بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ طسم ١
(26:1) Ṭā Sīn Mīm.


Surat 26
الشعراۤء
Para Penyair, terdiri dari 227 ayat dan turun di Makkah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-47 setelah Al-Waqi'ah sebelum An-Naml.
Surat ini adalah kumpulan cerita lama yang didaur ulang dengan formula yang sama, diulang tujuh kali berturut-turut. Kalau dilihat secara kritis, ada beberapa masalah besar: Formula copy-paste yang ketara: Kisah Musa, Ibrahim, Nuh, Hud, Saleh, Luth, dan Syu'aib semuanya mengikuti template yang identik: rasul datang, kaum menolak, ancaman datang, azab turun. Tidak ada variasi, tidak ada sudut pandang baru. Ini bukan wahyu kreatif — ini penulis yang kehabisan ide tapi tetap harus mengisi halaman. Detail percakapan yang terlalu spesifik untuk wahyu: Dialog antara Musa dan Firaun ditulis kata per kata, padahal kejadiannya diklaim ribuan tahun sebelumnya. Tidak ada mekanisme yang bisa menjelaskan bagaimana detail seperti ini bisa diketahui secara akurat — kecuali memang dikarang. Ironi besar tentang penyair: Di bagian akhir, penyair diserang karena "mengembara di setiap lembah" dan "mengatakan apa yang tidak mereka lakukan." Tapi surat ini sendiri penuh imajinasi puitis dan klaim yang tidak bisa dibuktikan. Ini kritik yang menghantam penulisnya sendiri. Ancaman yang diulang tanpa variasi: Setiap kisah diakhiri dengan "azab hari besar" — kalimat yang sama, berulang tujuh kali. Kalau ini wahyu dari Tuhan yang mahakuasa, keterbatasan kosakata seperti ini sulit dijelaskan. Bias geografis yang bertentangan dengan klaim universal: Semua kisah terpusat di Timur Tengah, dan Al-Quran sendiri mengakui diturunkan dalam "bahasa Arab yang jelas." Kenapa Tuhan yang universal memilih satu bahasa lokal untuk pesan yang diklaim untuk seluruh umat manusia? Defensivitas yang mengakui kegagalan pesan: "Mungkin kamu akan membunuh dirimu karena mereka tidak beriman" mencerminkan frustrasi, bukan keyakinan. "Setiap wahyu baru mereka berpaling" adalah pengakuan bahwa pesannya memang tidak meyakinkan — dan itu ditulis di dalam teks yang sama yang mengklaim dirinya sebagai wahyu ilahi. Kesimpulan: Asy-Syu'ara' adalah bukti bahwa "wahyu" ini sebenarnya kompilasi cerita rakyat dengan formula yang malas, ditutup dengan ironi terbesar: menyerang penyair padahal teksnya sendiri penuh imajinasi puitis yang tidak bisa diverifikasi. Ini bukan inspirasi ilahi — ini daur ulang konten dengan klaim supernatural.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ طسم ١
(26:1) Ṭā Sīn Mīm.
تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ ٢
(26:2) Inilah ayat-ayat Kitab (Al-Qur`an) yang jelas.
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ ٣
(26:3) Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Mekkah) tidak beriman.
إِنْ نَشَأْ نُنَزِّلْ عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ آيَةً فَظَلَّتْ أَعْنَاقُهُمْ لَهَا خَاضِعِينَ ٤
(26:4) Jika Kami menghendaki, niscaya Kami turunkan kepada mereka mukjizat dari langit, yang akan membuat tengkuk mereka tunduk dengan rendah hati kepadanya.
وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنَ الرَّحْمَٰنِ مُحْدَثٍ إِلَّا كَانُوا عَنْهُ مُعْرِضِينَ ٥
(26:5) Dan setiap kali disampaikan kepada mereka suatu peringatan baru (ayat Al-Qur`an yang diturunkan) dari Tuhan Yang Maha Pengasih, mereka selalu berpaling darinya.
فَقَدْ كَذَّبُوا فَسَيَأْتِيهِمْ أَنْبَاءُ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ ٦
(26:6) Sungguh, mereka telah mendustakan (Al-Qur`an), maka kelak akan datang kepada mereka (kebenaran) berita-berita mengenai apa (azab) yang dulu mereka perolok-olokkan.
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الْأَرْضِ كَمْ أَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ ٧
(26:7) Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam (tumbuh-tumbuhan) yang baik?
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ ٨
(26:8) Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.
وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ ٩
(26:9) Dan sungguh, Tuhanmu Dialah Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang.
قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ ٩٦
(26:96) Mereka berkata sambil bertengkar di dalamnya (neraka),
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ ١٠٨
(26:108) maka bertakwalah kamu kepada Allah dan taatlah kepadaku.
إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ أَلَا تَتَّقُونَ ١٧٧
(26:177) Ketika Syu'aib berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa?
أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ ٢٠٤
(26:204) Bukankah mereka yang meminta agar azab Kami dipercepat?