. Kisah Musa tersebar di lebih dari 30 surah berbeda, dengan detail yang kadang berubah di tiap kemunculan. Di Al-Baqarah saja, pokok pembicaraan berpindah dari orang beriman dan kafir, ke seruan menyembah Allah, ke kisah Adam, ke Bani Israel, ke Musa dan Isa, ke kritik terhadap Yahudi dan Nasrani, lalu ke kisah Ibrahim. Semuanya di dalam satu surah, tanpa peralihan yang jelas.

Yang paling mencolok adalah pengulangannya. Ancaman neraka dan janji surga diulang ratusan kali. "Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?" muncul 31 kali dalam satu surah. Kisah Nuh muncul di setidaknya 15 surah berbeda. Pengulangan retoris menumpuk tekanan pada satu argumen. Yang ini bukan itu. Bahannya sama, kata-katanya nyaris sama, hanya tempatnya yang berpindah.

Ada rangkaian ayat yang dimulai dengan "mereka bertanya kepadamu tentang...": tentang bulan sabit (2:189), tentang khamar (2:219), tentang roh (17:85). Tanpa hadis atau sirah, pembaca tidak tahu siapa yang bertanya dan dalam keadaan apa. Al-Qur'an menjawab pertanyaan yang tidak ada di dalamnya.

Semua ini bisa dijawab dengan argumen bahwa Al-Qur'an memang tidak dirancang sebagai cerita yang berurutan. Tapi kalau begitu, klaim bahwa Al-Qur'an adalah panduan lengkap yang berdiri sendiri jadi perlu dimaknai ulang. Kitab yang butuh sebanyak itu penjelasan dari luar dirinya sulit disebut cukup dengan sendirinya.

Penghimpunan dan apa yang hilang

Al-Qur'an tidak dihimpun menjadi satu mushaf semasa Muhammad hidup. Wahyu tersebar di tulang, pelepah kurma, dan hafalan para sahabat, dan tidak ada pengawasan langsung dari Muhammad atas naskah akhirnya. Setelah kematiannya, banyak penghafal tewas dalam Perang Riddah, dan Umar bin Khattab mendesak Abu Bakar menghimpun Al-Qur'an sebelum lebih banyak lagi yang hilang.

Pada masa Utsman, sekitar dua dekade setelah wafatnya Muhammad, perselisihan tentang bacaan Al-Qur'an melahirkan satu versi baku. Semua mushaf lain diperintahkan untuk dibakar. Yang tersisa hanya mushaf Utsmani.

Sebelum itu, sahabat-sahabat senior masing-masing punya mushaf dengan jumlah surah yang berbeda. Mushaf Ibn Mas'ud, yang bacaannya dianjurkan Muhammad sendiri, hanya punya 111 surah, tanpa Al-Fatihah, Al-Falaq, dan An-Nas. Mushaf Ubay ibn Ka'b punya 116 surah, termasuk dua surah yang tidak ada di mushaf Utsmani.

Aisyah meriwayatkan bahwa Surah Al-Ahzab pada masa Muhammad dibaca sebanyak 200 ayat. Dalam mushaf Utsmani, surah itu hanya berisi 73 ayat. Umar bin Khattab bersaksi bahwa ayat tentang rajam pernah ada dalam Al-Qur'an tapi tidak ada dalam mushaf yang sekarang. Al-Qur'an sendiri mengklaim dalam Al-Hijr 15:9 bahwa Allah yang menjaga kelestariannya. Kalau catatan sejarahnya memperlihatkan perbedaan versi, bahan yang hilang, dan pembakuan yang diputuskan lewat kekuasaan, klaim itu perlu diperiksa lebih teliti daripada yang biasanya dilakukan.

Dua jawaban untuk satu pertanyaan

Al-Qur'an memberikan jawaban yang berbeda untuk beberapa pertanyaan mendasar.

Tentang berapa lama langit dan bumi diciptakan: Al-A'raf 7:54 menyatakan enam hari. Tapi Fussilat 41:9 menyebut dua hari untuk bumi, 41:10 empat hari untuk gunung dan makanan, dan 41:11-12 dua hari untuk langit, jadi delapan hari. Ada bermacam penjelasan untuk selisih ini, tapi penjumlahan angkanya tetap tidak ketemu.

Tentang urutan penciptaan: Al-Baqarah 2:29 menempatkan bumi diciptakan lebih dulu, lalu langit. An-Nazi'at 79:27-30 menempatkan langit lebih dulu, lalu bumi dihamparkan setelahnya.

Tentang identitas Iblis: Al-Baqarah 2:34 menempatkan Iblis di dalam kelompok malaikat yang diperintahkan sujud, dan susunan ayatnya jelas menaruh dia di antara mereka. Al-Kahf 18:50 menyebutnya dari golongan jin, bukan malaikat. Kedua klaim ini tidak bisa sekaligus benar.

Tentang Firaun: Al-Qasas 28:40 menyatakan dia dan bala tentaranya ditenggelamkan. Yunus 10:90 mencatat Firaun hampir tenggelam dan mengaku beriman. Lalu 10:92 menyatakan tubuhnya diselamatkan sebagai pelajaran. Tiga ayat yang perlu dibaca dengan sangat hati-hati untuk tidak saling bertentangan.

Tentang keluarga Nuh: Al-Anbiya 21:76 menyatakan Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari bencana besar. Hud 11:42-43 menceritakan anaknya yang menolak naik bahtera dan akhirnya tenggelam. Muslim biasanya menjelaskan ini dengan argumen bahwa anak yang durhaka bukan bagian dari "keluarga" dalam arti teologis. Penafsiran itu ditambahkan dari luar Al-Qur'an.

Tentang paksaan dalam agama: Al-Baqarah 2:256 menyatakan tidak ada paksaan. At-Taubah 9:29 memerintahkan memerangi Ahli Kitab sampai mereka membayar jizyah dalam keadaan tunduk. Doktrin nasikh-mansukh mengatakan ayat At-Taubah membatalkan ayat Al-Baqarah. Kalau begitu, "tidak ada paksaan" sudah tidak berlaku lagi.

Tentang apakah Allah menyesatkan orang: At-Taubah 9:115 menyatakan Allah tidak menyesatkan suatu kaum setelah memberi petunjuk. Ibrahim 14:4 dan Az-Zumar 39:23 menyatakan Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.

Tentang syafaat: Al-Baqarah 2:47-48 menyatakan tidak ada syafaat yang diterima pada hari kiamat. Ayat 2:255 dan Taha 20:109 menyatakan syafaat bisa terjadi dengan izin Allah.

Tentang khamar: Al-Baqarah 2:219 menyatakan khamar memiliki dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Al-Maidah 5:90 melarangnya secara total sebagai perbuatan setan. Doktrin abrogasi menjelaskan bahwa yang kedua membatalkan yang pertama. Kalau firman Allah bisa membatalkan firman Allah sebelumnya, apa arti klaim bahwa kalam ini sempurna dan tidak berubah?

Klaim ilmiah yang bermasalah

Beberapa ayat Al-Qur'an membuat klaim tentang alam fisik. Al-Mu'minun 23:12-14 menggambarkan perkembangan embrio dalam urutan: nutfah, lalu gumpalan darah, lalu segumpal daging, lalu tulang, lalu tulang dibungkus daging. Embriologi modern menunjukkan bahwa tulang dan otot berkembang bersamaan dari lapisan mesoderm yang sama, bukan tulang dulu lalu dibungkus daging. Embrio juga tidak pernah melewati tahap "gumpalan darah" dalam arti harfiahnya.

At-Tariq 86:5-7 menyatakan air mani berasal dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sperma dibuat di testis. Pembelaan yang mengatakan ayat ini menunjuk asal-usul gonad pada tahap embrio tidak didukung oleh kalimat ayatnya sendiri.

Al-Mulk 67:5 menyatakan bintang-bintang dijadikan alat pelempar setan. Bintang adalah benda langit raksasa yang jaraknya bisa ratusan tahun cahaya, bukan batu lemparan. Al-Anbiya 21:32 menyebut langit sebagai "atap yang terpelihara." Tidak ada atap di atas Bumi. Gambaran itu kosmologi kuno yang sama, yang juga ada di banyak tradisi Timur Tengah lain.

Al-Anbiya 21:31 dan An-Nahl 16:15 menyatakan gunung-gunung dipancang agar bumi tidak bergoncang bersama manusia. Gunung justru terbentuk dari gerakan lempeng bumi, gerakan yang sama yang menimbulkan gempa. Daerah pegunungan seperti Himalaya dan Andes termasuk yang paling sering diguncang gempa di planet ini.

An-Naba 78:6-7 menyebut bumi sebagai hamparan dan gunung sebagai pasak. Al-Furqan 25:61 dan Nuh 71:16 menggunakan istilah yang mengimplikasikan bulan memiliki cahaya sendiri. Bulan hanya memantulkan cahaya matahari.

Adz-Dzariyat 51:49 menyatakan segala sesuatu diciptakan berpasangan. Bakteri, archaea, dan banyak protista berkembang biak tanpa kawin. Hydra bertunas. Virus tidak memiliki jenis kelamin. An-Nahl 16:68-69 menyebut lebah makan dari "tiap-tiap macam buah-buahan." Lebah mengumpulkan nektar dari bunga, bukan makan buah.

Setiap klaim yang meleset ini bisa dibaca sebagai kiasan. Tapi cara baca itu bisa dipasang ke klaim apa pun, termasuk yang jelas-jelas keliru. Cara baca yang tidak pernah bisa dinyatakan salah juga tidak pernah bisa dinyatakan benar.

Tantangan tanpa kriteria

Al-Baqarah 2:23 menantang siapa pun membuat satu surah yang semisal dengan Al-Qur'an. Al-Isra 17:88 menyatakan manusia dan jin bersama-sama tidak akan bisa membuat yang serupa.

Yang bermasalah bukan klaim keunggulannya, tapi tidak adanya ukuran yang bisa dipegang bersama. Apa arti "semisal"? Gaya bahasanya? Isinya? Iramanya? Maknanya? Tidak dijelaskan. Dan siapa yang memutuskan sebuah karya sudah memenuhi tantangan itu? Orang yang sejak awal sudah percaya Al-Qur'an tidak tertandingi.

Jika ada yang membuat karya yang sangat mirip Al-Qur'an, responsnya adalah "itu meniru." Jika karyanya sangat berbeda, responsnya adalah "itu tidak seperti Al-Qur'an." Tidak ada syarat apa pun yang bisa membuktikan tantangan ini terpenuhi, kecuali bagi orang yang sejak awal sudah memutuskan bahwa itu tidak mungkin.

Apa yang tersisa

Semua ini tidak berujung pada satu kesimpulan yang bersih. Orang yang membawa keimanan ke dalam bacaannya akan menemukan jawaban untuk setiap hal di atas, dan jawaban itu nyambung dari dalam sistem kepercayaannya sendiri. Doktrin nasikh-mansukh, kiasan, konteks historis, dan asbabun nuzul sudah berabad-abad dipakai untuk menjawab pertanyaan seperti ini, dan semuanya punya logikanya sendiri.

Yang sulit, alat-alat itu cuma mempan dari dalam. Orang yang datang tanpa keimanan lebih dulu akan melihat pola yang berbeda dari kitab yang sama. Bukti yang mereka pakai sama persis. Tempat mereka berhenti tidak.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya