Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ
Apabila terjadi hari Kiamat.


Surat 56
الواقعة
Hari Kiamat, terdiri dari 96 ayat dan turun di Makkah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-46 setelah Taha sebelum Asy-Syu'ara'.
Fantasi surga khas pedagang gurun. "Surga Arab" yang bias budaya: Deskripsi surga persis fantasi pedagang gurun Arab: air mengalir, buah melimpah, bidadari cantik. Ini mencermin keinginan masyarakat tandus abad ke-7, bukan visi universal paradis ilahi. Kenikmatan yang digambarin persis yang didambain orang gurun: bayangan rindang, kasur empuk, perempuan cantik. Nyontek konsep Persia: Konsep "bidadari" (hur) adalah kopian langsung dari mitologi Zoroaster Persia yang janjiin "paric" (pendamping surgawi). Pola surga dengan taman, sungai, pendamping adalah salinan dari frasho-kereti (surga Zoroaster) yang udah ada berabad-abad sebelum Islam. Objektifikasi perempuan yang munafik: Surah ini eksploitasi tubuh perempuan sebagai hadiah surgawi sambil di dunia malah batesin peran mereka. Konsep "perawan yang belum disentuh" nunjukin objektifikasi perempuan jadi komoditas. Paradoks moral yang ngerendahin wanita jadi alat pemuasan doang. Sistem kasta surgawi yang tidak adil: Bagi manusia jadi tiga kelompok hierarkis dengan perlakuan beda nunjukin ketidakadilan fundamental. "Orang terdahulu" dapat prioritas dan kenikmatan lebih banyak dari "golongan kanan." Sistem "surga bertingkat" ini lebih mirip struktur feodal Arab kuno ketimbang keadilan universal. Kesimpulan: Al-Waqi'ah mengekspos bagaimana konsep surga dalam Al-Quran adalah proyeksi keinginan budaya Arab abad ke-7 yang mengadopsi elemen mitologi Persia, mengandung bias gender dan sistem hierarki yang mencerminkan struktur sosial manusiawi daripada visi keadilan ilahi yang universal.
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ
Apabila terjadi hari Kiamat.
Ayat 2
لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ
Terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal).
Ayat 3
خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ
(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).
Ayat 4
إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا
Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya,
Ayat 5
وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا
dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya,
Ayat 6
فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا
maka jadilah ia debu yang berterbangan,
Ayat 27
وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ
Dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu.
Ayat 28
فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ
(Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri,
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun karena umat Islam sempat merasa kagum dan berandai-andai melihat keindahan Lembah Wajj di Tha'if yang sangat subur dan memiliki pohon-pohon bidara yang lebat. Allah lalu menjanjikan pemandangan surgawi yang jauh lebih indah dan tanpa duri.
Ayat 29
Ayat 75
فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ
Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.
Asbabun Nuzul
75-82 Pada masa Rasulullah, kaum musyrik menganggap hujan turun karena bertepatan dengan rasi bintang tertentu. Mereka mengingkari hujan itusebagai rahmat yang Allah turunkan kepada manusia. Terkait hal itulahayat ini diturunkan. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
Ayat 76
Asbabun Nuzul
& 56:39-40 Ayat ini turun karena Umar bin Khattab merasa sedih dan menangis setelah mendengar ayat sebelumnya yang menyebutkan bahwa hanya "sedikit" umat akhir zaman yang selamat, sementara umat terdahulu sangat banyak. Allah kemudian menyenangkan hati umat Islam dengan menurunkan ayat baru yang menyatakan bahwa "segolongan besar" dari umat akhir zaman juga akan selamat dan masuk surga.
Ayat 14
وَقَلِيلٌ مِنَ الْآخِرِينَ
dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.
Asbabun Nuzul
& 56:39-40 Ayat ini turun karena Umar bin Khattab merasa sedih dan menangis setelah mendengar ayat sebelumnya yang menyebutkan bahwa hanya "sedikit" umat akhir zaman yang selamat, sementara umat terdahulu sangat banyak. Allah kemudian menyenangkan hati umat Islam dengan menurunkan ayat baru yang menyatakan bahwa "segolongan besar" dari umat akhir zaman juga akan selamat dan masuk surga.
Ayat 15
عَلَىٰ سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ
Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata,
Ayat 17
يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ
Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,
Ayat 19
لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُونَ
mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,
وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ
dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),
Ayat 33
لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ
yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya,
Ayat 46
وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ
dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar,
Ayat 59
Ayat 74
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.
وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ
Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui,
Ayat 79
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.
Ayat 81
أَفَبِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ
Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Qur`an)?
Ayat 82
وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ
dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya).
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun karena setelah umat Islam diberi hujan yang lebat lewat doa Nabi, ada seseorang yang mengambil air sambil berkata bahwa hujan itu turun berkat "bintang ini dan bintang itu". Allah menurunkan ayat ini untuk menegur keras mereka yang menjadikan bantahan terhadap rezeki dari Allah sebagai kebiasaan/sumber kebanggaan.