Asy-Syu'ara' (Para Penyair) Ayat 221

Bacaan

TopikTentang Penyair dan Pembedaan dengan Nabi (Ayat 221-227)

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ

(26:221) Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?

Kritik

Ad hominem terhadap penyair: generalisasi bahwa penyair adalah orang sesat merupakan serangan karakter kolektif tanpa dasar.

Cacat Logika

Poisoning the well & Ad hominem - Secara proaktif mendiskreditkan kelompok oposisi dengan melabeli bahwa sumber inspirasi mereka berasal dari "setan-setan" yang turun kepada "setiap pendusta". Taktik ini mencemari reputasi lawan bahkan sebelum argumen mereka didengar.

Moral

(26:221-227): Penyair dikriminalkan secara kolektif — stigmatisasi profesi kreatif yang secara tidak langsung menutup ruang ekspresi budaya alternatif.

Kontradiksi

Ayat 221–223 menyatakan setan turun kepada 'pendusta yang berdosa' untuk menyampaikan wahyu palsu. Ini adalah argumen pertahanan diri Al-Quran (bukan dari setan). Namun kontradiksi muncul dengan peristiwa 'Gharaniq' (ayat-ayat setan): riwayat hadis sahih (diriwayatkan oleh Thabari) mencatat Muhammad pernah mengucapkan pujian terhadap al-Lata dan al-Uzza yang kemudian diklaim sebagai bisikan setan. Jika setan bisa 'menyelipkan' ucapan ke mulut nabi (Q22:52), maka jaminan bahwa Al-Quran bebas dari intervensi setan tidak absolut.