← Artikel

At-Tariq 86:5 · An-Nahl 16:15  ·  10 menit

Pengetahuan yang Tidak Melampaui Zamannya

At-Tariq 86:5–7 mengklaim sperma berasal dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Gunung diklaim mencegah gempa di tempat gunung justru menjadi zona gempa paling aktif. Klaim "mukjizat ilmiah" yang tidak melampaui pengetahuan yang sudah ada.

Ilustrasi editorial instrumen ilmu kuno, diagram anatomi samar, dan model gunung di meja studi

At-Tariq 86:5–7 mengajukan pertanyaan tentang asal-usul manusia, lalu menjawabnya sendiri:

"Hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada."

Sulbi adalah tulang belakang. Tara'ib adalah tulang dada atau tulang rusuk bagian depan. Ayat ini mengklaim bahwa cairan pembawa kehidupan berasal dari ruang antara keduanya.

Sperma dibuat di testis, organ yang letaknya di luar rongga tubuh, bukan di antara tulang punggung dan tulang dada. Di tempat yang disebut ayat itu tidak ada satu pun kelenjar yang mengurus keturunan. Testis justru berada di luar karena pembuatan sperma perlu suhu yang sedikit lebih rendah dari suhu di dalam tubuh.

Tapi untuk abad ke-7, letak yang disebut itu sama sekali tidak aneh. Galen, dokter Yunani abad ke-2 yang karyanya jadi rujukan kedokteran di dunia Mediterania dan Timur Tengah selama berabad-abad, berteori bahwa semen berasal dari sumsum tulang belakang. Tradisi kedokteran Hippocratic sebelumnya punya versi yang sama. Pengetahuan itu beredar luas, diajarkan, dan diterima sebagai kebenaran di wilayah yang sama tempat Al-Qur'an turun.

At-Tariq 86:5–7 sesuai betul dengan pengetahuan anatomi yang ada di abad ke-7. Bukan pengetahuan yang melampaui zamannya.

Gunung yang tidak mencegah apa pun

An-Nahl 16:15 dan Al-Anbiya 21:31 membuat klaim yang sama:

"Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu."

Sebab-akibatnya disebut terang-terangan: gunung ada supaya bumi tidak berguncang.

Geologi modern menjelaskan gunung terbentuk dari bawah: tumbukan lempeng bumi, tekanan dari dalam kerak, dan letusan gunung api. Gunung bukan pasak yang menahan bumi dari luar, melainkan hasil dari gaya yang sama yang menggerakkan lempengnya. Himalaya terbentuk karena tumbukan lempeng India dan Eurasia, dan tumbukan itulah yang menimbulkan gempa.

Peta sederhana sudah cukup untuk memeriksanya. Himalaya, Andes, dan busur kepulauan di sekitar Samudra Pasifik adalah daerah gempa paling aktif di dunia. Jepang, negara yang sebagian besar wilayahnya bergunung, mencatat ribuan gempa setiap tahun.

Kosmologi Yunani dan Mesopotamia kuno sudah menggambarkan gunung sebagai pasak atau penyangga bumi jauh sebelum abad ke-7. Al-Qur'an mengikuti gambaran yang sudah beredar, bukan mendahului pengetahuan yang baru datang belakangan.

Bintang dan yang bukan bintang

As-Saffat 37:6–10 dan Al-Mulk 67:5 memuat klaim yang identik:

"Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan telah menjadikannya alat-alat pelempar setan."

Dua surah berbeda, klaim yang sama: bintang dipakai sebagai batu lemparan untuk mengusir setan.

Bintang adalah bola gas yang di dalamnya sedang berlangsung fusi nuklir. Matahari, bintang terdekat, garis tengahnya sekitar 1,4 juta kilometer. Yang terlihat sebagai "bintang jatuh" adalah meteor, batu kecil yang terbakar di atmosfer karena gesekan. Dua benda yang sama sekali berbeda: satu raksasa di kejauhan, satu kecil dan sekejap.

Salah namanya sendiri masih bisa dimaklumi. Yang tidak, arah salahnya tidak sembarangan. Dalam kosmologi pra-Islam, semua cahaya di langit malam sering dimasukkan ke satu golongan yang sama. Al-Qur'an mewarisi golongan itu, lalu memberinya tugas: mengusir setan.

Pola yang lebih besar

Pembelaan modern tentang "mukjizat ilmiah" sering mengutip Al-Anbiya 21:30 sebagai gambaran Big Bang, atau Az-Zariyat 51:47 sebagai pernyataan bahwa alam semesta memuai.

Tidak ada penafsir klasik yang membaca ayat-ayat itu sebagai kosmologi ilmiah. Bacaan seperti itu baru muncul di abad ke-20, setelah Georges Lemaître dan Edwin Hubble sampai ke temuan mereka lewat pengamatan mereka sendiri. Selama lebih dari seribu tahun sebelumnya, ulama-ulama besar Islam membaca ayat yang sama dengan tafsir yang sama sekali berbeda.

Urutannya selalu sama: sains menemukan sesuatu, lalu ayat yang selama ini dipahami dengan cara lain tiba-tiba "sudah menyebut" temuan itu. Kalau pengetahuannya memang sudah ada di dalam Al-Qur'an sejak awal, tidak perlu menunggu ilmuwan Barat untuk menemukannya.

Sementara itu, klaim anatomis tentang sulbi dan tara'ib tidak perlu menunggu siapa pun untuk disebut salah. Cukup membuka atlas anatomi.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya