← Artikel

Fussilat 41:9 · Al-Baqarah 2:29  ·  9 menit

Ketika Langit Masih Asap

Al-Fussilat 41:11 menyebut langit dalam keadaan "asap" setelah bumi selesai diciptakan dan dilengkapi. Komentator modern membaca ini sebagai petunjuk nebula primordial. Tapi justru bacaan itu yang membuat masalah kronologisnya paling tajam.

Ilustrasi editorial bumi purba di bawah langit kosmik berasap

Al-Fussilat 41:9–10 menceritakan penciptaan bumi dalam dua hari, lengkap dengan gunung-gunung yang dipancangkan dan "makanan" yang disiapkan di dalamnya, empat hari total. Baru setelah itu, ayat 11 beralih: "Kemudian Dia menuju ke langit yang masih berupa asap." Langit itu kemudian dibentuk menjadi tujuh lapis dan dihiasi "lampu-lampu" — yang dalam tradisi tafsir selalu dipahami sebagai bintang-bintang.

Al-Baqarah 2:29 mengulang urutannya dengan lebih singkat: bumi untuk kamu, kemudian Dia menuju ke langit.

Urutan itu konsisten di kedua ayat. Bumi lebih dulu. Langit dan bintang-bintang belakangan.

Kimia yang tidak bisa diabaikan

Sesaat setelah Big Bang, alam semesta hanya terdiri dari hidrogen, helium, dan sejumlah sangat kecil litium. Besi, silikon, oksigen, karbon, nikel, magnesium — tidak satu pun yang tersedia. Elemen- elemen berat terbentuk di dalam inti bintang melalui fusi nuklir. Ketika bintang-bintang besar kehabisan bahan bakar dan meledak dalam supernova, elemen-elemen itu tersebar ke ruang angkasa. Dari debu supernova itulah planet-planet, termasuk bumi, kemudian mengeras.

Bumi tersusun dari elemen-elemen berat itu. Inti besi dan nikel. Mantel silikon dan oksigen. Kerak yang penuh dengan aluminium, kalsium, sodium. Semuanya produk bintang.

Kalau bintang belum ada ketika bumi dibentuk, tidak ada material untuk membentuk bumi. Tidak ada gunung. Tidak ada makanan. Tidak ada planet sama sekali.

Dua akun yang berbeda

An-Nazi'at 79:27–30 menyajikan urutan yang tampak terbalik dari Q 41. Al-Quran berkata: Allah membangun dan meninggikan langit, menyempurnakannya, menggelapkan malamnya, dan mengeluarkan cahayanya. Setelah itu (ba'da dzalika) bumi dihamparkan.

Para komentator klasik sudah lama menangani ketegangan antara dua urutan ini. Harmonisasi yang paling umum: Q 79:30 berbicara soal penghamparannya, menjadikannya layak huni, bukan soal penciptaan awalnya. Penciptaan materi bumi lebih dulu, baru penyelesaiannya setelah langit.

Harmonisasi itu bisa dipertahankan secara tekstual. Tapi ia tidak menyelesaikan masalah yang lebih mendasar. Bahkan kalau yang dimaksud hanya "penghamparannya," bumi dalam bentuk apapun tetap membutuhkan elemen berat yang hanya bisa ada setelah generasi pertama bintang meledak. Menggeser terminologi dari "diciptakan" ke "dihamparkan" tidak mengubah kimia yang dibutuhkan.

Al-Anbiya 21:30 menambahkan satu detail lagi: langit dan bumi awalnya menyatu, lalu dipisahkan. Air dijadikan dasar segala yang hidup. Ayat itu sering dikutip sebagai petunjuk Big Bang. Tapi kalau Big Bang adalah acuannya, kronologi Q 41 justru berlawanan dengan kosmologi yang sama: dalam Big Bang, bintang-bintang ada jauh sebelum planet berbatu seperti bumi terbentuk.

Komentator modern yang membaca "dukhan" di Q 41:11 sebagai nebula primordial secara tidak sengaja membuat masalah kronologisnya semakin tajam. Dalam teori nebula, awan gas adalah yang pertama ada. Dari nebula bintang-bintang terbentuk, dari sisa materialnya planet-planet terbentuk, bumi adalah produk akhir. Tapi dalam Q 41, "dukhan" muncul setelah bumi sudah selesai diciptakan dan dilengkapi. Kalau "dukhan" memang nebula primordial, ayat itu menempatkan nebula setelah produk akhirnya sudah ada.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya