Ayat 200 menyatakan Allah 'memasukkan' sifat dusta dan ingkar ke dalam hati orang-orang berdosa. Ini bertentangan dengan neurosains kognitif: kepercayaan dan kecenderungan kognitif dibentuk oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial — bukan dimasukkan supranatural. Klaim ini juga menciptakan masalah moral: jika Allah yang menanamkan kecenderungan dusta, bagaimana manusia bertanggung jawab?