Ayat 221–223 menyatakan setan turun kepada 'pendusta yang berdosa' untuk menyampaikan wahyu palsu. Ini adalah argumen pertahanan diri Al-Quran (bukan dari setan). Namun kontradiksi muncul dengan peristiwa 'Gharaniq' (ayat-ayat setan): riwayat hadis sahih (diriwayatkan oleh Thabari) mencatat Muhammad pernah mengucapkan pujian terhadap al-Lata dan al-Uzza yang kemudian diklaim sebagai bisikan setan. Jika setan bisa 'menyelipkan' ucapan ke mulut nabi (Q22:52), maka jaminan bahwa Al-Quran bebas dari intervensi setan tidak absolut.