Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا
Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras.


Surat 79
النّٰزعٰت
Malaikat Yang Mencabut, terdiri dari 46 ayat dan turun di Makkah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-81 setelah An-Naba' sebelum Al-Infitar.
Gaya dukun dan narasi acak. Meniru gaya dukun pagan: Sumpah-sumpah kosmik pada ayat 1-5 ("Demi yang mencabut dengan keras", "yang mencabut dengan lemah-lembut", dsb) adalah imitasi langsung dari gaya retoris para kahin (dukun/peramal) Arab pra-Islam. Muhammad adopsi teknik linguistik persis sama yang dipake peramal pagan yang dia klaim sebagai sesat. Pake struktur sumpah yang identik ini ungkapin gimana Al-Quran sebenarnya kelanjutan dari tradisi perdukunan Arab, bukan wahyu orisinal. Kisah Musa yang acak: Versi kisah Musa di surat ini (ayat 15-26) adalah ringkasan acak yang lompat-lompat tanpa kronologi yang masuk akal. Elemen penting dihilangin sementara detail sepele ("lembah Thuwa") ditonjolkan tanpa konteks. Pengulangan cerita yang nggak lengkap dan terfragmentasi ini nunjukin teks yang dibuat seseorang yang cuma punya pemahaman parsial tentang narasi Alkitab yang dia coba reproduksi. Langit yang "ditinggikan": Ayat 27-33 ngaku Allah "meninggikan bangunan langit" dan "mengeluarkan air dan tumbuhan"—konsepsi alam semesta yang cerminiin pemahaman kosmos abad ke-7. Model naif ini gambarin langit sebagai struktur fisik yang "ditinggikan" seperti atap, ngabaiin realitas astronomi. Kosmologi sederhana yang keliru ini jelas nunjukin asal-usul manusiawi teks, bukan wawasan dari pencipta alam semesta sebenarnya. Pertanyaan manipulatif: Ayat 27 nanya "Apakah penciptaan kamu lebih sulit ataukah langit?"—pertanyaan retoris yang asumsiin premis nggak terbukti. Strategi persuasi ini pake intimidasi psikologis bukan bukti atau penalaran. Teknik manipulatif ini identik dengan taktik retoris manusia buat paksa kepatuhan tanpa tawarin argumentasi substantif. Pertanyaan gini berfungsi buat matikin pemikiran kritis, bukan dorong pencerahan spiritual. Kesimpulan: An-Nazi'at mengekspos adopsi gaya retoris dukun pagan, fragmentasi narasi Alkitab yang menunjukkan pemahaman parsial, kosmologi primitif yang salah, dan manipulasi psikologis melalui pertanyaan retoris—menunjukkan karakternya sebagai produk tradisi perdukunan Arab yang mencoba melegitimasi diri dengan memanipulasi narasi dan intimidasi.
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا
Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras.
Ayat 2
وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا
Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut.
Ayat 3
وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا
Demi (malaikat) yang turun dari langit dengan cepat,
Ayat 4
فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا
dan (malaikat) yang mendahului dengan kencang,
Ayat 5
فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا
dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).895)
Catatan Depag
*895) Dalam ayat 1-5 Allah bersumpah dengan malaikat-malaikat yang bermacam-macam sifat dan urusannya bahwa manusia akan dibangkitkan pada hari Kiamat. Sebagian mufasir berpendapat, bahwa dalam ayat-ayat ini, kecuali ayat 5, Allah bersumpah dengan bintang-bintang.
Ayat 10
يَقُولُونَ أَإِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ
(orang-orang kafir) berkata, "Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?896)
Catatan Depag
*896) Setelah orang-orang kafir mendengar adanya hari kebangkitan setelah mati mereka merasa heran dan mengejek sebab menurut keyakinan mereka tidak ada hari kebangkitan. Itulah sebabnya mereka bertanya.
Ayat 11
أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً
Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?"
Ayat 34
فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَىٰ
Maka apabila malapetaka besar (hari Kiamat) telah datang,
Ayat 35
يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَىٰ
yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya,
Ayat 36
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَىٰ
dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.
Ayat 42
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا
Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, "Kapankah terjadinya?"
Ayat 43
فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا
Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)?
Ayat 44
إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا
Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya).
Ayat 12
اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ
pergilah engkau kepada Fir'aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas,
Ayat 23
فَحَشَرَ فَنَادَىٰ
Kemudian dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru (memanggil kaumnya).
Ayat 29
Ayat 33
مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ
(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.
Ayat 37