Qurai

Surat 112

Al-Ikhlas

الإخلاص

Ikhlas, terdiri dari 4 ayat dan turun di Makkah.

Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-22 setelah An-Nas sebelum An-Najm.

Al-Ikhlas empat ayat, dan tiga di antaranya menyatakan apa yang Allah bukan. Tidak beranak dan tidak diperanakkan (ayat 3): Bacaan yang lazim menempatkan ayat ini sebagai bantahan atas Trinitas Kristen. Sasaran yang lebih dekat ada di Mekah sendiri: An-Najm 53:19 sampai 21 menyebut al-Lata, al-Uzza, dan Manat, yang oleh orang Quraisy disebut anak-anak perempuan Allah. Yang dibantah kepercayaan yang ada di kota itu, bukan rumusan konsili di Nicea. As-Samad yang tidak ada bandingannya (ayat 2): Kata as-samad cuma muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Tafsir mengisinya dengan yang dituju semua makhluk, yang tidak berongga, yang kekal, atau yang tidak memerlukan apa pun. Sifat Allah yang jadi inti surat ini sifat yang artinya tidak disepakati. Dikenali lewat penyangkalan (ayat 3 dan 4): Tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya. Tiga dari empat ayatnya menyebut apa yang tidak berlaku. Keterangan yang positif berhenti di kata ahad dan as-samad. Rumusan yang sudah ada sebelumnya: Syema Yisrael di Ulangan 6:4 menyatakan Tuhan itu esa, dan rumusan itu dibaca orang Yahudi berabad-abad sebelum Islam. Kelompok Kristen yang menolak ketuhanan Yesus juga sudah ada di kawasan itu. Rumusan keesaan bukan sesuatu yang muncul pertama kali di sini. Hadis menyebut surat ini sebanding sepertiga Al-Qur'an. Isinya empat ayat tentang satu hal.

Persentase dihitung dari bagian ayat surat ini yang punya catatan itu (4 ayat). Ketuk kartunya untuk melihat daftar ayatnya.

1-2 : Ayat 1-2: Definisi Ketuhanan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ١

(112:1) Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa.

Asbabun Nuzulmenurut Muchlis M. Hanafi

Surat ini turun ketika sekelompok orang Yahudi (serta kaum musyrikin Makkah) menantang Nabi untuk menjelaskan silsilah keturunan dan sifat spesifik Tuhan. Mereka bertanya apakah Tuhan itu terbuat dari emas, tembaga, atau perak, siapa yang Dia warisi, dan kepada siapa Dia mewariskan kekuasaan-Nya. Ayat ini turun menegaskan kemurnian sifat ke-Esaan Allah yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

3-4 : Ayat 3-4: Penolakan Antropomorfisme