Az-Zumar 39:28 · Al-Fatihah 1:6 · 10 menit
Bahasa Arab yang Jelas
Az-Zumar menyebut Al-Qur'an sebagai kitab berbahasa Arab tanpa kebengkokan. Al-Fatihah, doa yang dibaca tujuh belas kali sehari, menggunakan kata yang bukan berasal dari bahasa Arab sama sekali.

Az-Zumar 39:28 menyebut Al-Qur'an sebagai qur'anan arabiyyan ghayra dhi 'iwajin, kitab berbahasa Arab yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Az-Zumar bukan satu-satunya. Ash-Shu'ara 26:195 memilih frasa bi lisanin arabiyyin mubin, bahasa Arab yang jelas. Yusuf 12:2 memberi alasannya: supaya kalian memahami.
Klaim ini diulang-ulang. Jelas. Tidak ambigu.
Dan kata pertama dalam doa yang dibaca tujuh belas kali sehari oleh lebih dari satu miliar orang adalah ihdina as-sirata al-mustaqim, tunjukkan kami jalan yang lurus. Kata sirat dalam doa itu bukan berasal dari bahasa Arab sama sekali.
Sirat adalah kata Latin. Strata, jalan yang diratakan. Masuk ke Arab melalui bahasa Yunani atau Aram. Satu kata pinjaman di jantung ritual harian Islam.
Dua ratus tujuh puluh lima kata
Peneliti bahasa Arthur Jeffery dalam The Foreign Vocabulary of the Quran (1938) mendata sekitar 275 kata di dalam Al-Qur'an yang datang dari bahasa lain. Tuduhannya tidak datang dari luar. Al-Suyuti sendiri, ulama abad ke-15 yang menulis Al-Itqan fi 'Ulum Al-Qur\'an, menghitung lebih dari 100 kata asing dan mencatat asal-usulnya satu per satu.
Firdaus, kata untuk surga, berasal dari kata Persia pairidaeza, taman berpagar. Masuk ke Arab melalui bahasa Yunani paradeisos, kata yang sama yang menjadi "paradise" dalam bahasa Inggris. Muncul di Al-Mu'minun 23:11 sebagai imbalan tertinggi orang beriman.
Furqan, kata untuk pembeda atau kitab suci, berasal dari Aram purqana. Muncul di Al-Furqan 25:1, nama surahnya sendiri adalah kata Aram.
Sakinah, kata untuk ketenangan ilahi, berasal dari Ibrani shekinah, istilah khusus dalam teologi Yahudi untuk kehadiran Tuhan. Muncul di Al-Baqarah 2:248 dan beberapa surah lain. Hawariyyun, kata untuk rasul-rasul Isa (Ali 'Imran 3:52), dari bahasa Etiopia hawaryat. Mishkat, lubang lampu dalam ayat cahaya yang terkenal (An-Nur 24:35), juga dari Etiopia. Malakut, kerajaan Allah (Al-An'am 6:75), dari Aram malkutha. Istabrak, kain sutra tebal di surga (Al-Kahf 18:31), dari Persia stabraq. Zanjabil, jahe minuman surga (Al-Insan 76:17), dari Persia zangabil.
Semua bahasa hadir: Aram, Ibrani, Persia, Etiopia, Yunani, Latin. Arabia abad ke-7 adalah persimpangan dagang dan budaya, dan kosakata yang dipakai penduduknya ikut menampung semua itu. Dari sudut pandang ilmu bahasa biasa, tidak ada yang aneh.
Yang aneh adalah Al-Qur'an sendiri mengklaim sebaliknya.
Kata-kata yang tidak dipahami siapa pun
Soal kosakata masih bisa dibantah dengan argumen bahwa kata-kata itu sudah terarabkan sebelum Islam. Yang lebih sulit dijelaskan adalah kata-kata yang tidak dipahami siapa pun, termasuk orang-orang yang hidup paling dekat dengan wahyu itu.
'Abasa 80 menyebut berbagai tanaman: zaitun, kurma, kebun rimbun, buah-buahan, dan dua kata lagi: qadb di ayat 28 dan 'abb di ayat 31. Keduanya muncul dalam daftar yang sama, dalam surah yang sama, dalam rangkaian yang sama, tapi tidak ada ulama yang sepakat apa artinya. Sebagian besar terjemahan modern memilih "rumput" atau "makanan ternak" untuk 'abb, dan itu perkiraan, bukan kepastian.
Kalala akibatnya lebih jauh. Kata itu muncul dua kali di An-Nisa, pada ayat 12 dan 176, keduanya dalam konteks hukum waris. Tidak ada yang tahu pasti apa yang dimaksud kalala. Apakah seseorang yang mati tanpa anak? Tanpa anak dan tanpa orang tua? Tanpa keturunan langsung sama sekali? Perdebatannya bukan sekadar urusan ruang kuliah. Batasan yang berbeda melahirkan pembagian warisan yang berbeda, dan hukum waris Islam sampai hari ini mewarisi kemenduaan itu langsung dari kitabnya.
Dan ada samad di Al-Ikhlas 112:2, surah yang katanya merangkum inti tauhid Islam, setara sepertiga Al-Qur'an menurut hadis. Allahu as-samad. Terjemahan paling umum: "Allah tempat bergantung." Tapi dalam kamus Arab klasik, samad bisa berarti padat dan tidak berongga, bisa berarti tujuan, bisa berarti yang tidak makan dan tidak tidur. Arti tepatnya masih diperdebatkan, dan yang diperdebatkan itu kata yang menerangkan sifat paling dasar Tuhan.
I'rab yang tidak sesuai kaidah
Ada lagi yang lebih teknis: kesalahan tata bahasa yang sudah ditandai orang sejak berabad-abad lalu.
Di Ta Ha 20:63, dua penyihir Firaun disebut dengan kata hadhani. Dalam kaidah Arab klasik, kata ganti dual dalam posisi objek seharusnya hadhayni. Bukan perbedaan dialek, bukan pilihan gaya. Itu kesalahan i'rab, penanda kedudukan kata yang dalam bahasa Arab muncul di bunyi akhir kata dan menentukan fungsinya di dalam kalimat.
Al-Ma'idah 5:69 menggunakan as-sabi'una dalam posisi yang seharusnya as-sabi'ina. Ali Dashti, senator Iran dan ahli bahasa Arab yang menulis Twenty Three Years, mencatat lebih dari seratus kasus seperti ini. Jawaban yang lazim dari pembela Al-Qur'an: itu qira'at yang berbeda, atau dialek yang sah. Tapi qira'at yang berbeda tidak menghapus kenyataan bahwa ada bentuk yang menyimpang dari kaidah. Dan perdebatan soal qira'at itu sendiri sudah mengakui bahwa naskahnya punya perbedaan yang perlu dijelaskan.
Al-Qurtubi, mufassir abad ke-13 yang karyanya masih jadi rujukan standar, menulis tentang huruf-huruf muqatta'at di awal 29 surah, Alif Lam Mim, Kaf Ha Ya 'Ain Sad, Ha Mim, Ya Sin, dan seterusnya: "yang benar adalah bahwa ini adalah rahasia Allah yang tidak diketahui oleh seorang pun kecuali Dia."
Ibn Abbas, sepupu Muhammad yang dianggap rujukan tafsir paling awal, berkata hal yang sama tentang Alif Lam Mim: "Allah lebih mengetahui apa yang Dia maksudkan dengan itu."
Sebuah kitab yang mengaku dirinya jelas dan tanpa kebengkokan, dan dua puluh sembilan surahnya dibuka dengan sesuatu yang pengikutnya sendiri, dari generasi pertama sampai abad ke-21, tidak bisa jelaskan.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 25 · Fussilat 41:9 · Al-Baqarah 2:29 · 9 menit
Ketika Langit Masih Asap
Al-Fussilat 41:9-12 menempatkan bumi selesai diciptakan sebelum langit dan bintang-bintang ada. Masalahnya, bumi tersusun dari unsur berat yang hanya bisa terbentuk di dalam inti bintang. Tanpa bintang lebih dulu, tidak ada bahan untuk membentuk planet sama sekali.
Artikel 03 · At-Tawbah 9:5 · An-Nisa 4:34 · 14 menit
Etika Abad Ke-7 yang Dianggap Abadi
Al-Qur'an mengklaim semua manusia setara di hadapan Allah. Di kitab yang sama ada perintah bunuh orang kafir, izin memukul istri, dan perbudakan seksual. Dua-duanya tidak bisa berdiri bersamaan.