Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.


Surat 67
الملك
Kerajaan, terdiri dari 30 ayat dan turun di Makkah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-77 setelah At-Tur sebelum Al-Haqqah.
Kosmologi primitif dan teror sebagai kontrol. Kosmologi primitif langit yang bisa retak: Ayat 3-4 tantang pembaca buat cari "retakan di langit," mencermin kosmologi kuno yang bayangin langit sebagai kubah/lapisan padat. Konsepsi alam semesta ini identik sama mitologi Mesopotamia dan Yunani kuno yang jauh dari pemahaman astronomi modern. Pandangan naif tentang "langit bertingkat tujuh" ngungkapin keterbatasan pengetahuan manusia abad ke-7. Teror sebagai alat kontrol primitif: Hampir sepertiga surat ini didedikasiin buat gambarin api neraka yang "mendidih" dan "meledak marah." Teknik ancaman primitif ini pake bahasa grafis buat timbullin ketakutan, metode klasik kontrol sosial manusia. Ketergantungan berlebihan pada ancaman fisik nunjukin ketidakmampuan meyakinin lewat argumen rasional atau bukti nyata. Allah yang kontradiktif: Surat ini dibuka dengan nyebut Allah "Yang Maha Pengasih" tapi didominasi ancaman penyiksaan buat yang nggak percaya. Kontradiksi fundamental antara klaim kasih sayang universal dan hukuman ekstrem tanpa rehabilitasi ngungkapin inkonsistensi logis. Paradoks moral ini mencermin konflik psikologis manusia, bukan kearifan supranatural yang koheren. Logika melingkar tanpa bukti: Ayat 25-27 jawab pertanyaan "kapan janji azab ini terjadi?" dengan respons mengelak "pengetahuan cuma ada pada Allah." Teks ini bangun sistem kepercayaan tertutup yang nggak bisa difalsifikasi—klaim tanpa bukti yang kebal dari pengujian empiris. Strategi argumentatif ini identik sama teknik manipulatif manusia. Kesimpulan: Al-Mulk mengekspos kosmologi primitif abad ke-7 yang membayangkan langit sebagai kubah padat sambil mengandalkan ancaman teror sebagai alat kontrol sosial, membuktikan karakternya sebagai produk keterbatasan pengetahuan manusiawi yang menggunakan logika melingkar dan kontradiksi moral daripada komunikasi dari entitas mahatahu yang konsisten.
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ayat 2
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.
Ayat 3
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ
Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?
Ayat 4
ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ
Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.
Ayat 5
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala.
Ayat 6
Ayat 12
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
Ayat 13
وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun mengenai kaum musyrik yang diam-diam sering mengumpat Nabi. Karena Jibril selalu memberitahu Nabi apa yang mereka bicarakan, kaum musyrik lalu saling berbisik menyuruh satu sama lain merendahkan suara agar "Tuhan Muhammad tidak mendengarnya". Lalu turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala isi hati maupun bisikan.
Ayat 16
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?
Ayat 17
أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ
atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.
Ayat 23
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Katakanlah, "Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.
Ayat 24
قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Katakanlah, "Dialah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan."
Ayat 25
وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan mereka berkata, "Kapan (datangnya) ancaman itu jika kamu orang yang benar?"
وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya, akan mendapat azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Ayat 14